Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rani Jambak Mamasak Asa: Sulam, Bunyi dan Memori Marapi Minangkabau
Penampilan Rani Jambak sebagai seniman (Dok. Pribadi for IDN Times)
  • Rani Jambak menampilkan performans Mamasak Asa di Galeri Nasional Indonesia, memadukan sulam tradisional Minangkabau dengan teknologi bunyi dan narasi Tambo Alam Minangkabau dalam suasana meditatif.
  • Karya ini berpusat pada simbol Gunung Marapi sebagai asal-usul masyarakat Minangkabau serta terinspirasi semangat pemberdayaan perempuan dari tokoh Rohana Kudus melalui kolaborasi penyulam lokal.
  • Pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4 menampilkan 12 perupa perempuan lintas generasi yang mengeksplorasi seni, teknologi, budaya, dan lingkungan, dikuratori oleh Carla Bianpoen bersama timnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
1915

Rohana Kudus mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang, menjadikan sulam sebagai sarana pendidikan dan pemberdayaan perempuan Minangkabau.

10 April hingga 30 Juni 2026

Instalasi multimedia interaktif Pamedangan karya Rani Jambak dipamerkan dalam Indonesian Women Artists (IWA) #4: On The Map – Towards New Futures di Galeri Nasional Indonesia.

16 Mei 2026

Rani Jambak menampilkan performans Mamasak Asa di Ruang Pamer Gedung A Galeri Nasional Indonesia dengan menggabungkan teknik sulam tradisional, bunyi elektronik, dan narasi Tambo Alam Minangkabau.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pertunjukan performans berjudul “Mamasak Asa” oleh seniman bunyi Rani Jambak, yang memadukan teknik sulam tradisional Minangkabau dengan komposisi audio elektronik dalam rangkaian pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4.
  • Who?
    Rani Jambak, seniman bunyi asal Lasi, Sumatra Barat, bersama penyulam tradisional Koto Tuo dan Essy Hariya. Pameran dikuratori oleh Carla Bianpoen, Nyoman Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi.
  • Where?
    Pertunjukan berlangsung di Ruang Pamer Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sebagai bagian dari pameran IWA #4: On The Map – Towards New Futures.
  • When?
    Kegiatan digelar pada Sabtu, 16 Mei 2026, di tengah periode pameran yang berlangsung sejak 10 April hingga 30 Juni 2026.
  • Why?
    Karya ini terinspirasi dari sejarah perempuan Minangkabau seperti Rohana Kudus serta bertujuan merawat hubungan manusia dengan lingkungan dan akar budaya melalui tradisi menyulam dan teknologi bunyi.
  • How?
    Rani menyulam motif Gunung Marapi di atas kain tembaga EMF anti-radiasi menggunakan bingkai kayu tradisional. Setiap tusukan jarum menghasilkan bunyi yang diolah secara elektronik menjadi komposisi audio meditatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Rani Jambak bikin pertunjukan di galeri seni. Dia nyulam di kain sambil buat bunyi dari alat khusus. Bunyi itu dicampur dengan suara alam dan cerita tentang Gunung Marapi. Rani terinspirasi dari perempuan Minangkabau dulu yang suka nyulam juga. Sekarang banyak orang datang lihat karya Rani dan seniman perempuan lain di pameran itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pertunjukan “Mamasak Asa” karya Rani Jambak menampilkan harmoni antara tradisi dan teknologi, menghadirkan pengalaman artistik yang lembut namun bermakna. Melalui perpaduan sulam Minangkabau, bunyi elektronik, dan narasi Tambo Alam, karya ini memancarkan penghargaan terhadap akar budaya serta semangat perempuan yang terus hidup dalam bentuk kolaboratif dan reflektif di ruang seni kontemporer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Ruang Pamer Gedung A Galeri Nasional Indonesia dipenuhi bunyi-bunyian lirih pada Sabtu (16/5/2026). Di tengah berlangsungnya pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4: On The Map – Towards New Futures, seniman bunyi asal Lasi, Sumatra Barat, Rani Jambak, mempersembahkan pertunjukan performans bertajuk Mamasak Asa.

Dalam pertunjukan tersebut, Rani menyulam di atas bingkai kayu tradisional Minangkabau atau pamedangan. Setiap tusukan jarum menghasilkan bunyi yang diolah menjadi komposisi audio melalui perangkat elektronik Touch Me dari Playtronica. Bunyi elektronik berpadu dengan soundscape alam dan rekaman pembacaan Tambo Alam Minangkabau, menciptakan suasana meditatif dan intim di ruang galeri.

1. Gunung Marapi menjadi pusat narasi karya ini

Penampilan Rani Jambak sebagai seniman (Dok. Pribadi for IDN Times)

Mamasak Asa merupakan pengembangan dari instalasi multimedia interaktif Pamedangan yang dipamerkan dalam IWA #4 sejak 10 April hingga 30 Juni 2026. Karya ini mempertemukan teknik sulam tradisional Minangkabau Suji Caia, teknologi bunyi, video, dan partisipasi publik dalam satu pengalaman artistik.

Gunung Marapi menjadi pusat narasi karya ini. Rani menggunakan motif gunung yang disulam di atas kain tembaga EMF anti-radiasi untuk menggambarkan Marapi sebagai simbol asal-usul dan memori kolektif masyarakat Minangkabau. Narasi ini merujuk pada Tambo Alam Minangkabau yang menyebut Gunung Marapi sebagai tempat pertama leluhur Minangkabau menapakkan kaki.

2. Terinspirasi dari jejak sejarah perempuan Minangkabau, khususnya Rohana Kudus

Penampilan Rani Jambak sebagai seniman (Dok. Pribadi for IDN Times)

Karya Rani juga terinspirasi dari jejak sejarah perempuan Minangkabau, khususnya Rohana Kudus. Pendiri Rumah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang tahun 1915 ini menjadikan sulam sebagai alat pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Semangat tersebut dilanjutkan Rani melalui kolaborasi dengan penyulam tradisional di Koto Tuo dan Essy Hariya, penyulam generasi keempat.

“Melalui karya ini saya ingin menunjukkan bahwa tradisi memiliki frekuensi yang masih bisa kita dengarkan hari ini. Menyulam menjadi cara untuk merawat hubungan manusia dengan lingkungan, tubuh, dan sejarahnya,” ujar Rani Jambak.

3. Pameran ini menghadirkan karya 12 perupa perempuan Indonesia lintas generasi

Penampilan Rani Jambak sebagai seniman (Dok. Pribadi for IDN Times)

Pameran IWA #4 dikuratori oleh Carla Bianpoen, Nyoman Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi. Pameran ini menghadirkan karya 12 perupa perempuan Indonesia lintas generasi yang mengeksplorasi hubungan seni, teknologi, budaya, tubuh, dan lingkungan. Selain Rani Jambak, pameran ini juga menampilkan karya Ve Dhanita, Citra Sasmita, Irene Agrivina, Sri Astari Rasjid, Umi Dachlan, dan Lucia Hartini.

“Melalui Mamasak Asa, Rani Jambak tidak sekadar menghadirkan pertunjukan performans. Ia mengajak publik untuk mendengar ulang hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan akar budayanya,” ujar Inda C. Noerhadi, Ketua Yayasan Cemara Enam selaku penyelenggara IWA #4.

Editorial Team