Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejarah Istana Kerajaan Lima Laras Batubara: Jejak Melayu Pesisir
Istana Niat Lima Laras, Kabupaten Batubara (batubarakab.go.id)
  • Istana Niat Lima Laras dibangun tahun 1907–1912 oleh Sultan Djamaloel Alam Syah sebagai ungkapan cinta untuk permaisurinya, dengan arsitektur campuran Melayu, Eropa, dan Tionghoa.
  • Kerajaan Lima Laras mencapai masa kejayaan abad ke-18 hingga awal abad ke-20 berkat perdagangan lada hitam dan pelabuhan strategis di pesisir Selat Malaka.
  • Setelah menandatangani Korte Verklaring dengan Belanda pada 1865 dan Revolusi Sosial 1946, sistem kerajaan berakhir namun adat Melayu Lima Laras tetap hidup hingga kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
abad ke-17

Kerajaan Lima Laras didirikan sekitar abad ke-17 oleh Raja Sulung melalui penyatuan lima kampung pesisir di Batu Bara untuk memperkuat pertahanan.

tahun 1865

Kerajaan Lima Laras menandatangani Korte Verklaring dengan Belanda dan menjadi bagian dari Hindia Belanda, meski raja masih berkuasa sebagai zelfbestuur.

abad ke-18 sampai awal abad ke-20

Lima Laras mengalami masa kejayaan sebagai pusat perdagangan lada hitam, tembakau, dan hasil laut di pesisir Selat Malaka.

1907-1912

Istana Niat Lima Laras dibangun oleh Sultan Djamaloel Alam Syah untuk permaisurinya, Tengku Permaisuri Niat, dengan gaya arsitektur campuran Melayu, Eropa, dan Tionghoa.

tahun 1946

Revolusi Sosial Sumatera Timur menyebabkan berakhirnya sistem kerajaan. Istana Niat Lima Laras selamat dari serangan, namun kekuasaan politik sultan berakhir.

1981

Istana Niat Lima Laras ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dan mulai dikelola bersama oleh keturunan raja serta Pemerintah Kabupaten Batu Bara.

kini

Istana dibuka untuk wisatawan setiap hari dan tetap menjadi simbol warisan budaya Melayu pesisir di Batu Bara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Istana Niat Lima Laras merupakan peninggalan Kerajaan Lima Laras, kerajaan Melayu pesisir yang berdiri sejak abad ke-17 dan kini menjadi bangunan cagar budaya di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
  • Who?
    Istana ini dibangun oleh Sultan Djamaloel Alam Syah untuk permaisurinya, Tengku Permaisuri Niat. Saat ini dikelola oleh keturunan raja bersama Pemerintah Kabupaten Batu Bara.
  • Where?
    Bangunan bersejarah ini terletak di Jalan Istana, Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, sekitar dua jam perjalanan dari Kota Medan.
  • When?
    Pembangunan istana berlangsung antara tahun 1907 hingga 1912. Sejak tahun 1981, bangunan ini resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan dibuka untuk umum setiap hari.
  • Why?
    Sultan Djamaloel Alam Syah membangun istana tersebut sebagai ungkapan cinta kepada permaisurinya serta simbol kejayaan dan identitas budaya Melayu pesisir di masa itu.
  • How?
    Pembangunannya menggabungkan arsitektur Melayu, Eropa, dan Tionghoa dengan biaya sekitar 150.000 gulden. Kini istana dirawat sebagai destinasi wisata sejarah dan pusat pelestarian adat Melayu Lima Laras.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dulu ada lima kampung di tepi laut yang bersatu jadi satu kerajaan namanya Lima Laras. Rajanya pertama Raja Sulung. Lalu Sultan Djamaloel Alam Syah bikin istana besar warna kuning hijau buat permaisurinya, namanya Istana Niat. Dulu ramai kapal dagang datang bawa lada dan ikan. Sekarang istananya masih ada dan orang bisa berkunjung ke sana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Istana Niat Lima Laras memancarkan semangat persatuan dan cinta yang melatarinya sejak masa pendirian. Arsitekturnya yang memadukan unsur Melayu, Tionghoa, dan Eropa menunjukkan keterbukaan budaya pesisir Sumatera Utara pada zamannya. Kini, keberadaannya sebagai cagar budaya yang masih hidup menegaskan bahwa warisan sejarah dapat terus dirawat melalui tradisi, bahasa, dan seni masyarakat setempat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Di tepi Selat Malaka, berdiri kokoh satu bangunan megah berwarna kuning-hijau yaitu Istana Niat Lima Laras. Istana ini bukan cuma peninggalan, tapi saksi bisu kejayaan Kerajaan Lima Laras, salah satu kerajaan Melayu pesisir di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.

