Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kurang Laku dan Harga Tinggi, Pedagang Ogah Jual Gas Elpiji Nonsubsidi
Rahmad Fauzi penjual gas elpiji di pangkalan (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Penjual gas elpiji di Medan mengaku gas non subsidi ukuran 5,5 kg hingga 12 kg kurang diminati karena harganya mahal, sementara gas 3 kg tetap paling laku.
  • Rahmad Fauzi menyebut menjual gas non subsidi sering merugi akibat stok menumpuk dan risiko kebocoran tabung, sehingga ia memilih fokus pada penjualan gas 3 kg.
  • Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyesuaikan harga LPG non subsidi di Sumut, dengan Bright Gas 5,5 kg menjadi Rp111 ribu dan Bright Gas 12 kg Rp230 ribu per tabung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
tahun 2000-an

Rahmad Fauzi mulai berjualan gas elpiji di pangkalannya di Kota Medan.

20 April 2026

Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara mengumumkan penyesuaian harga LPG non subsidi di wilayah Sumatera Utara.

22 April 2026

Rahmad Fauzi menyampaikan kepada IDN Times bahwa gas elpiji non subsidi kurang laku di pangkalannya karena harga mahal dan keuntungan tipis.

kini

Penjualan gas elpiji non subsidi tetap sepi, sementara pembelian gas elpiji melon masih diberlakukan menggunakan KTP dengan batas dua tabung per tiga hari.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Gas elpiji non subsidi di Kota Medan mengalami penurunan minat pembeli setelah adanya kenaikan harga untuk ukuran 5,5 kg hingga 50 kg.
  • Who?
    Rahmad Fauzi, penjual pangkalan gas elpiji di Jalan Karya Jaya No. 27 Medan, serta Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara.
  • Where?
    Pangkalan gas elpiji milik Rahmad Fauzi di Jalan Karya Jaya No. 27, Kota Medan, Sumatera Utara.
  • When?
    Kondisi ini dilaporkan pada Rabu, 22 April 2026, setelah penyesuaian harga LPG non subsidi yang diumumkan pada Senin, 20 April 2026.
  • Why?
    Masyarakat lebih memilih gas elpiji subsidi ukuran 3 kg karena harga gas non subsidi dinilai terlalu mahal dan kurang menguntungkan bagi penjual.
  • How?
    Kenaikan harga dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga sesuai mekanisme resmi; penjual menghentikan stok non subsidi karena permintaan rendah dan risiko kerugian akibat kebocoran tabung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Medan, gas elpiji yang besar dan pink jadi mahal sekali, jadi orang-orang gak mau beli. Pak Rahmad yang jual gas bilang dia rugi kalau jual itu, karena jarang ada yang beli dan pernah tabungnya bocor. Sekarang dia cuma jual gas kecil warna hijau yang murah dan banyak orang cari pakai KTP.Gas elpiji yang tidak disubsidi sekarang jadi mahal sekali. Ada penjual namanya Pak Fauzi di Medan yang dulu jual gas itu, tapi sekarang tidak mau lagi karena susah laku dan bisa rugi. Orang-orang lebih suka beli gas kecil warna hijau yang 3 kilo karena lebih murah. Sekarang kalau mau beli gas hijau itu harus pakai KTP dan cuma boleh dua tabung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun penjualan gas elpiji non subsidi di Medan menurun, situasi ini menunjukkan bahwa distribusi dan permintaan gas elpiji 3 kg bersubsidi berjalan stabil dan tetap diminati masyarakat. Penerapan aturan pembelian menggunakan KTP juga mencerminkan adanya sistem pengawasan yang tertib, sehingga pasokan dapat terdistribusi lebih merata dan transparan di tingkat pangkalan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Gas elpiji nonsubsidi mengalami kenaikan harga mulai dari ukuran 5,5 kg hingga 50 kg. Di Kota Medan penjual mengakui gas elpiji nonsubsidi kurang laku untuk di pangkalan elpiji.

