Ilustrasi nelayan. (Dok: Konservasi Indonesia)
Dari sisi ilmiah, pengembangan kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari data oseanografi, keanekaragaman hayati, hingga pola perikanan. Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw, menekankan pentingnya pendekatan berbasis data.
“Kami telah mengintegrasikan data oseanografi, keanekaragaman hayati, dan perikanan untuk mengidentifikasi habitat kunci, jalur migrasi, dan area produktivitas tinggi. Analisis ini menunjukkan keterhubungan kuat antarhabitat, sehingga kawasan perlu dikelola sebagai satu sistem untuk melindungi spesies seperti tuna, hiu, paus, marlin, hingga penyu, sekaligus menjaga area pemijahan dan pembesaran, serta habitat prioritas seperti terumbu karang dangkal dan laut dalam,” papar Victor.
Kondisi lingkungan di barat Sumatra yang dipengaruhi oleh angin muson, Indian Ocean Dipole (IOD), hingga El Niño membuat wilayah ini sangat dinamis. Namun justru di situlah letak nilainya. “Kondisi tersebut menjadikan perairan barat Sumatra sebagai wilayah penting bagi produksi perikanan, terutama ikan pelagis seperti tuna yellowfin dan bigeye dan ikan kecil lainnya,” sambungnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah melihat pendekatan ini sebagai jalan menuju pengelolaan perikanan yang lebih terukur. “Perairan barat Sumatra merupakan zona penting perikanan terukur, dengan pengelolaan berbasis kawasan, pemanfaatan sumber daya dapat dikendalikan sehingga stok ikan tetap terjaga dan memberi manfaat jangka panjang untuk penguatan sosial ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut DKP Sumut, Fitra Kurnia.