Midian Sirait (dok.istimewa)
Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh guru besar sejarah Unimed, Prof. Dr. Phil Ichwan Azhari lewat seminar nasional, Midian Sirait ialah sosok yang memiliki peran dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dan keluar dari penjajahan Belanda dan Jepang. Tidak sampai di situ, ia memiliki peran besar di dunia farmasi dan semangatnya mengilhami gerakan politik di masanya.
"Midian Sirait merupakan sosok pejuang kemerdekaan yang berasal dari Desa Lumban Sirait Gu, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Ia lahir dari orang tua seorang petani dan pedagang. Di tengah kondisi zaman serba terbatas, tak membuat Midian Sirait patah arang mengarungi kehidupan. Cita-cita yang ditanamkan pada dirinya dari seorang sang ayah untuk mencapai pendidikan setinggi-tingginya adalah modal paling utama," terang Ichwan.
Saat masa bersekolah, Midian kecil terbawa dalam berbagai peristiwa penting di Porsea. Termasuk pada akhir masa kolonialisme dan memasuki masa kependudukan Jepang di Porsea, Midian menyaksikan berbagai peristiwa penting yang terjadi di sana. Di masa transisi itu, benih-benih perjuangan dalam diri Midian timbul dan turut ambil bagian di medan pertempuran.
Pada akhir September 1945 pemerintahan Republik Indonesia mulai menjalankan sistem pemerintahan. Pada bulan Februari 1946, guna memenuhi seruan pemerintah dari Jawa, di Tapanuli, Porsea, dan Balige dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berganti nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Midian Sirait serta para pelajar lainnya ikut berpartisipasi dalam lembaga ini.
Berdasarkan catatan sejarah, Midian merupakan ketua IPI sekawasan Danau Toba. IPI adalah wadah dari setiap sekolah yang mendirikan kompi tentara pelajar. Sebagai Ketua IPI, Midian kemudian menjadi Kepala Staf Tentara Pelajar Batalion Arjuna yang membawahi kompi-kompi tentara pelajar dari sekolah-sekolah yang berbeda.
Pada 21 Juli 1947 Belanda melancarkan perang agresi yang pertama. Kedatangan tentara militer Belanda hendak menduduki daerah-daerah perkebunan yang memiliki nilai penting dalam perdagangan ekspor. Midian Sirait sebagai kepala staf tentara pelajar ambil bagian dalam periode kedatangan tentara Belanda dengan mengamankan objek strategis dan jantung perekonomian masyarakat.
"Gubernur Militer adalah posisi yang banyak diinginkan di kalangan pimpinan kesatuan-kesatuan pejuang pada masa itu. Akan tetapi, Midian Sirait tetap menginginkan Gubernur Militer tetap berada pada utusan pemerintah pusat. Midian Sirait adalah satu di antara tokoh pejuang yang mempertahankan posisi Gubernur Militer Tapanuli tetap berada pada dr Ferdinand L. Tobing. Bagi Midian Sirait tidak tempat dalam keadaan menghadapi musuh yang mengancam kemerdekaan, justru terjadi gusur-menggusur satu sama lain," lanjut Ichwan.