Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Ragam Tradisi Punggahan Menyambut Ramadan di Sumatera Utara
ilustrasi makan bersama (pexels.com/Alexy Almond)

Medan, IDN Times - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, pasti akan ada banyak tradisi atau budaya yang berkaitan dengan penyambutan setiap bulannya, termasuk di wilayah Sumatra Utara (Sumut). Salah satu tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Sumatra Utara saat menyambut bulan Ramadan, yaitu tradisi punggahan.

Tradisi ini dilakukan sebagai tanda syukur dan sarana silaturahmi dengan masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka. Selain menyenangkan, tradisi ini juga memiliki banyak nilai kebaikan tentang kehidupan.

Menariknya lagi, setiap punggahan ini pasti tidak jauh dari ragam jenis kuliner yang akan dimasak dan dibagi-bagi hingga makan bersama.

Tradisi Punggahan berasal dari kata munggah yang memiliki arti naik yang diharapkan mampu menaikkan derajat manusia dalam menghadapi bulan puasa, baik secara lahiriah dan batiniah.

Tradisi pungah ini telah dipraktekkan sejak zaman dahulu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas datangnya bulan Ramadan.

Tradisi ini dilakukan satu atau dua hari sebelum dimulainya bulan Ramadan, namun di Sumatera, tradisi ini biasanya dilakukan pada malam pertama Ramadan.

1. Warga Medan biasa Mandi Pangir menyambut Ramadan

ilustrasi sedang makan (pexels.com/Thirdman)

Sebagian besar warga Sumatera Utara khususnya Kota Medan biasanya menyambut Ramadan dengan Mandi Pangir. Kalau perkampungan, Marpangir biasanya dilakukan di sungai-sungai besar. 

Namun bagi warga Medan, Marpangir biasanya dilakukan di rumah saja. Yakni mandi menggunakan air kembang pada sore hari, satu hari sebelum Ramadan atau menjelang salat tarawih pertama. 

Tak heran jika saat tarawih pertama, masjid selalu beraroma pangir atau pandan.

2. Di Labuhanbatu Utara warga makan bersama dengan seluruh warga desa

ilustrasi makan sahur (pexels.com/Thirdman)

Tradisi ini dilakukan hampir di setiap daerah di Sumatra Utara, namun uniknya, setiap daerah melakukan tradisi ini dengan cara yang berbeda.

Salah satu tradisi punggahan di Sumut ada di Labuhanbatu Utara. Biasanya, warga desa melakukan tradisi ini dengan makan bersama dengan seluruh warga desa. Warga desa membawa makanan dan berkumpul di masjid desa.

Setelah itu, warga desa berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan, dan membersihkan hati mereka terhadap tetangga dan orang lain.

3. Batubara menyambut Ramadan dengan menangkap hewan ternak

Potret menu Sugakiya (instagram.com/sugakiya.id)

Berbeda untuk wilayah di Batubara. Masyarakat di sini menyambut Ramadan dengan menangkap hewan ternak, seperti kerbau dan sapi, 32 hari sebelum hari pertama Ramadan.

Tradisi Punggahan masih dilestarikan dan dipertahankan oleh masyarakat Sumatera Utara. Selain untuk menghormati tradisi yang ada, tradisi Punggahan juga memiliki nilai-nilai yang baik dalam kehidupan, terutama dalam kehidupan bermasyarakat.

Tradisi ini dimanfaatkan sebagai pendorong bagi masyarakat untuk mempererat kerukunan dan persatuan di antara sesama.

Dalam hal ini, warga berkumpul untuk saling bertegur sapa dan bersilaturahmi. Tradisi ini juga berfungsi untuk mempererat persatuan dan kesatuan warga dalam bermasyarakat.

4. Tradisi Balimau atau Marpangir di Tapteng dan Tapsel

Tradisi mandi limau di Tapteng (dok.IDN Times)

Ada juga tradisi unik di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, Sumatra Utara yakni  balimau atau mandi limau.

Setiap tahun memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam di Tapteng beramai-ramai akan mendatangi sungai yang berada di Sibuluan untuk melaksanakan tradisi mandi limau.

Sedangkan di Tapsel biasanya warga Mandi Limau bersama di Sungai Batang Angkola dan Aek Sijorni. Ada pula yang melakukannya di rumah masing-masing. Setelah itu dilanjut juga dengan makan bersama. 

5. Selain menangkap hewan ternak, ada juga tradisi Pesta Tapai di Kabupaten Batubara

Pesta Tapai di Batubara (Instagram @balaibahasa.sumut)

Pesta Tapai merupakan tradisi yang paling menarik di Desa Dahari Selebar, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.

Tradisi tahunan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah yang datang untuk menikmati berbagai kuliner khas Melayu yang disajikan di sepanjang jalan desa.

Setiap tahun, masyarakat Desa Dahari Selebar menyambut Ramadan dengan berjualan aneka makanan tradisional, seperti tapai, lemang, dodol, karas-karas, serta rendang kepah.

Tradisi ini tidak hanya mempererat silaturahmi antarwarga, tetapi juga mendongkrak perekonomian desa.

Pesta tapai ini berlangsung mulai pertengahan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah, atau sekitar dua pekan sebelum Ramadhan.

Setiap sore menjelang malam, suasana desa berubah menjadi pasar kuliner yang ramai, dengan pedagang yang mulai membuka lapak sejak pukul 17.00 WIB hingga tengah malam.

Editorial Team