Kerajaan Lima Laras didirikan sekitar abad ke-17. Nama “Lima Laras” lahir dari sejarah penyatuan 5 kampung atau dusun yang masing-masing disebut “laras”. Kelima laras itu: Tanjung Tiram, Bogak, Sipare-pare, Lima Laras, dan Tanah Datar.

Lima kampung ini sepakat bersatu di bawah satu kepemimpinan untuk memperkuat pertahanan dari serangan bajak laut dan kerajaan lain di Selat Malaka. Raja pertama yang mempersatukan disebut Raja Sulung.

1. Istana niat lima laras dibangun untuk permaisuri

Istana Niat Lima Laras (semedan.com)

Istana yang sekarang berdiri bukan istana pertama. Istana Niat Lima Laras dibangun pada tahun 1907-1912 oleh Sultan Djamaloel Alam Syah, raja ke-12 Kerajaan Lima Laras.

Uniknya, istana ini dibangun sebagai wujud cinta Sultan kepada permaisurinya, Tengku Permaisuri Niat. Makanya dinamai “Istana Niat”. Total biaya pembangunan saat itu 150.000 gulden — angka yang sangat besar di masanya.

Arsiteknya campuran: Tionghoa, Melayu, dan Eropa. Makanya gaya bangunannya eklektik. Ada unsur Melayu pada atap limas & warna kuning, unsur Eropa di pilar & jendela kaca patri, serta sentuhan Tionghoa di ornamen kayu.

2. Masa Kejayaan pada pelabuhan dan lada hitam

Istana Niat Lima Laras, Kabupaten Batubara (batubarakab.go.id)

Abad ke-18 sampai awal abad ke-20 adalah masa emas Lima Laras. Letaknya strategis di pesisir Selat Malaka bikin kerajaan ini jadi bandar pelabuhan penting.

Komoditas utama: lada hitam, tembakau, dan hasil laut. Kapal dagang dari Penang, Singapura, sampai India rutin singgah. Pajak pelabuhan bikin kas kerajaan melimpah. Di masa inilah banyak ulama dan saudagar datang, bikin Lima Laras jadi pusat perdagangan sekaligus penyebaran Islam di pesisir Batu Bara.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Lima Laras membentang dari Sungai Tanjung Tiram sampai Sungai Suka.

3. Masuknya Belanda dan akhir Kesultanan

Istana Niat Lima Laras (semedan.com)

Tahun 1865, Kerajaan Lima Laras menandatangani Korte Verklaring dengan Belanda. Artinya kerajaan masuk jadi bagian Hindia Belanda, tapi raja tetap berkuasa sebagai zelfbestuur.

Puncaknya tahun 1946, saat Revolusi Sosial Sumatera Timur pecah. Banyak istana dan kesultanan Melayu di Sumut diserbu. Istana Niat Lima Laras selamat, tapi sistem kerajaan resmi berakhir. Sultan terakhir, Tengku Dzulkarnaen, tidak lagi memerintah secara politik.

Istana Niat Lima Laras terletak di Desa Lima Laras, Kec. Tanjung Tiram, Kab. Batu Bara, sekitar 2 jam dari Medan.

Ciri khas istana ada 2 Lantai: Lantai bawah dari beton, lantai atas dari kayu meranti pilihan. Selanjutnya, 13 Kamar: Termasuk kamar sultan, permaisuri, ruang tamu, ruang sidang. Warna: Dominan kuning-hijau, warna kebesaran Melayu dan koleksi: Singgasana, foto raja-raja, meriam, guci, dan perabot antik masih tersimpan.

Sejak 1981, istana ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Sekarang dikelola keturunan raja & Pemkab Batu Bara. Dibuka untuk wisatawan tiap hari.

Walau kerajaan sudah bubar, adat Melayu Lima Laras masih jalan. Seperti Lembaga Adat yang dipimpin ahli waris kerajaan, gelar “Datuok Setia Diraja”. Tari Persembahan: Dulu buat sambut sultan, sekarang buat sambut tamu. Upacara Adat: Perkawinan & penobatan datuk masih pakai adat Lima Laras. Bahasa: Dialek Melayu Batu Bara masih dipakai sehari-hari

Selain itu juga, ada nilai penting. Istana ini bukti bahwa pesisir timur Sumut bukan cuma punya budaya Batak. Ada jejak Melayu yang kuat, kosmopolit, dan terbuka lewat perdagangan. Arsitekturnya jadi simbol akulturasi Melayu, Tionghoa, dan Eropa di Selat Malaka.

Jadi, jika ingin main ke Batu Bara, sempatkan mampir. Dari tangga kayu istana, kamu bisa bayangin ramainya pelabuhan 100 tahun lalu, saat kapal lada bersandar dan sultan menyambut tamu dari Penang.

Istana Lima Laras berada di Jalan Istana, Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumut. Tiket masuk sekitar Rp5 ribu sampai dengan Rp10 ribu.

Editorial Team