Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejak PLTU Batu Bara Ada, Semua Tak Pernah Lagi Sama
PT PLN Indonesia Power UBP PLTU Pangkalan Susu (Dok. IDN Times)
  • Sejak PLTU Batu Bara Pangkalan Susu beroperasi, warga di lima desa sekitar mengalami penurunan kesehatan, pencemaran lingkungan, serta kerugian ekonomi bagi petani, nelayan, dan petambak udang.

  • Komisi XII DPR RI menindaklanjuti aduan 914 warga dengan meminta PLN dan Kementerian Lingkungan Hidup mengusut dugaan pelanggaran pengelolaan limbah B3 serta memperketat pengawasan seluruh PLTU di Indonesia.

  • Yayasan Srikandi Lestari dan Green Justice Indonesia mendorong transisi energi berkeadilan berbasis maqaṣid syariah agar peralihan ke energi bersih tidak menambah korban kesehatan maupun kehilangan mata pencaharian.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2017

PLTU Batu Bara Pangkalan Susu berdiri di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Sejak saat itu warga sekitar mulai merasakan dampak lingkungan dan kesehatan.

2017

Yayasan Srikandi Lestari (YSL) mulai mendampingi warga Lubuk Kertang yang terdampak PLTU, memberikan edukasi dan advokasi terkait masalah lingkungan.

2019

YSL mencatat sejak tahun ini hingga sekarang sekitar 3.500 warga Pangkalan Susu mengalami gangguan kesehatan seperti ISPA akut dan kanker akibat pencemaran udara dari PLTU.

2022

Kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP) diluncurkan pada G20 Bali untuk mempercepat transisi energi Indonesia dari batu bara ke energi terbarukan.

2 April 2026

Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke PLTU Pangkalan Susu untuk menindaklanjuti aduan warga terkait pencemaran dan gangguan kesehatan akibat limbah B3.

2030

Sesuai komitmen JETP, PLTU Pangkalan Susu dijadwalkan akan dipensiunkan sebagai bagian dari transisi energi nasional.

kini

Warga lima desa sekitar PLTU masih mengalami dampak kesehatan dan ekonomi. YSL bersama Green Justice Indonesia terus mendorong kebijakan transisi energi berkeadilan di Sumatra Utara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Warga di sekitar PLTU Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, melaporkan dampak kesehatan dan kerusakan lingkungan akibat operasional pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara yang dikelola PT PLN Indonesia Power.
  • Who?
    Masyarakat Desa Lubuk Kertang dan sekitarnya, termasuk Mita Lumban Gaol dan Nurhayati; Yayasan Srikandi Lestari (YSL); Komisi XII DPR RI; serta PT PLN Indonesia Power UBP Pangkalan Susu.
  • Where?
    Di wilayah sekitar PLTU Pangkalan Susu, Kecamatan Brandan Barat dan Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatra Utara.
  • When?
    Dampak mulai dirasakan sejak PLTU beroperasi pada tahun 2017. Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke lokasi pada 2 April 2026 untuk menindaklanjuti laporan warga.
  • Why?
    Warga menduga pencemaran udara, air laut, serta penggunaan limbah FABA dari pembakaran batu bara menyebabkan gangguan kesehatan, penurunan hasil tambak dan pertanian, serta kerusakan ekosistem mangrove.
  • How?
    Limbah FABA digunakan sebagai tanah timbun di permukiman dan sekolah; asap pembakaran batu bara mencemari udara; pembuangan limbah ke laut memengaruhi kualitas air sehingga berdampak pada kesehatan dan mata pencaharian warga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada ibu namanya Mita yang sering batuk sejak ada pabrik listrik besar pakai batu hitam di kampungnya. Banyak orang juga sakit kulit dan susah kerja karena laut dan udara kotor. Ada ibu lain, Hayati, bilang padinya jadi jelek dan panas makin tinggi. Sekarang banyak orang mengadu ke orang penting di Jakarta supaya pabrik itu diperiksa dan kampung mereka bisa sehat lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Suara batuk memecah keheningan sore di rumah bercat hijau yang berada di Dusun III Tepi Gandu, Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Batuk yang bertubi-tubi itu datang dari seorang perempuan yang tengah tidur di lantai keramik putih ruang tamu. Bahkan saat matanya terpejam, batuk terus menemani dan terdengar hingga ke luar rumah.

