Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Saat Banjir Produksi Sampah di Medan Capai 7 Ribu Ton Perhari
Wali Kota Medan, Rico Waas saat menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta (Dok. Diskominfo Medan)
  • Produksi sampah di Medan mencapai 1.300–1.500 ton per hari dan melonjak hingga 7.000 ton saat banjir, menimbulkan ancaman serius bagi kapasitas TPA Terjun yang hampir penuh.
  • Pemko Medan menyiapkan lahan 5 hektare untuk proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dan mendorong gerakan gotong royong warga guna mengatasi titik-titik sampah kritis.
  • Kunjungan Komisi D DPRD DKI Jakarta menyoroti tantangan pengelolaan sampah di kedua kota serta pentingnya kolaborasi antar daerah dalam mencari solusi berkelanjutan untuk masalah lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
November lalu

Banjir melanda Kota Medan dan menyebabkan produksi sampah meningkat hingga 7.000 ton per hari karena banyaknya barang rusak.

1 April 2026

Wali Kota Medan Rico Waas menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD DKI Jakarta di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan dan memaparkan kondisi pengelolaan sampah kota.

2029

Rico Waas memperkirakan TPA Terjun akan mengalami overload jika tidak segera diatasi.

kini

Produksi sampah di Kota Medan berkisar antara 1.300 hingga 1.500 ton per hari, dengan program gotong royong rutin dan rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik sedang disiapkan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Produksi sampah di Kota Medan meningkat tajam hingga mencapai sekitar 7.000 ton per hari saat terjadi banjir, jauh di atas rata-rata harian normal sekitar 1.300–1.500 ton.
  • Who?
    Wali Kota Medan Rico Waas bersama jajaran Pemko Medan menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD DKI Jakarta yang dipimpin Yuke Yurike untuk membahas pengelolaan sampah.
  • Where?
    Pertemuan berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan, sementara lokasi utama pengelolaan sampah berada di TPA Terjun, Kota Medan, Sumatera Utara.
  • When?
    Kegiatan dan pernyataan berlangsung pada Rabu, 1 April 2026, dengan data peningkatan volume sampah merujuk pada kejadian banjir November sebelumnya.
  • Why?
    Peningkatan volume sampah terjadi akibat banyaknya barang rusak saat banjir serta keterbatasan kapasitas TPA Terjun yang hampir penuh dan berpotensi overload pada 2029.
  • How?
    Pemko Medan menyiapkan lahan lima hektare untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik dan menjalankan program gotong royong rutin guna mengurangi timbunan sampah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Kota Medan banyak sekali sampah, apalagi waktu banjir bisa sampai tujuh ribu ton sehari karena banyak barang rusak. Wali Kota Medan namanya Pak Rico bilang tempat buang sampahnya hampir penuh dan nanti bisa tidak muat lagi. Sekarang mereka mau bikin tempat baru buat olah sampah jadi listrik supaya kota tetap bersih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah tantangan besar pengelolaan sampah, langkah-langkah yang diambil Pemko Medan menunjukkan semangat kolaboratif dan inovatif. Melalui program gotong royong rutin serta rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik, pemerintah kota tidak hanya berfokus pada penanganan masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang efisiensi energi dan kerja sama antar daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Kota Medan memiliki luas wilayah sekitar 265 kilometer persegi dan jumlah penduduk mencapai 2,5 juta jiwa pada malam hari, dan meningkat hingga 4 juta jiwa pada siang hari, tantangan pengelolaan sampah di Kota Medan menjadi cukup besar.

Wali Kota Medan, Rico Waas mengungkapkan bahwa produksi sampah di Kota Medan saat ini berkisar antara 1.300 hingga 1.500 ton per hari. Angka tersebut bahkan meningkat signifikan saat terjadi bencana, seperti banjir yang melanda pada November lalu.

Namun, ketika banjir, produksi sampah bisa meningkat hingga 3.000 ton per hari, bahkan sempat mencapai 7.000 ton dalam sehari karena banyaknya barang rusak yang menjadi sampah.

