Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mahasiswa Sejarah UNIMED Gelar Seminar Hari Buruh, Bangun Kesadaran Kritis
Mahasiswa Sejarah UNIMED Gelar Seminar Hari Buruh, Bangun Kesadaran Kritis (Dok. IDN Times)

Medan, IDN Times – Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah UNIMED menggelar seminar bertema “Buruh Dalam Lintasan Sejarah Indonesia” dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional. Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Audiovisual Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan ini diinisiasi oleh HMJ Pendidikan Sejarah untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap persoalan buruh di tengah dunia kerja yang semakin penuh ketidakpastian.

Ketua panitia, Maulana Ramadhan Silalahi, mengatakan seminar ini lahir dari refleksi bulan Mei yang identik dengan sejarah perjuangan kaum buruh.

“Sebagai mahasiswa, kita harus peka terhadap isu sosial, termasuk persoalan buruh,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman tentang historiografi buruh penting karena mahasiswa nantinya akan masuk ke dunia kerja yang dipenuhi tantangan seperti kontrak kerja tidak tetap, ancaman PHK, hingga kesejahteraan yang tidak selalu sebanding dengan beban kerja.

Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yakni sejarawan perempuan Dr. Lukitaningsih, M.Hum dan dosen Pendidikan Sejarah UNIMED, Puteri Atikah, M.Si. Dalam pemaparannya, Dr. Lukitaningsih menjelaskan sejarah buruh perempuan pada masa kolonial yang mengalami kerentanan berlapis. Ia menyoroti bagaimana buruh perempuan di sektor perkebunan dan industri kolonial kerap menerima upah rendah, rentan menjadi korban kekerasan seksual, serta minim perlindungan kerja.

Puteri Atikah menjelaskan bahwa banyak pekerja saat ini hidup dalam kerentanan. “Sudah bekerja keras tetapi hidup tetap pas-pasan dan sulit naik kelas,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut terlihat dari maraknya sistem kerja kontrak, outsourcing, dan kerja paruh waktu yang sering kali tidak disertai perlindungan serta kepastian kerja yang memadai.

Salah satu peserta seminar, Ramlan Anri Sianturi, menilai kegiatan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini.

“Ketidakadilan yang dialami buruh hari ini bisa saja kita alami di masa depan jika kita tidak ikut mengawasi dan memperjuangkan perubahan,” katanya.

Pendapat serupa juga disampaikan peserta lainnya, Gilbert Siahaan, yang menyebut seminar ini penting untuk membangun kesadaran mahasiswa terkait gerakan buruh.

“Gerakan buruh saat ini mudah disusupi kepentingan politik. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kesadaran bahwa perjuangan buruh sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat di masa depan,” jelasnya.

Melalui seminar ini, mahasiswa diajak melihat bahwa persoalan buruh bukan sekadar bagian dari sejarah masa lalu, melainkan realitas sosial yang masih terus berlangsung hingga hari ini. Panitia berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu ketenagakerjaan, keadilan sosial, dan masa depan dunia kerja.

Editorial Team