Begitu IDN Times mengetuk pintu dan mengucapkan salam, ia langsung terjaga. Bergegas ia membuka pintu dan mempersilakan IDN Times duduk di ruang tamu.

Ini adalah rumah Mita Lumban Gaol, perempuan 60 tahun yang sudah hampir 30 tahun tinggal di Dusun III Tepi Gandu, Desa Lubuk Kertang, Brandan Barat. Mita dan suami dulu rela pindah dari Kota Sibolga ke Lubuk Kertang demi pekerjaan  Budidaya Tambak Udang yang menjanjikan. Rumah dan ladang beberapa rante berhasil mereka beli.

Namun pada 2017, ketika Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis Batubara Pangkalan Susu berdiri, semuanya berubah tak lagi sama. PLTU yang dimaksud Mita adalah PLTU Pangkalan Susu Kabupaten Langkat yang dikelola oleh PT PLN Indonesia Power (PT PLN Indonesia Power UBP Pangkalan Susu).

Puluhan pengusaha tambang udang sekitar PLTU gulung tikar karena hasil panen selalu menurun dari tahun ke tahun. Mita dan suami terkena dampak langsung: suami kehilangan pekerjaan di usia pra-lansia, kesehatan Mita juga menurun karena mengalami batuk berkepanjangan.

“Sudah sekitar 6 tahun lah ini batuk-batuk begini terus. Berobat, sembuh sebentar, batuk lagi. Begitu terus,” ungkap Mita membuka percakapan.

Tak hanya Mita, cucunya juga kena dampak penyakit kulit berkepanjangan. Diduga penyebabnya adalah limbah batu bara bekas bahan bakar utama PLTU biasa disebut Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dijadikan tanah timbun di sekolah cucunya. Jika musim panas debu FABA berterbangan, terutama saat upacara di halaman sekolah maka debu dari FABA semakin parah.

“Jadi warga di sini semua pakai FABA untuk tanah timbun, lihat di pinggir-pinggir jalan itu kalau ada tanah timbun warna cokelat itu FABA. Gratis memang dikasih perusahaan, hanya bayar ongkos mobil angkut. Itu kalau sudah musim panas abu FABA beterbangan, kan partikelnya sangat kecil, itu mungkin membuat batuk dan sakit kulit. Karena sejak dulu kami tinggal di sini gak pernah ada penyakit seperti ini, baru ada setelah PLTU berdiri,” ungkapnya.

Warga di sekitar PT PLN Indonesia Power UBP PLTU Pangkalan Susu mengalami penyakit kulit (Dok. IDN Times)

Usai tambak udang milik toke gulung tikar, suami Mita mencoba survive dengan membuka kolam budidaya tambak udang sendiri. Pengalaman dan keahlian selama puluhan tahun bekerja di tambak udang ia praktikkan. Namun tak pernah berhasil.

“Tambak udang itu harus pakai air laut, sekarang air lautnya tidak seperti dulu karena PLTU kan membuang limbahnya ke laut. Jadi udang itu gak bisa besar, rugi setiap panen. Tapi kami mau apa lagi coba udah umur segini, terpaksa kami pertahankan terus tambak itu walaupun rugi,” keluhnya.

Selain itu, sejak ada PLTU, Mita merasa suhu udara di kampungnya semakin panas. Siang malam terasa gerah, udara terasa tak bersih lagi.

Nurhayati, warga Desa Pintu Air Kecamatan Pangkalan Susu merasakan hal yang sama seperti Mita. Selain berdampak pada kesehatan, mata pencaharian warga sekitar PLTU paling terpukul. Petani, nelayan, dan petambak udang semua kini terhimpit ekonomi.

“Dari awal PLTU itu nelayan paling terasa, ikan makin susah didapat. Dulu ada puluhan nelayan di sini sekarang dijual sampannya. Yang tersisa hanya beberapa yang sampannya besar-besar bisa cari ikan jauh ke tengah laut,” katanya Hayati.

Perempuan 37 tahun yang menggantungkan hidup dari bertani ini bercerita sawah padi miliknya juga terkena dampak. Cuaca yang makin panas bikin hama makin banyak, ukuran padi makin menyusut, musim tanam bergantung pada musim hujan yang tidak menentu.

