Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba Invensi dan Pengabdian Masyarakat (Dok. Diskominfo Medan)
Dalam sambutannya Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan, program ini merupakan perwujudan dari tagline “Medan untuk Semua, dan Semua untuk Medan.”
“Semua untuk Medan itu artinya kami ingin mendengar dan menyerap ide dari masyarakat. Pembangunan tidak boleh tersentralisasi hanya dari pemerintah. Masyarakat harus ikut berinovasi, berinvensi, dan mengabdi. Nantinya, kita kembalikan lagi hasilnya untuk masyarakat,” kata Rico Waas.
Menurut Rico Waas, hubungan antara pemerintah dan masyarakat harus bersifat timbal balik dan kolaboratif. Pemerintah menyerap gagasan, mengolahnya menjadi program, lalu mengimplementasikannya untuk kemaslahatan bersama. Dengan cara ini, inovasi tidak lagi bergantung pada institusi semata, tetapi tumbuh dari kesadaran kolektif warga kota. Dirinya pun menilai kecenderungan selama ini yang kerap mengagungkan temuan dari luar daerah maupun luar negeri, sementara karya anak bangsa sendiri kurang mendapat perhatian.
“Kadang kita merasa yang hebat itu dari luar. Padahal banyak temuan anak bangsa, termasuk dari Medan, yang luar biasa, tetapi tidak terpublikasi, tidak terimplementasi, bahkan tidak mendapat sorotan,” jelas Rico Waas.
Diyakini Rico Waas, Kota Medan memiliki potensi besar melahirkan inovator kelas nasional bahkan internasional. Hal itu terlihat dari keberagaman latar belakang peserta lomba, mulai dari akademisi lintas perguruan tinggi hingga pelajar SMP yang mampu bersaing dan meraih juara.
“Dari judul-judulnya saja, saya lihat ini calon-calon nasional. Multi background, multi lembaga, bahkan ada yang masih SMP dan bisa mengalahkan ratusan peserta lainnya. Ini luar biasa,” ucap Rico Waas.