Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
petani
ilustrasi petani (pexels.com/Long Bà Mùi)

Intinya sih...

  • Kenaikan NTP tanaman perkebunan berkorelasi kuat dengan kenaikan harga CPO

  • Kenaikan NTP juga terjadi pada tanaman pangan dan peternakan

  • Rata-rata indeks konsumsi rumah tangga petani di Sumut turun 1.3 persen selama bulan Januari

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Wilayah Sumatra Utara (Sumut) mengalami deflasi sebesar 0.75 persen pada bulan Januari, yang mencerminkan realisasi harga kebutuhan hidup masyarakat di Sumut alami penurunan. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan hortikultura seperti cabai sangat tergambar dengan realisasi penurunan NTP (nilai tukar petani) tanaman hortikulturta yang turun sebesar 9.63 persen di level 89.08.

Dengan realisasi tersebut bisa tergambar bagaimana nasib petani yang menanam sayur-sayuran termasuk tanaman jenis bumbu dapur. Namun dis isi lainnya, ada kenaikan yang cukup signifikan pada nilai tukar petani tanaman perkebuanan rakyat. Pada Januari kemarin tanaman perkebunan rakyat membukukan kenaikan NTP sebesar 4.96 persen di level 212.9.

1. Kenaikan NTP tanaman perkebunan berkorelasi kuat dengan kenaikan harga CPO

Seorang petani sedang berjalan di Sawah dengan beban di panggul. (Pexels/pixabay)

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin menyoroti kenaikan NTP tanaman perkebunan, yang juga berkorelasi kuat dengan kenaikan harga CPO (Crude Palm Oil) dunia yang saat ini ditransaksikan dikisaran harga 4.150 ringgit per ton. Harga CPO bergerak naik selama Januari dari kisaran 3.996 ringgit per ton, hingga ke level 4.200-an ringgit per tonnya.

"Dipastikan kenaikan harga tersebut juga turut mendorong kenaikan pada TBS (Tanda Buah Segar) sawit di level petani," ungkapnya.

2. Kenaikan NTP juga terjadi pada tanaman pangan dan peternakan

ilustrasi pekerja perkebunan (unsplash.com/Tim Mossholder)

Selain tanaman perkebunan rakyat, kenaikan NTP juga terjadi pada tanaman pangan dan peternakan. Dimana NTP tanaman pangan naik 1.18 persen di level 105.01, sementara NTP peternakan naik 1.56 persen menjadi 92.75. Kalau ditelusuri lebih dalam, kenaikan harga gabah dan harga jual daging ayam dan daging sapi menjadi pemicu kenaikan NTP kedua sektor tersebut.

"Namun, yang miris adalah kenaikan NTP petani Sumut secara keseluruhan juga diikuti dengan penurunan belanja (konsumsi) rumah tangga petani itu sendiri. Terlihat nilai tukar petani (NTP) gabungan Sumut naik 2.88% di bulan Januari menjadi 150.83. Namun jika dilihat dari indeks harga yang dibayar petani (lb), angkanya alami penurunan 1.04 persen," jelas Gunawan.

3. Rata-rata indeks konsumsi rumah tangga petani di Sumut turun 1.3% selama bulan Januari

Ilustrasi Profesi Petani Milenial (Pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Jika dirincikan terjadi penurunan penurunan pada indeks harga yang dibayar petani dari 1.08 persen untuk tanaman pangan, 0.37 persen untuk tanaman hortikultura, 1.19% tanaman perkebunan rakyat, 0.88 persen untuk peternakan.

"Dimana semestinya saat NTP naik, maka semestinya turut mendongkrak belanja petani. Namun gambaran saat ini justru penurunan belanja petani lebih tinggi dari belanja yang digunakan untuk produksi pertanian," sambungnya.

Rata-rata indeks konsumsi rumah tangga petani di Sumut turun 1.3 persen selama bulan Januari. Angka tersbeut jelas tidak sejalan dengan kinerja NTP (nilai tukar petani) yang alami kenaikan selama Januari. Artinya deflasi yang terjadi di Januari justru menggambarkan penurunan aktifitas belanja rumah tangga petani kita. Kenaikan NTP tidak lantas menjadi cerminan belanja petani yang justru memburuk.

Editorial Team