“Jadi setiap tahun itu hasil panen padi gak bisa meningkat. Dulu musim tanam bisa dua kali setahun, sekarang bisa satu kali panen saja sudah syukur, karena bergantung hujan. Selain itu karena panas dan udara yang mungkin ga bersih seperti dulu padi harus makin sering disemprot pestisida dan dipupuk. Hasil panen segitu-segitu aja memang, tapi biaya tanam dan merawatnya makin tinggi, jadi ga pernah untung, pas-pasan hasilnya,” jelas ibu 2 anak ini.

Yang paling mencengangkan, tambah Hayati, setiap tahun makin banyak warga mengalami penyakit yang aneh dan mematikan. Kanker paru, jantung, sinus, kelenjar di tenggorokan, infeksi saluran pernapasan, dan lainnya.

“Dulu gak pernah ada penyakit-penyakit seperti itu, sekarang banyak sekali yang muda-muda kena penyakit parah dan meninggal muda. Anak saya aja masih 9 tahun sudah kena sinus. Selalu saya ingatkan pakai masker kalau keluar rumah, tapi ga pernah didengar,” ujarnya kesal.

Hayati berandai-andai, jika tahu PLTU berbasis Batu Bara ini membawa banyak mudarat bagi warga di 5 desa sekitar PLTU, ia yakin semua warga anak menolaknya. Kini warga di 5 desa sekitar PLTU seperti makan buah simalakama. Mengadu kepada aparatur desa, alih-alih dapat solusi malah diminta memaklumi. Mau melawan, PLTU sudah kadung berdiri tak mungkin bisa angkat kaki lagi.

“Dulu kita dijanjikan perusahaan akan menguntungkan, warga sini bisa kerja di PLTU, tapi kenyataannya gak begitu, yang bisa kerja cuma keluarga-keluarga perangkat desa aja. Sekarang kita mengadu sakit ke perangkat desa malah disuruh buktikan bahwa sakitnya memang disebabkan oleh PLTU. Dulu pernah ada pemeriksaan kesehatan dari USU, diambil sampel rambut dan lain-lain, sampai hari ini sudah bertahun-tahun kami ga pernah tahu hasilnya,” bebernya kesal.

Anak-anak di sekitar PT PLN Indonesia Power UBP PLTU Pangkalan Susu mengalami sesak napas (Dok. IDN Times)

Tak hanya Mita dan Hayati, ternyata ada 912 warga lainnya yang terdampak dan dirugikan oleh keberadaan PLTU Pangkalan Susu. Keluhan 914 warga desa di sekitar PLTU tak disangka sudah sampai ke meja Komisi XII DPR RI.

Anggota Komisi XII DPR RI, Ade Jona Prasetyo mengatakan ia menerima aduan dari warga di sekitar wilayah PLTU Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara terkait keluhan gangguan kesehatan seperti gangguan pernapasan, gatal-gatal, dan penyakit lainnya akibat pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3 yang tidak sesuai aturan lingkungan dari PLTU.

Pada 2 April 2026,  Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan Kerja Masa Spesifik ke PLTU Pangkalan Susu, Langkat, Sumatra Utara. Mereka meminta PT PLN dan Indonesia Power mengusut tuntas persoalan ini.

“Terdampak seperti petani, karena pencemaran udaranya, kemudian di sana masyarakat sebagian nelayan terdampak mata pencahariannya. Makanya kami meminta Kementerian Lingkungan Hidup untuk menginvestigasi PLTU tersebut,” katanya.

Anggota Komisi XII DPR RI, Rocky Candra, menegaskan pentingnya keseimbangan antara keandalan pasokan listrik nasional dan perlindungan lingkungan hidup. Ia menekankan bahwa penyediaan energi listrik harus berjalan andal dan efisien, namun tetap menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan serta perlindungan lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa operasional PLTU berbasis batu bara juga menghadirkan tantangan besar, terutama dalam pengelolaan dampak lingkungan. Tingginya konsumsi batu bara dan karakteristik pembangkitan yang intensif emisi menuntut pengendalian ketat terhadap pencemaran udara, air, serta pengelolaan limbah seperti fly ash dan bottom ash (FABA).

“Komisi XII DPR RI akan meminta Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia untuk meningkatkan pengawasan terhadap kinerja lingkungan seluruh PLTU di Indonesia. Langkah ini dinilai krusial guna memastikan operasional pembangkit tetap sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan,” jelasnya.

