“Memang sedih bulan puasa ini, Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,”
Nursiah, 51, penyintas banjir Aceh
Selepas Zuhur, Nursiah kembali menyibukkan diri di dalam rumah. Menyusun pinggan, belanga, cangkir yang baru selesai dicucinya. Memilah sayuran yang baru saja diterimanya dari para relawan bencana.
Sehari sebelum Ramadan tiba, Nursiah masih bertahan di dalam rumahnya. Bersama suami, anak dan beberapa cucunya.
Rumah Nursiah tak luput dimakan bandang saat bahala 26 November 2025 lalu. Sekumur, desa di Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, tempat Nursiah tinggal, kini tinggal cerita. Sebanyak 175 Kepala Keluarga (KK) tidak memiliki hunian. Sama seperti Nursiah, warga membangun kembali bangunan yang tersisa, menjadi tempat untuk berlindung dari panas dan hujan.
Tawa yang tadinya pecah ringan patah menjadi suara yang parau. Mata Nursiah langsung berkaca-kaca kala kembali mengingat kondisi rumahnya yang belum pulih dari bencana. Kesedihan Nursiah bercampur dengan Rindu dengan Ramadan tahun – tahun sebelum bahala. Saat rumah mereka masih utuh dinding dan atapnya.
“Yang paling saya rindukan itu yah rumah. Ini lihatlah kondisinya masih begini,” ujar Nursiah sambil menunjuk atap rumahnya.
Kesedihannya pun semakin menjadi. Sehari sebelumnya, hujan mengguyur Sekumur disertai angin. Atap – atap yang memanfaatkan seng bekas bocor. Nursiah hanya bisa berdoa dan pasrah saat hujan. Dia juga sempat khawatir, air kembali naik dari sungai.
“Kemarin hujan kami panik. Cucu sudah digendong semua. Rumah bocor semua. Memang sedih kali rasanya bulan-bulan puasa ini,” ujar perempuan yang karib disapa Mamak (ibu) oleh para relawan bencana di Sekumur.
