Kepala Sekolah SRMP 2 Sentra Bahagia Medan, Maragoti Siregar (IDN Times/Indah Permata Sari)
Sejumlah siswa mengaku betah sekolah di SRMP 2. Safitri, 15 tahun, warga Medan Perjuangan, bercerita: “Senang karena sudah memiliki teman banyak. Terkadang tergantung mood juga, terkadang sedih karena jauh dari orangtua. Perbedaannya di sini fasilitas lengkap seperti smartbox.”
Sekolah berasrama mengubah mentalnya. “Perubahan yang saya rasakan selama di Sekolah Rakyat ini, biasa saya sekolah malu-malu untuk ke depan tapi sekarang sudah mulai percaya diri,” kata Safitri yang bercita-cita jadi dokter.
Nabila Putri Aulia, 13 tahun, asal Medan Sunggal merasakan hal serupa. “Saya merasakan perubahan di sini, dulu saat sekolah malas-malasan tapi sekarang sudah rajin,” ujarnya. Ia mengaku senang tapi juga sedih karena jauh dari orangtua. “Pernah pulang saat libur.”
Diketahui, Sekolah Rakyat adalah program Kemensos untuk anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem berdasarkan DTSEN. Konsepnya berasrama penuh dengan seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara: seragam 8 jenis, sepatu 2 pasang berlogo, makan, asrama, buku, hingga peralatan mandi.
Tahun 2025, pemerintah menargetkan 100 titik Sekolah Rakyat beroperasi. Sebanyak 64 lokasi sudah kontrak kerja, termasuk Medan. Pembangunan didukung KemenPU untuk 100 sekolah dari APBN.
Guru di Sekolah Rakyat berasal dari ASN, P3K, hingga lulusan PPG yang diseleksi. Wali asuh wajib pekerja sosial tersertifikasi.
Kepindahan SRMP 2 ke Jalan Flamboyan 20 Juni 2026 menandai selesainya tahap pembangunan permanen. Kuota 75 siswa disesuaikan dengan kapasitas gedung dan asrama baru hasil pembangunan KemenPU.