Medan, IDN Times - Langkah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) yang mengirimkan surat terbuka kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi pendidikan nasional menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Surat dari Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto itu dikirim menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang dipicu keterbatasan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk kekecewaan karena suara mahasiswa dan masyarakat dianggap tidak didengar oleh pemerintah.
Menanggapi hal itu, Pengamat Sosial dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Agus Suriadi, menyebut pernyataan Ketua BEM UGM ini muncul dalam situasi yang sangat sensitif, setelah tragedi bunuh diri siswa di NTT. Ia menilai, tindakan tersebut mencerminkan dampak serius dari kebijakan pemerintah terhadap pemenuhan hak-hak anak dan pendidikan.
