Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Warga Aceh Tengah gunakan sling untuk menyeberangi sungai (dok.Pemkab Aceh Tengah)
Warga Aceh Tengah gunakan sling untuk menyeberangi sungai (dok.Pemkab Aceh Tengah)

Intinya sih...

  • Tali sling mudah rusak, dan sangat berisiko bagi pengguna

  • Bupati Aceh Tengah juga menyeberangi sungai menggunakan sling manual

  • Ada lima desa yang berada dalam kondisi paling berat akibat jalan longsor dan jembatan runtuh

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Aceh Tengah, IDN Times - Di tengah musim panen, warga sejumlah desa terisolir di Kabupaten Aceh Tengah terpaksa mempertaruhkan keselamatan demi mempertahankan denyut ekonomi keluarga. Tanpa jembatan dan akses jalan yang layak akibat longsor, satu-satunya jalur mobilisasi hasil pertanian hanyalah sling manual swadaya masyarakat yang dirakit menggunakan kabel listrik melintang di atas sungai berarus deras dan berbatu.

Kondisi darurat ini menjadi tumpuan hidup warga Desa Kekuyang, Burlah, Bintang Pepara, hingga Buge Ara. Melalui sling sederhana tersebut, masyarakat mengangkut durian, cabai, kopi, beras, hingga bantuan logistik untuk dijual dan didistribusikan ke wilayah lain.

1. Tali sling mudah rusak, dan sangat berisiko bagi pengguna

Bupati Aceh Tengah Haili Yoga saat memantau warga di pengungsian (dok.Humas Aceh Tengah)

Gunawan, warga Kampung Kekuyang yang sehari-hari bertugas menarik sling mengungkapkan sling yang digunakan saat ini berukuran kecil. Kondisinya mudah rusak, dan sangat berisiko bagi pengguna.

Ia menegaskan kondisi berbahaya itu terjadi karena keterbatasan peralatan, bukan karena kelalaian warga.“Talinya kecil, tidak cocok. Kadang baru seminggu sudah rusak. Tadi juga sempat ada yang jatuh,” ujarnya.

2. Bupati Aceh Tengah juga menyeberangi sungai menggunakan sling manual

Wagub Aceh dan rombongan terjatuh saat meninjau korban banjir di Aceh Tengah (dok.warga)

Situasi berisiko itu disaksikan langsung oleh Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, saat meninjau lokasi pengungsian warga Kampung Bintang Pepara di SMP Negeri 32 Ketol, Sabtu (3/1/2026). Dalam kunjungannya, Bupati bahkan menyeberangi sungai menggunakan sling manual untuk merasakan langsung beratnya perjuangan warga.

“Ini luar biasa berat dan sangat tidak aman. Saat ini ada enam titik sling yang digunakan masyarakat, semuanya masih manual dan tidak layak. Ini butuh penanganan khusus dan harus segera ditangani,” ujar Haili Yoga.

Menurutnya, sling darurat tersebut telah menjadi urat nadi kehidupan warga setelah badan jalan dan jembatan utama rusak diterjang longsor. Meski bantuan helikopter sempat dikerahkan, keterbatasan jangkauan membuat pemulihan akses darat tetap menjadi kebutuhan mendesak.

“Semua komoditas unggulan—durian, cabai, kopi—diangkut lewat sling. Bahkan beras dan bantuan logistik juga lewat sini. Kalau akses darat bisa diperkuat atau ada solusi sementara yang lebih aman, tentu jauh lebih baik,” katanya.

3. Ada lima desa yang berada dalam kondisi paling berat akibat jalan longsor dan jembatan runtuh

Warga Aceh Tengah gunakan sling untuk menyeberangi sungai (dok.Pemkab Aceh Tengah)

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Aceh Tengah menegaskan persoalan sling darurat telah disampaikan langsung kepada pemerintah pusat. Ia menyebut sedikitnya lima desa berada dalam kondisi paling berat akibat jalan longsor dan jembatan runtuh.

“Kami sudah sampaikan langsung ke Bapak Presiden dan Bapak Menteri. Kondisi di sana sangat rentan dan butuh penanganan segera,” kata Haili Yoga.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah kini mendorong penyediaan sling berkapasitas besar dengan standar keselamatan tinggi sebagai solusi sementara, sembari menunggu pemulihan infrastruktur permanen.

“Ini bukan semata soal ekonomi, tapi soal keselamatan dan kemanusiaan. Selama akses darat belum pulih, masyarakat tetap harus hidup, bekerja, dan menjual hasil panennya. Negara harus hadir dengan solusi yang layak,” tegasnya.

Editorial Team