Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejarah Bus ALS, Pelopor Rute Bus Terpanjang di Indonesia
Bus ALS masih menggunakan Chevrolet C50 pada tahun 1970-an (Foto Instagram/@busklasik)
  • Kecelakaan maut melibatkan bus ALS dan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara menewaskan 16 orang serta memicu kebakaran hebat yang viral di media sosial.
  • Didirikan tahun 1966 di Kotanopan, Sumatera Utara, PO ALS berkembang dari angkutan barang menjadi operator bus legendaris dengan rute terpanjang hingga ribuan kilometer lintas Sumatera–Jawa.
  • Popularitas ALS menginspirasi seniman Tapanuli menciptakan lagu bertema bus ini, sementara semboyan ‘Naik Sebagai Penumpang, Turun Sebagai Saudara’ menggambarkan kedekatan kru dan penumpang selama perjalanan panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Nama PO Antar Lintas Sumatera (ALS) kembali menjadi perhatian publik setelah kecelakaan maut yang melibatkan armadanya dengan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, Rabu (6/5) siang.

Insiden tersebut menewaskan 16 orang akibat kebakaran hebat yang muncul setelah tabrakan terjadi. Bahkan dalam video yang banyak beredar di media sosial, terlihat dampak dari kecelakaan tersebut sangat mengerikan.

Di balik peristiwa tragis itu, ALS sebenarnya merupakan salah satu perusahaan otobus paling legendaris di Indonesia. Perusahaan ini dikenal luas sebagai 'raja jalur lintas Sumatera' karena kiprahnya melayani rute antarkota lintas provinsi dengan perjalanan jarak jauh hingga puluhan jam.

Yuk simak, berikut sejarah berdirinya PO Bus ALS sejak 1966 hingga saat ini:


1. Sudah mengaspal sejak tahun 1966

Bus ALS saat hendak berangkat antar penumpang (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Berdasarkan dari berbagai sumber, sebelum menjalankan usahanya sebagai operator bus, PO ALS telah lebih dulu menjalankan usaha sebagai penyedia angkutan barang yang mengangkut berbagai hasil bumi kepada masyarakat.

Awalnya, PO ALS ini didirikan di Kota Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada tanggal 29 September 1966, namun kemudian ALS berpindah kantor pusat tepatnya di Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara.

PO ALS menjalani kiprahnya sebagai PO dengan melayani rute Katanopan-Medan dengan menggunakan armada bus Chevrolet C50 yang kala itu menjadi salah satu bus terlaris yang telah digunakan oleh beberapa perusahaan angkutan penumpang lainnya.

Bus buatan Amerika Serikat (AS) inilah yang menjadi cikal bakal PO ALS dalam memulai usahanya sebagai operator bus dan terus berkembang dengan upaya membuka satu demi satu rute-rute baru yang bahkan belum dijamah oleh operator bus lain.

Pada sekitar tahun 1970-an, PO ALS telah sejumlah rute-rute baru namun masih dalam sekitaran pulau Sumatera hingga Pelabuhan Bakaheuni. Rute baru tersebut diantaranya Bengkulu, Banda Aceh, Jambi, Palembang, Lampung dan Padang.

2. Trayek PO ALS hingga ke Pulau Bali

Situasi di loket bus ALS Medan (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Seiring dengan perkembangan bisnisnya, PO ALS berambisi untuk membuka trayek antar pulau yaitu Pulau Jawa. Namun saat itu, kendala dalam mengembangkan rute ke Jawa adalah keterbatasan kapal penyebrangan yang belum dapat mengangkut kendaraan besar.

Kendati demikian, sekitar tahun 1980-an, ketika kapal penyebrangan dianggap cukup mampu mengangkut kendaraan besar menjadi peluang besar bagi PO ALS untuk mewujudkan ekspansi pasar hingga ke Pulau Jawa.

Tidak tanggung-tanggung, PO ini langsung membuka rute dari ujung Sumatera hingga ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya hingga ke Jember. Hal inilah yang membuat PO ALS dinobatkan sebagai PO dengan rute terpanjang di Indonesia.

Bahkan, jarak yang ditempuh oleh sejumlah armada bus PO ALS dari Sumatera hingga ke ujung Pulau Jawa bisa mencapai sekitar 2.920 km dengan waktu tempuh yang dapat mencapai tujuh hari atau seminggu perjalanan.

Menariknya lagi, PO ALS juga sempat membuka trayek terjauh hingga ke pulau Bali, namun pada tahun 2003, trayek tersebut harus ditutup mengingat waktu dan jarak tempuh yang sangat jauh ditambah dengan kondisi mesin bus-nya yang kurang memadai.

Seiring dengan perkembangannya, pada masa jaya angkutan bus jarak jauh seperti PO ALS, ribuan kilometer jalan raya lintas Sumatera baik lintas timur maupun lintas tengah diramaikan oleh ribuan bus yang dikelola oleh ratusan operator bus.

PO ALS sendiri dengan jumlah armadanya yang kini mencapai lebih dari 400 unit bus merupakan raja jalanan di jalur lintas Sumatera bersama PMTOH dari Aceh, ANS dan NPM dari Sumatera Barat, serta Gumarang Jaya dari Lampung.

3. Pernah jadi judul lagu musisi asal Tapanuli

Bus ALS (dok. ALS)

Dengan popularitasnya yang telah mencapai setengah abad, ciri khas bus PO ALS sendiri mudah diketahui oleh masyarakat, dimana bus ini terkenal dengan membawa paket yang berada diatas bus. Berbagai macam barang bisa dibawa oleh bus ini dengan tarif tertentu.

Sebagai salah satu perusahaan otobus tertua dan terkemuka di Indonesia, ALS sudah dikenal oleh banyak kalangan Tak jarang ada orang-orang yang mengekspresikan perasaan mereka dengan tema bus ini, atau mengambil latar belakang dari bus ini.

Salah satu personil trio dari Tapanuli Utara bernama Bonardo Trio pernah mempopulerkan sebuah lagu dengan judul ‘Di Loket Ni ALS’ (di Loket ALS). Tak hanya itu, seniman asal Mandailing Natal, Maryati br Lubis juga pernah membawakan lagu bertemakan bus ALS.

‘Naik Sebagai Penumpang, Turun Sebagai Saudara’, ungkapan tersebut juga sangat familiar di kalangan pecinta dan pelanggan setia ALS. Dimana, jarak tempuh yang jauh dan waktu tempuh yang tidak sebentar membuat kru harus membersamai penumpang setiap saat.

Dari sinilah banyak para penumpang yang mengenali para kru bus ALS, bahkan para penumpang tersebut menjadi langganan dan kenal dekat seperti saudara sendiri karena memang akan selalu bersama selama perjalanan panjang, meskipun baru kenal.


Editorial Team