MEDAN, IDN Times — Pada usia 37 tahun, Erwin Sirait masih hidup sendiri. Di kampung halamannya, Kecamatan Mandoge, Kabupaten Asahan, status itu kerap dianggap anomali. Namun bagi Erwin, melajang bukan soal keberanian melawan norma, melainkan cara paling jujur untuk bertahan hidup.
Ia bekerja di sektor pekerjaan musiman-jenis kerja yang bergantung pada cuaca, kekuatan fisik, dan keberuntungan. Penghasilan datang tidak teratur. Hari ini ada, besok bisa tidak. Dalam situasi seperti itu, Erwin menilai pernikahan bukan sekadar keputusan personal, melainkan kontrak sosial yang menuntut kepastian ekonomi.
“Saya kerja ya buat hidup hari ini dan besok. Kalau mikir nikah, saya mikir juga nanti makan apa, tinggal di mana,” ujarnya, Minggu (8/2/2026), usai menghadiri diskusi Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) di salah satu universitas tertua di Medan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di baliknya tersimpan kecemasan yang lazim dialami pekerja informal: hidup tanpa jaminan, tanpa kontrak, tanpa perlindungan sosial yang memadai.