Pindah atau Mati?

Direktur Yayasan Srikandi Lestari (YSL), Mimi Surbakti (Dok. Pribadi)

Adalah Yayasan Srikandi Lestari (YSL) yang membuat warga sekitar PLTU Pangkalan Susu berani berbicara lantang menyuarakan penderitaannya hingga berhasil terdengar hingga ke meja wakil rakyat di senayan. Sejak tahun 2017, organisasi masyarakat sipil (CSO) ini sudah mendengar tentang keluhan warga Lubuk Kertang tentang dampak yang dirasakan atas kehadiran PLTU.

Secara konsisten YSL di bawah pimpinan direktur Sumiati Surbakti terus mendampingi masyarakat, mengedukasi, mendengarkan keluhan, dan sebisa mungkin mencarikan solusi agar warga bisa bertahan hidup di bawah kepungan asap limbah PLTU.

Selama hampir satu dekade mendampingi warga Pangkalan Susu, YSL menemukan sejak tahun 2019 hingga sekarang, sudah sekitar 3.500 masyarakat di Pangkalan Susu yang mengeluhkan gangguan kesehatan, termasuk penyakit berat seperti ISPA akut dan berbagai jenis Kanker, diduga karena kualitas lingkungan yang buruk. Penderitanya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Ada juga yang mengalami batuk berdahak kronis dan iritasi kronis saluran pernapasan. Beberapa warga mengalami muntah-muntah. Dari rekam medis, indikasi gangguan pernapasan serta pencernaan, dugaan karena pencemaran udara dari asap pembakaran batubara.

Mereka juga menemukan masyarakat yang mengalami gangguan penyakit kulit seperti gatal-gatal. Penyakit ini menahun. Walau sudah pernah tertangani dan berobat ke dokter kulit, namun sulit sembuh. Ada pula yang mengalami pembengkakan atau benjolan pada bagian tubuh tertentu dan penyakit kronis lain, seperti batu ginjal.

“Kalau kita bilang Pangkalan Susu ini mendekati bencana kemanusiaan, karena udah hampir rata-rata  mereka sakit karena kelenjar, kanker dan lain sebagainya. Beberapa orang yang meninggal karena paru hitam. Dalam catatan kami ada dua orang yang meninggal karena paru hitam. Itu jelas loh kalau paru hitam bukan karena siapa-siapa lagi, karena polusi. Jadi pertanyaannya kan  di Pangkalan Susu ini  Ada industri apa sih? Kok polusinya segitu parahnya?,” beber Mimi.

Sebanyak 145 hektare hutan mangrove juga telah hilang, yang mengakibatkan terjadinya banjir rob dan menyebabkan kerusakan pada kawasan permukiman sekitar serta lahan persawahan. Semenjak pembangunan PLTU Pangkalan Susu, penghasilan nelayan dan petani menurun secara ekponensial hingga mencapai 70 persen, bahkan 600 orang nelayan harus kehilangan mata pencahariannya akibat merosotnya hasil laut.

“Ada ketidakadilan di sini. Kalau aku bilang negara berusaha mencerabut mereka dari akar, karena lambat laun mereka ini akan pindah. Jadi pertarungannya, kalau enggak pindah ya mati,” tegasnya.

Mimi mengingatkan, jika pemerintah tidak takut dan tidak peduli terhadap warganya, setidaknya Negara patuh pada Just Energy Transition Partnership (JETP) yang sudah diteken dengan berbagai negara. JETP adalah kemitraan pendanaan internasional senilai 20 miliar AS atau sekitar Rp330 triliun yang diluncurkan pada G20 Bali 2022 untuk mempercepat transisi energi Indonesia dari bahan bakar fosil (batu bara) ke energi terbarukan.

Kemitraan ini bertujuan mendukung pembangunan ekonomi rendah karbon yang adil bagi pekerja dan masyarakat.

“Negara mengatakan bahwa kita dalam posisi menghadapi krisis iklim, janjinya tahun 2040 atau 2050 Indonesia sudah bersih dari PLTU Batu Bara. Waktu itu kita ada pinjaman dana dari Amerika dan Jepang yang namanya JETP. Dana itu kan untuk mempercepat transisi energy Indonesia dari bahan bakar fossil, salah satunya memensiun-dinikan PLTU Batu Bara. Uang sudah diterima tapi tak satupun PLTU yang dipensiunkan,” katanya.

