Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perjuangan Nuruliyah Naik Haji, Dari Jual Sembako hingga Mengajar Ngaji
Nuruliyah salah satu calon jemaah haji asal Kota Medan kloter 7 yang akan berangkat ke tanah suci (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Nuruliyah, 69 tahun asal Medan, akhirnya berangkat haji setelah menabung selama 10 tahun sejak mendaftar pada 2013 bersama sang suami.
  • Uang tabungan dikumpulkan dari hasil kedai sembako, upah mengajar ngaji, pemberian anak, hingga hasil kerja keras suami yang memulung karton.
  • Tetangga menitipkan doa kepada Nuruliyah yang membuktikan bahwa dengan kesabaran dan ketekunan, impian berhaji bisa terwujud tanpa harus kaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2013

Nuruliyah mendaftar haji bersama suaminya setelah menabung selama 10 tahun dari hasil usaha kedai sembako dan upah mengajar ngaji.

kini

Di usia 69 tahun, setelah 13 tahun menunggu sejak pendaftaran, Nuruliyah dan suami akhirnya berangkat haji sebagai bagian dari kloter 7 asal Kota Medan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang warga Medan bernama Nuruliyah berhasil mewujudkan impiannya berangkat haji bersama suami setelah menabung selama sepuluh tahun dari hasil usaha kecil dan pekerjaan sederhana.
  • Who?
    Nuruliyah, 69 tahun, calon jemaah haji kloter 7 asal Kota Medan, bersama suaminya yang turut bekerja keras mengumpulkan biaya keberangkatan ke Tanah Suci.
  • Where?
    Kisah ini terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara, tempat Nuruliyah membuka kedai sembako dan menjalani aktivitas sehari-hari sebelum berangkat ke Tanah Suci.
  • When?
    Niat berhaji dimulai sejak pendaftaran pada tahun 2013, dengan proses menabung selama sekitar sepuluh tahun hingga akhirnya dijadwalkan berangkat pada musim haji tahun ini.
  • Why?
    Niat kuat untuk menunaikan ibadah haji menjadi alasan utama Nuruliyah dan suaminya menabung bertahun-tahun demi memenuhi panggilan ke Baitullah.
  • How?
    Mereka menyisihkan keuntungan dari kedai sembako, upah mengajar mengaji, hasil menjahit, serta pendapatan suami dari memulung kardus hingga cukup untuk biaya keberangkatan haji.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada ibu namanya Nuruliyah, umurnya sudah tua tapi semangat sekali mau naik haji. Dia nabung lama banget, sepuluh tahun. Uangnya dari jualan di warung kecil dan ngajar ngaji. Suaminya bantu juga, kadang ambil kardus bekas buat dijual. Sekarang mereka berdua akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci tahun ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Nuruliyah menggambarkan kekuatan tekad dan kesabaran yang luar biasa dalam mewujudkan impian spiritual. Dengan cara sederhana—menyisihkan hasil jualan sembako, upah mengajar ngaji, hingga bantuan keluarga—ia menunjukkan bahwa ketulusan dan konsistensi dapat membawa hasil nyata. Dukungan suami serta doa tetangga menambah makna kebersamaan dalam perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Usia 69 tahun tak menyurutkan langkah Nuruliyah, calon jemaah haji kloter 7 asal Kota Medan, untuk berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Setelah mendaftar sejak 2013, akhirnya dia dan suami dipanggil ke Baitullah.

Nuruliyah menabung selama 10 tahun sebelum cukup untuk mendaftar haji bersama suami. DIa menabung dari hasil membuka kedai atau warung kecil-kecilan berjualan sembako.

“Cara untuk menabungnya, wuih. Maklumlah kadang-kadang Nak. Bukan membanggakan ilmu-ilmu. Kadang yang disimpan berapalah ya kan tapi berkahnya itu aja yang awak (saya) ambil," cerita Nuruliyah.

1. Selama 10 tahun kumpulkan rupiah demi rupiah untuk naik haji

ilustrasi uang (pixabay.com/EmAji)

Sumber tabungan yang didapatkannya sangat sederhana. Mulai dari untung kedai sembako disisihkan sedikit-sedikit setiap hari. Kemudian, upah mengajar mengaji yang diberi orang setiap bulan untuk disimpan, pemberian anak hingga upah jahit kodian yang hasilnya dibelikan emas agar nilainya aman.

“Orang pun heran, tetangga-tetangga itu. Menabung kapan adanya. Kadang ada langsung disimpan sedikit, sebagian untuk makan. Tapi pelan-pelan terkumpul. Lama-lama bisa terkumpul gak tahu saya tapi rezeki itu sudah ada," jelasnya.

2. Suami memulung kardus, menabung setelah anak kini sudah sarjana

Nuruliyah salah satu calon jemaah haji asal Kota Medan kloter 7 yang akan berangkat ke tanah suci (IDN Times/Indah Permata Sari)

Nuruliyah tak sendiri berjuang. Suaminya ikut banting tulang. “Bapak kerjanya mocok-mocok. Kadang kerja kadang enggak, malu lah mendengarkannya hanya Allah yang tahu, memulung karton atau kardus kerjaan bapak," ucapnya.

Hasil kerja keras berdua itu bukan cuma buat haji. Baginya, saat ini anak sudah besar dan sekarang udah tamat kuliah semuanya. Setelah anak beres pendidikan, giliran orang tua untuk mewujudkan mimpi 13 tahun.

3. Titipan doa dari tetangga

Nuruliyah salah satu calon jemaah haji asal Kota Medan kloter 7 yang akan berangkat ke tanah suci (IDN Times/Indah Permata Sari)

Kabar Nuruliyah berangkat haji menyebar ke tetangga. “Banyak kawan-kawan yang minta doakan biar bisa naik haji. Insyaallah awak doakan semuanya," sambungnya.

Dari untung jual gula Rp2 ribu, upah mengajar ngaji sampai hasil mulung kardus sang suami, Nuruliyah buktikan naik haji tak harus menunggu kaya. Cukup sabar, konsisten, dan yakin rezeki sudah ditakar.

13 tahun menunggu, 10 tahun menabung. Kini di usia 69 tahun, Nuruliyah bersama suami siap menyandang gelar Haji dan Hajjah.

Editorial Team