1. Kota Medan memiliki satu TPA dengan luas sekitar 14 hektare

Wali Kota Medan, Rico Waas saat menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta (Dok. Diskominfo Medan)

Rico menjelaskan saat ini Kota Medan hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir (TPA), yakni TPA Terjun, dengan luas sekitar 14 hektare. Dari total area tersebut, hanya tersisa sekitar 2 hingga 3 hektare yang belum terisi, sementara timbunan sampah telah mencapai sekitar 600.000 ton.

“Kalau ini tidak segera diatasi, diperkirakan pada 2029 TPA Terjun akan mengalami overload. Ini tentu menjadi ancaman serius bagi lingkungan,” katanya saat menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan, pada Rabu (1/4/2026).

Turut mendampingi Wali Kota menerima anggota dewan yang dipimpin Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike itu antara lain Asisten Ekbang Setdako Medan Citra Effendi Capah, Kepala Bappeda Ferry Ichsan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Melvi Marlabayana, dan Kadis Perkimcikataru John Ester Lase.

Dia juga menegaskan penanganan sampah menjadi fokus utama Pemko Medan.

Dalam pertemuan ini Rico Waas menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut, sekaligus memaparkan kondisi Kota Medan sebagai kota terbesar di bagian barat Indonesia dengan tingkat kompleksitas yang tinggi.

“Atas nama Pemerintah Kota Medan, kami mengucapkan selamat datang. Terima kasih atas kunjungan Bapak dan Ibu untuk melihat langsung kondisi Kota Medan,” kata Rico Waas.

2. Pemko Medan telah menyiapkan lahan sekitar 5 hektare untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah dan pembangkit listrik

Wali Kota Medan, Rico Waas saat menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta (Dok. Diskominfo Medan)

Sebagai langkah awal, Pemko Medan terus mendorong gerakan kebersihan berbasis masyarakat, seperti program gotong royong rutin “Sapa Warga” setiap Minggu, serta “Gotong Royong Raya” yang melibatkan sekitar 3.000 personel dari 21 kecamatan untuk menangani titik-titik sampah kritis.

Di sisi lain, Rico Waas menyebutkan bahwa Kota Medan telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 kota di Indonesia yang mendapatkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

“Kami sudah menyiapkan lahan sekitar 5 hektare untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah sekaligus pembangkit listrik. Nantinya energi yang dihasilkan akan dijual ke PLN,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa pembangunan fasilitas pengolahan sampah membutuhkan biaya besar. Berdasarkan studi banding ke Jakarta, pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) dapat mencapai Rp1,7 triliun.

“Dengan APBD Kota Medan sekitar Rp7 triliun, tentu ini sangat berat jika hanya mengandalkan anggaran daerah. Karena itu, dukungan pemerintah pusat sangat kami harapkan,” ungkapnya.

3. Persoalan sampah juga menjadi tantangan besar di Jakarta

Wali Kota Medan, Rico Waas saat menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta (Dok. Diskominfo Medan)

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengatakan bahwa persoalan sampah juga menjadi tantangan besar di Jakarta, meskipun didukung anggaran yang sangat besar.

“Dengan anggaran yang besar pun, persoalan sampah masih menjadi darurat. Bahkan kejadian longsor di tempat pengolahan sampah yang menelan korban jiwa menjadi perhatian serius bagi kami,” ujarnya.

Dia menilai, pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari pengurangan di hulu hingga pengolahan di hilir. Namun, tantangan terbesar tetap pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah.

“Yang paling sulit itu memilah sampah dari sumbernya. Ini yang terus kami dorong, termasuk melalui regulasi dan sosialisasi,” katanya.

Yuke berharap, kunjungan kerja ini menjadi momentum untuk saling berbagi pengalaman dan mencari solusi bersama dalam mengatasi persoalan sampah di daerah masing-masing.

Rico Waas menambahkan, Pemko Medan juga terus berupaya menambah ketersediaan lahan guna mendukung pengelolaan sampah jangka panjang.

Dia berharap, kunjungan kerja ini dapat memperkuat sinergi antar daerah dalam mencari solusi atas persoalan lingkungan yang dihadapi bersama.

“Komunikasi dan kolaborasi antar daerah, baik eksekutif maupun legislatif, sangat penting. Karena pada akhirnya, tujuan kita sama, yakni memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” pungkasnya.

Editorial Team