Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-02-14 at 7.08.05 PM.jpeg
Pseudodon cokelatus menjadi satu spesies kerang air tawar yang baru ditemukan di Daerah Aliran Sungai di Pulau Jawa. (Sumber: Dokumen Riset)

Intinya sih...

  • Ditemukan spesies baru dan catatan baru untuk Jawa

  • Bengawan Solo dan Brantas jadi hotspot Keragaman

  • Temuan ini penting untuk menentukan prioritas konservasi habitat dasar sungai dan pemulihan kualitas air di DAS kaya spesies berpotensi memberi dampak konservasi yang besar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Pulau Jawa kini memiliki penilaian skala pulau pertama tentang kerang air tawar dengan pendekatan taksonomi dan genetika modern. Hasil riset terbaru ini bukan hanya menemukan spesies baru, tetapi juga menjadi peringatan serius tentang kondisi sungai-sungai di Jawa.

Studi yang dipublikasikan di Zoological Journal of the Linnean Society berjudul “The freshwater mussels (Bivalvia: Unionida) of Java: first island-wide assessment reveals new species, endemism, and urgent conservation needs” mengungkap adanya kekayaan hayati yang sebelumnya tersembunyi, sekaligus penurunan populasi yang mengkhawatirkan.

Penelitian dilakukan tim Indonesia-internasional melalui survei lapangan pada 2022–2023 di 66 lokasi pada 18 daerah aliran sungai (DAS). Kerang air tawar ditemukan di 42 lokasi pada 16 DAS, menghasilkan 76 catatan populasi. Identifikasi spesies diperkuat dengan analisis DNA gen COI. Spesimen disimpan sebagai koleksi ilmiah di Museum Zoologicum Bogoriense.

1. Ditemukan spesies baru dan catatan baru untuk Jawa

Proses pengambilan sampel kerang air tawar. (Dok: Periset)

Tim peneliti mengidentifikasi delapan spesies asli dan satu spesies non-asli, yakni Sinanodonta pacifica. Hal paling menonjol adalah deskripsi spesies baru untuk sains, Pseudodon cokelatus sp. nov. Selain itu, riset ini juga mencatat keberadaan Lens lugens dan Pilsbryoconcha linguaeformis untuk pertama kalinya di Jawa.

Sebaliknya, spesies Rectidens sumatrensis yang sebelumnya sering disebut dalam literatur lama, tidak ditemukan dalam penelitian ini.

“Jawa selama ini belum pernah ditinjau secara komprehensif dengan pendekatan morfologi-molekuler. Ketika data terkumpul, kami melihat dua sisi sekaligus: ada kekayaan yang sebelumnya tak terlihat, termasuk spesies baru, namun juga sinyal kuat bahwa banyak populasi telah hilang dibanding catatan historis,” ujar Alexandra Zieritz dari University of Nottingham dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/2/2026).

2. Bengawan Solo dan Brantas jadi hotspot Keragaman

ilustrasi kerang air tawar (pexels.com/Kindel Media)

Dua DAS tercatat memiliki tingkat keragaman tertinggi, yakni Bengawan Solo dan Brantas, masing-masing mencatat lima spesies. Menurut Onrizal dari Universitas Sumatera Utara yang terlibat riset itu, temuan ini penting untuk menentukan prioritas konservasi.

“Temuan ini memberi peta prioritas. Perlindungan habitat dasar sungai dan pemulihan kualitas air di DAS kaya spesies berpotensi memberi dampak konservasi yang besar,” katanya.

3. Pencemaran dan aktivitas manusia jadi ancaman utama

ilustrasi pencemaran lingkungan (pexels.com/Yogendra Singh)

Di balik penemuan spesies baru, riset ini juga menyoroti tekanan berat terhadap ekosistem sungai di Jawa. Sejumlah sungai besar seperti Citarum, Bengawan Solo, dan Brantas diketahui menanggung beban pencemaran dari limbah domestik, industri, dan pertanian.

Perubahan alur sungai, penambangan pasir, serta urbanisasi disebut berkontribusi terhadap hilangnya populasi dalam beberapa dekade terakhir.

Tim peneliti merekomendasikan langkah konkret, mulai dari pengetatan pengawasan pencemaran, pengaturan penambangan pasir di segmen sensitif, pemulihan vegetasi riparian, hingga pemantauan populasi berbasis sains secara rutin. Keterlibatan masyarakat lokal juga dinilai krusial agar upaya pemulihan sungai berjalan efektif.

Editorial Team