Salah satunya, Rahmad Fauzi sebagai penjual pangkalan gas elpiji. Menurutya, tidak banyak masyarakat yang minat membeli gas nonsubsidi karena mahal.

"Selama ini yang gas elpiji nonsubsidi kurang laku, baik yang 5,5 kg atau 12 kg itu, karena tetap orang cari yang 3 kg," kata Rahmad kepada IDN Times, Rabu (22/4/2026).

1. Penjual merasa rugi jika menjual gas elpiji nonsubsidi

Rahmad Fauzi penjual gas elpiji di pangkalan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Fauzi yang sudah berjualan gas elpiji di pangkalannya sejak tahun 2000-an ini menjelaskan bahwa ia tidak menjual gas elpiji nonsubsidi sudah sebulan. Sebab, menurutnya untung tipis bahkan terkadang rugi karena kurang peminat.

"Ini tabungnya pada kosong, karena gak ada yang beli. Adapun yg beli nanti saya stok cuma 1 atau 2 tabung saja yang lalu dengan menunggu untung Rp15 ribu itu pun satu tabung," ucapnya.

Sedangkan gas elpiji 3 kg, Fauzi bisa menjual 120 tabung setiap pekan. "Makanya, kalau dari masyarakat gak habis paling dari pengecer atau kedai kecil," tutur Fauzi.

Dia juga menceritakan pernah kecewa, karena menjual gas elpiji nonsubsidi yang mengalami kebocoran, sehingga, merasa rugi. "Saya merasa kecewa karena pernah gas elpiji itu bocor setengah dikembalikan sama pembeli, dan minta ganti. Jadi, saya rugi. Untungnya cuma Rp15 ribu diantar tapi pas bocor dikembalikan. Makanya, saya gak mau jual lagi, apalagi makin naik harganya sekarang," jelasnya dalam cerita.

Untuk harga jual gas elpiji 12 kg Rp215ribu per tabung, dan 5 kg harganya Rp110 ribu per tabung, dan ukuran 3 kg harganya Rp15 ribu sudah dengan antar ke lokasi orderan masyarakat di sekitar pangkalan elpiji 3 kg di Jalan Karya Jaya.

2. Masih diberlakukan pembelian gas elpiji melon menggunakan KTP

Rahmad Fauzi penjual gas elpiji di pangkalan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Terkait penerapan aturan para pembeli gas elpiji melon masih diberlakukan menggunakan KTP, Fauzi menjelaskan untuk 1 KTP bisa mendapatkan 2 tabung dengan minimal 3 hari boleh kembali membeli. "Masih ditetapkan, karena kami pun ada laporan juga ke Pertamina," sambungnya.

Dia mengatakan ada jatah setiap pangkalan yang didapat, dan dirinya mendapatkan jatah 120 tabung gas elpiji melon. Fauzi berharap, tidak ada pembatasan uota ke pangkalan untuk membeli gas elpiji. Sehingga, masyarakat bisa membeli tanpa dibatasi juga.

3. Pertamina Patra Niaga Regional menyesuaikan harga LPG nonsubsidi wilayah Sumut

Rahmad Fauzi penjual gas elpiji di pangkalan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melakukan penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non subsidi di wilayah Sumatra Utara.Penyesuaian harga tersebut berlaku mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan dan diumumkan pada Senin (20/4/2026).

Adapun rincian harga LPG nonsubsidi di Sumatera Utara yakni Bright Gas 5,5 Kg menjadi Rp111.000, Bright Gas 12 Kg Rp230.000, serta LPG 50 Kg berkisar Rp1.075.000 hingga Rp1.082.000.

Harga tersebut berlaku di tingkat agen dalam radius hingga 60 kilometer dari SPBE. Sementara harga di pangkalan maupun outlet dapat berbeda menyesuaikan kondisi distribusi di masing-masing wilayah.

Editorial Team