Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Paradoks Klaim Prabowo Soal Bencana Aceh, Masih Banyak Penyintas di Tenda
Seorang perempuan penyintas bencana bertahan di tenda pengungsian di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (7/3/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Presiden Prabowo menyatakan pemulihan pascabencana di Aceh hampir 100 persen, namun klaim ini menuai kritik karena banyak warga masih tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi serba terbatas.
  • Warga dan Greenpeace Indonesia menilai pernyataan Prabowo tidak sesuai realita lapangan serta mencerminkan inkompetensi pemerintah dalam menangani bencana dan menyampaikan informasi yang akurat.
  • Data BNPB menunjukkan masih ada 4.748 kepala keluarga mengungsi akibat bencana yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh, dengan korban meninggal mencapai 564 orang dan 28 lainnya hilang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Aceh Tamiang, IDN Times – Presiden Prabowo Subianto menyebut pemulihan pascabencana longsor dan banjir di Aceh sudah hampir 100 persen. Hal ini disebutkannya usai menjalankan salat Id di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (21/3/2026).

“Di tenda sudah gak ada lagi, 100 persen. Semua sudah keluar dari tenda masuk ke hunian-hunian sementara ataupun hunian tetap sudah mulai,” ujar Prabowo dilansir dari laman resmi presidenri.go.id, Selasa (23/3/2026).

Pernyataan Prabowo ini pun menuai kritik keras. Mulai dari para penyintas langsung hingga para pegiat.

1. Warga Sekumur masih berjuang, berlebaran di tenda hingga hidup tanpa kepastian

Kondisi pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Pernyataan Prabowo menjadi paradoks dengan kondisi di lapangan. Jamak penyintas masih hidup di tenda-tenda pengungsian dengan segala keterbatasannya.

Di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, misalnya. Hampir seluruh penduduk Sekumur masih hidup di dalam tenda-tenda yang didirikan di tapak-tapak rumah. Sebagian lain secara mandiri mendirikan rumah dengan bahan kayu yang hanyut terbawa banjir.

Jangankan untuk berlebaran, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun mereka kesulitan. IDN Times sempat menyaksikan langsung bagaimana kesulitan warga menjalani Ramadan dan sebelum Lebaran tiba. Kondisi di sana begitu berbanding terbalik dengan pernyataan klaim Prabowo.

Wara Cantika, seorang warga di Desa Sekumur, menyampaikan kekecewaan atas pernyataan Prabowo di akun Instagram-nya. Dalam unggahan, Minggu (22/3/2026), Wara mengatakan pernyataan Prabowo mengecewakan para penyintas yang masih hidup di tenda.

“Bapak jangan percaya kali sama jajaran Bapak. Jajaran Bapak bilang, baik-baik saja. Bapak jangan terlalu percaya pak. Bapak lihat menderitanya kami pak,” ujar Wara dalam unggahan videonya.

Sudah lebih dari 100 hari warga di Desa Sekumur hidup dalam ketidakpastian. Sekitar 273 Kepala Keluarga dengan lebih dari 1.300 jiwa, kehilangan mata pencaharian. Sampai saat ini, mereka juga belum mendapat kepastian kapan akan direlokasi dari daerah yang masuk ke dalam zona merah bencana itu.

2. Pernyataan Prabowo disebut sebagai dampak inkompetensi pemerintah

Presiden Prabowo Subianto ketika melakukan wawancara meja bundar di Hambalang, Bogor. (Dokumentasi Istimewa)

Kritik juga datang dari Greenpeace Indonesia. Dalam unggahan di media sosial resmi, mereka mengungkap kondisi di Desa Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Desa yang sempat terisolir karena terputusnya akses di sana masih belum baik kondisinya. Warga berlebaran di tenda-tenda pengungsian.

“Semoga selepas Ramadan ini, Pak Prabowo dapat melihat langsung kondisi rakyat Indonesia dengan lebih objektif, serta didampingi oleh para pembantu yang mampu menyampaikan situasi di lapangan secara jujur dan utuh,” tulis Greenpeace di Instagram-nya.

Entah siapa yang membisikkan kepada Prabowo soal kondisi Aceh yang diklaim sudah baik. Namun, klaim itu menunjukkan inkompetensi pemerintah dalam menangani bencana.

“Sangat disayangkan sekali jika uang pajak dari rakyat Indonesia terus-menerus dihamburkan untuk membayar inkompetensi dalam pemerintahan. Kita, rakyat Indonesia, berhak mendapat pelayanan yang lebih baik dari pemerintahnya,” tulis Greenpeace.

3. Data BNPB, masih ada 4.748 KK yang mengungsi

Warga membawa logistik donasi dari para relawan di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Dalam pernyataannya, Prabowo juga mengklaim bahwa kondisi infrastruktur dasar juga telah pulih hampir sepenuhnya. “Listrik hampir semuanya sudah jalan, hampir 100 persen lah, hanya lima desa dari seluruh Aceh yang memang sulit,” jelasnya.

Selain itu, Prabowo juga mengklaim seluruh bantuan sudah tersalurkan kepada masyarakat terdampak. “Bantuan semua sudah turun ke rakyat semua, alhamdulillah,” ungkap Prabowo.

Sementara itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap, sampai saat ini masih ada 4.748 KK yang mengungs karena bahala pada November 2025 lalu. Bencana yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh juga menewaskan 564 orang. Sebanyak 28 orang juga masih hilang.  

Editorial Team