Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Puluhan Warga Belanda Mengenang di Tugu Romusha Pekanbaru
Puluhan WNA asal Belanda saat meletakkan karangan bunga di Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen Pekanbaru (IDN Times/ Fanny Rizano)
  • Sebanyak 32 warga Belanda berziarah ke Tugu Romusha Pekanbaru untuk mengenang keluarga korban kerja paksa pembangunan rel kereta api Pakanbaroe pada masa pendudukan Jepang.
  • Kolonel Johannes Moerkens menegaskan pentingnya peringatan ini agar generasi muda tidak melupakan tragedi kemanusiaan yang menelan ratusan ribu jiwa selama proyek rel Muarasijunjung-Pekanbaru tahun 1943–1945.
  • Perwakilan yayasan peringatan menyebut banyak orang di Belanda dan Indonesia belum mengetahui sejarah kelam Pakanbaroe Railway, sehingga kunjungan ini menjadi upaya menjaga ingatan lintas generasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pekanbaru, IDN Times - Sebanyak 32 orang warga negara Belanda tiba di Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen, yang berada di Jalan Kharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Kedatangan puluhan WNA itu bukan untuk berwisata dan juga bukan sebagai simbol penjajahan masa lalu. Mereka datang untuk menelusuri jejak penderitaan keluarganya.

Ya, puluhan orang Belanda itu adalah anak, cucu dan keluarga dari para korban kerja paksa Romusha serta tahanan perang yang pernah terlibat dalam pembangunan jalur Kereta Api Pakanbaroe pada masa Perang Dunia II. Mereka datang membawa ingatan, cerita keluarga dan penghormatan bagi ribuan nyawa yang hilang di tanah Melayu Riau pada puluhan tahun silam.

Dalam pantauan, terdengar lantunan lagu kebangsaan Indonesia dan Belanda mengalun berdampingan. Orang-orang Belanda itu tampak berdiri hening di bawah monumen yang menjadi simbol penderitaan ribuan pekerja paksa pembangunan jalur kereta api Pakanbaroe Railway. Beberapa di antaranya bahkan menundukkan kepala, memejamkan mata, lalu memanjatkan doa.

Ada pula yang tampak bersujud dan membungkukkan badan menyerupai gerakan rukuk dalam salat, seakan mencoba menyampaikan penghormatan terakhir kepada para korban yang tak pernah mereka temui secara langsung.

1. Ini sejarah singkatnya

Warga Belanda saat mengelilingi Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen Pekanbaru (IDN Times/ Fanny Rizano)

Diketahui, Romusha atau kerja paksa pembangunan rel kereta api Muarasijunjung-Pekanbaru terjadi pada tahun 1943-1945. Pembangunan rel kereta api sepanjang 220 kilometer itu, telah menelan banyak korban, kurang lebih 285.000 jiwa.

Jumlah korban tersebut setara dengan jumlah bantalan rel kereta api yang dibangun, bahkan bisa lebih. Diperkirakan, setiap 1 kilometer menelan korban sebanyak 1.270 jiwa.

Rel kereta api Muarasijunjung-Pekanbaru kini tak berbekas lagi. Hanya ada seonggok batu yang diabadikan sebagai monumen korban Romusha di Kota Pekanbaru.

Kendati demikian, tragedi tersebut tetap menjadi monumen pembuktian dari kejahatan perang bala tentara Jepang. Karena selain banyaknya korban jiwa yang direngutnya, juga tercatat dalam sejarah pembangunan rel kereta api terpendek umurnya.

2. Ini kata Atase Militer Belanda untuk Indonesia

Atase Militer Belanda untuk Indonesia Kolonel Johannes Moerkens (IDN Times/ Fanny Rizano)

Atase Militer Belanda untuk Indonesia Kolonel Johannes Moerkens mengatakan, peringatan semacam ini sangat penting bagi keluarga korban Romusha, agar sejarah kelam itu tidak hilang ditelan waktu.

