Kondisi pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
Pernyataan Prabowo menjadi paradoks dengan kondisi di lapangan. Jamak penyintas masih hidup di tenda-tenda pengungsian dengan segala keterbatasannya.
Di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, misalnya. Hampir seluruh penduduk Sekumur masih hidup di dalam tenda-tenda yang didirikan di tapak-tapak rumah. Sebagian lain secara mandiri mendirikan rumah dengan bahan kayu yang hanyut terbawa banjir.
Jangankan untuk berlebaran, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun mereka kesulitan. IDN Times sempat menyaksikan langsung bagaimana kesulitan warga menjalani Ramadan dan sebelum Lebaran tiba. Kondisi di sana begitu berbanding terbalik dengan pernyataan klaim Prabowo.
Wara Cantika, seorang warga di Desa Sekumur, menyampaikan kekecewaan atas pernyataan Prabowo di akun Instagram-nya. Dalam unggahan, Minggu (22/3/2026), Wara mengatakan pernyataan Prabowo mengecewakan para penyintas yang masih hidup di tenda.
“Bapak jangan percaya kali sama jajaran Bapak. Jajaran Bapak bilang, baik-baik saja. Bapak jangan terlalu percaya pak. Bapak lihat menderitanya kami pak,” ujar Wara dalam unggahan videonya.
Sudah lebih dari 100 hari warga di Desa Sekumur hidup dalam ketidakpastian. Sekitar 273 Kepala Keluarga dengan lebih dari 1.300 jiwa, kehilangan mata pencaharian. Sampai saat ini, mereka juga belum mendapat kepastian kapan akan direlokasi dari daerah yang masuk ke dalam zona merah bencana itu.