Pekanbaru, IDN Times - Sebanyak 32 orang warga negara Belanda tiba di Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen, yang berada di Jalan Kharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Kedatangan puluhan WNA itu bukan untuk berwisata dan juga bukan sebagai simbol penjajahan masa lalu. Mereka datang untuk menelusuri jejak penderitaan keluarganya.
Ya, puluhan orang Belanda itu adalah anak, cucu dan keluarga dari para korban kerja paksa Romusha serta tahanan perang yang pernah terlibat dalam pembangunan jalur Kereta Api Pakanbaroe pada masa Perang Dunia II. Mereka datang membawa ingatan, cerita keluarga dan penghormatan bagi ribuan nyawa yang hilang di tanah Melayu Riau pada puluhan tahun silam.
Dalam pantauan, terdengar lantunan lagu kebangsaan Indonesia dan Belanda mengalun berdampingan. Orang-orang Belanda itu tampak berdiri hening di bawah monumen yang menjadi simbol penderitaan ribuan pekerja paksa pembangunan jalur kereta api Pakanbaroe Railway. Beberapa di antaranya bahkan menundukkan kepala, memejamkan mata, lalu memanjatkan doa.
Ada pula yang tampak bersujud dan membungkukkan badan menyerupai gerakan rukuk dalam salat, seakan mencoba menyampaikan penghormatan terakhir kepada para korban yang tak pernah mereka temui secara langsung.