Menurutnya PLTU Pangkalan Susu itu masuk daftar pensiun dini tapi pemerintah terlihat tidak serius dalam menghadapi persoalan iklim ini. Sesuai JETP, PLTU Pangkalan Susu akan dipensiunkan pada 2030.

“Alih-alih mau pensiun, Adik Pak Presiden Prabowo, Hashim mengatakan bahwa enggak ada pensiun-pensiun dini PLTU. Jadi solusi palsu lah yang ditawarkan (dalam JETP). Katanya Co-firing itu dari bahan bakar sampah. Yakin enggak kalau sampah kita sebenarnya lebih banyak sampah plastik ketimbang sampah organic? Tahu enggak kalau sampah plastik mengandung merkuri, rakyat juga yang diracuni,” jelasnya.

Sumut memiliki peluang besar menjadi model transisi energi berbasis nilai-nilai Islam

Rencana kerja JETP (Dok. Policy Brief Indonesia Research Institute for Decarbonization atau IRID)

YSL bersama CSO lain seperti Green Justice Indonesia (GJI) menerbitkan menggelar lokakarya serta meluncurkan Policy Brief bertajuk Transisi Energi Berkeadilan di Sumatra Utara: Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah, dan Mitigasi Perubahan Iklim Indonesia pada Desember 2025.

Lewat Lokakarya dan Policy Brief ini YSL dan GJI ingin memperkuat kerangka Transisi Energi Berkeadilan di Sumatra Utara dengan menggabungkan perspektif fikih–maqaṣid alsyari’ah.

“Fokus utama adalah memastikan peralihan dari energi fosil menuju energi bersih tidak menciptakan korban baru, baik pada kesehatan, mata pencaharian, maupun hak masyarakat,” ujar Mimi.

Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo dalam Policy Brief itu beberapa rekomendasi yang disampaikan untuk pemerintah, komunitas, dan industri maupun BUMN.

Rekomendasi untuk pemerintah di antarnya adalah agar menyusun peta jalan transisi energi berkeadilan berbasis maqaṣid syariah, mengoptimalkan mikrohidro, dan surya sebagai prioritas energi bersih, serta membentuk Dewan Transisi Energi Berbasis Syariah bekerja sama dengan MUI dan ormas Islam.

“Untuk Industri dan BUMN, kita memberikan rekomendasi mendorong dekarbonisasi operasional industri. Mengimplementasikan ESG berbasis prinsip syariah. Menyusun rencana transisi pekerja (reskilling–upskilling) dan perlindungan sosial bagi rantai pasok yang bergantung pada PLTU/industri fosil; libatkan serikat buruh dan pemerintah daerah. Kita ini memastikan keterbukaan data lingkungan dan kesehatan (emisi, limbah, suhu buangan) serta respon cepat atas keluhan warga, serta mendukung pemantauan independen,” ungkap Panut.

Selain itu ada, tambah Panut, ada beberapa kesimpulan yang dituangkan dalam Policy Brief ini:

  1. Pertama, Transisi energi berkeadilan di Sumut bukan sekadar mandat nasional, tetapi peluang strategis untuk membangun ekonomi hijau berkeadilan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

  2. Kedua, transisi energi berkeadilan di Sumatra Utara juga menjadi kewajiban moral dan religius. Fiqh dan maqaṣid alsyari'ah memberikan landasan kuat untuk mendorong perubahan menuju energi bersih, adil, dan berkelanjutan.

  3. Ketiga, Sumatra Utara memiliki peluang besar menjadi model transisi energi berbasis nilai-nilai Islam dan kontribusi signifikan terhadap pencapaian NDC Indonesia. Selanjutnya, dengan kebijakan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, Sumut dapat menjadi provinsi percontohan transisi energi Indonesia.

“Yang harus diingat, saat ini Sumatra Utara tidak sedang mengalami krisis energi. Sumut memiliki potensi campuran sumber energi. Geothermal, hidro, biomassa, dan surya, memiliki potensi besar untuk mempercepat transisi energi sekaligus menjaga keadilan sosial bagi masyarakat rentan, termasuk pekerja, masyarakat adat, dan kelompok ekonomi lemah, sekaligus mempercepat penurunan emisi gas rumah kaca,” terangnya.(*)

 

Editorial Team