"Menurut saya peringatan ini penting sekali karena ada banyak korban Romusha, tetapi banyak orang sekarang tidak tahu bagaimana situasi waktu itu. Ada yang sudah lupa. Jadi acara seperti ini penting terutama untuk generasi muda," katanya, Sabtu (16/5/2026).

Menurutnya, kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Terlebih bagi keluarga korban, ada luka sejarah yang ingin terus diingat agar tidak hilang ditelan waktu.

Kolonel Johannes menerangkan, pembangunan rel kereta api Pakanbaroe bukan hanya melibatkan tahanan perang dari luar negeri, tetapi juga ratusan ribu masyarakat Indonesia yang didatangkan dari berbagai daerah untuk bekerja secara paksa.

"Ada banyak orang dari Jawa dan Sumatra yang dipindahkan ke pedalaman untuk bekerja di sana. Mungkin jumlahnya sampai ratusan ribu. Orang muda harus belajar dari tragedi ini supaya tidak terjadi lagi perang seperti Perang Dunia," terangnya.

Bagi mereka, dilanjutkan Kolonel Johannes, Pekanbaru bukan sekadar kota di Pulau Sumatra. Kota ini adalah ruang kenangan, tempat para ayah, kakek dan leluhur mereka pernah bertahan hidup di tengah kerasnya perang dan kerja paksa.

Ia berharap situs sejarah seperti Tugu Romusha dapat terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai ruang belajar sejarah kemanusiaan.

"Mungkin satu atau dua tahun lagi ada upacara lagi di sini. Saya berharap tempat seperti ini bisa menjadi tempat belajar tentang situasi masa lalu," lanjutnya.

Bagi Johannes, hubungan sejarah Indonesia dan Belanda hari ini juga tidak bisa dilepaskan dari ikatan panjang kedua negara di masa lalu.

"Sekarang banyak orang Belanda masih punya hubungan dengan Indonesia. Kami seperti saudara. Karena itu penting juga mengenang orang Indonesia yang meninggal di sini," pungkasnya.

3. Masih banyak yang belum tahu sejarah kelam Pakanbaroe Railway

Anak, cucu dan keluarga korban Romusha dari Belanda mengunjungi Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen Pekanbaru (IDN Times/ Fanny Rizano)

Disisi lain, Eric dari The Burma-Siam Railway and Pakan Baroe Railway Commemoration Foundation menyampaikan alasan kedatangan mereka ke ibukota Provinsi Riau.

Ia mengatakan, rombongan tersebut sedang melakukan perjalanan untuk mengenang para tahanan perang dan korban kerja paksa yang meninggal selama pembangunan jalur kereta api pada masa pendudukan Jepang.

"Kami berada di sini bersama keluarga yang ayah atau kakeknya bekerja di Pakanbaroe Railway. Kami ingin menghormati semua korban yang meninggal di sini selama Perang Dunia Kedua," kata Eric.

Menurutnya, masih banyak masyarakat, baik di Belanda maupun Indonesia yang belum mengetahui sejarah kelam pembangunan jalur kereta api tersebut.

"Banyak orang di Belanda tidak tahu tentang Pakanbaroe Railway. Saya pikir di Indonesia juga sama. Ketika saya bertanya kepada beberapa orang, mereka tidak tahu apa yang terjadi di sini," ujarnya.

Eric menyebut, sedikitnya ada sekitar 18.000 tahanan perang pernah terlibat dalam proyek pembangunan rel kereta api tersebut. Namun kisah penderitaan mereka perlahan mulai terlupakan.

"Karena itu penting untuk terus menceritakan kisah ini dan menghormati penderitaan mereka," katanya.

Di bawah bayang-bayang Tugu Romusha itu, sejarah yang nyaris terlupakan kembali dipanggil pulang. Tidak dengan kemarahan, tetapi melalui doa, bunga dan ingatan yang diwariskan lintas generasi.

Bagi mereka yang datang dari negeri jauh, Pekanbaru bukan sekadar kota di peta. Kota ini adalah saksi bisu tentang kerja paksa, penderitaan dan ribuan manusia yang pernah kehilangan hidupnya di rel kereta api yang dibangun di tengah perang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team