Medan, IDN Times - Gemerlap lampu kota tak selalu seindah janji yang ditawarkannya. Di balik hiruk-pikuk Medan yang tak pernah tidur, tersimpan cerita-cerita sunyi, pergulatan batin, dan perlawanan perempuan yang jarang terdengar. Realitas inilah yang dihadirkan secara kuat dalam pementasan monolog Bias Lampu Kota, karya seniman teater Medan bersama Atma Loka, yang sukses mengaduk-aduk emosi penonton.
Pertunjukan ini merekam pengalaman perempuan dari berbagai usia, ruang, dan waktu di kota—dari kegelisahan, harapan, luka, hingga keberanian untuk bertahan. Setiap adegan menjadi cermin yang memantulkan sisi lain kehidupan urban yang sering luput dari perhatian.
Sutradara Bias Lampu Kota, Munawar Lubis, menjelaskan bahwa proses kreatif pertunjukan ini berangkat dari riset terhadap peristiwa-peristiwa yang dekat dengan keseharian perempuan perkotaan. Berbagai isu dikumpulkan, diseleksi, lalu diolah menjadi peristiwa panggung yang kuat dan jujur.
“Proses ini terus mencari peristiwa dengan isu perempuan di kota—dari berbagai usia, berbagai waktu, dan berbagai ruang,” ujar Munawar di Taman Budaya Medan, Sabtu (7/2/2026) malam.
Ia menambahkan, meski problem perempuan menjadi pusat cerita, bentuk penyampaiannya sengaja dibuat beragam. Ada karakter yang tampil lugu, ada yang tampak tegar meski rapuh di dalam, ada yang mengendalikan, mengekang, hingga menahan diri.
Semua karakter tersebut, menurut Munawar, merupakan representasi dari bentuk-bentuk resistensi perempuan dalam menghadapi tekanan sosial dan personal.
“Resistensi yang datang terhadap perempuan—bagaimana dia mengelolanya, bagaimana ia meresponsnya—itulah yang kami pilih sebagai cara lain untuk berkomunikasi dengan penonton,” tuturnya
