Medan, IDN Times- Di sebuah kamar, Aprianto Tambunan merenung. Di usianya menginjak 22 tahun, ia masih disibukkan dengan pindah-pindah kos. Sebagai seorang pekerja di perantauan, selama 6 tahun, hal itu sudah lazim dilakukan Apri, sapaan akrabnya.
“Saya merantau ke Medan sejak 2017. Awalnya sering pindah kos hingga kontrakan. Terakhir, saya kos di kos-kosan yang agak elit. Per bulannya Rp1,3 juta. Tapi, jam 12 dini hari gerbangnya sudah ditutup,” kata Aprianto menceritakan kondisinya pada tahun 2023 lalu kepada IDN Times, Selasa (24/2/2026).
Sebagai seorang yang berprofesi sebagai jurnalis di salah satu media Kota Medan, Sumatra Utara, dengan jam kerja yang tidak terikat, tentu hal itu merepotkan bagi Apri. Apalagi tak jarang dia harus pulang larut karena tuntutan pekerjaan.
“Kerja jadi jurnalis kan tidak mengenal waktu, sering pulang malam. Jadi sering nunggu dibukakan. Dari situ saya berpikir, daripada seperti ini, sudah bayar mahal, sedangkan akses tidak bebas, mending cari rumah. Biaya kos tiap bulan itu bisa dialihkan untuk menyicil,” kata Apri.
Keputusan membeli rumah dipertimbangkan Apri di tengah kondisi ekonominya yang sedang tidak baik-baik saja. Saat itu membantu saudaranya yang sedang kesulitan. “Waktu beli rumah ini sebenarnya pun lagi berjuang dengan tekanan ekonomi, karena saat itu saya menanggung biaya abang yang baru kena PHK. Jadi saya bawa abang ke Medan daripada di kampung,” ucap pria kelahiran Palangkaraya, 8 April 2000 itu.
Dari situ, Apri membulatkan tekad mencari perumahan bersubsidi yang bisa dicicil sesuai dengan pendapatannya. Dia kemudian menemukan perumahan Rorinata di Desa Sukamaju, Deli Serdang, Sumatra Utara. Ini merupakan salah satu perumahan subsidi di bawah naungan Bank Tabungan Negara (BTN).
“Dapat info dari abang-abang senior yang sudah duluan di sini. Pas pula ada sisa satu unit rumahnya. Kemudian saya mulai menyiapkan persyaratan yang dibutuhkan setelah berkomunikasi dengan developer,” ucap Ayah satu anak ini.
Apri harus menyiapkan berkas surat kerja minimal 2 tahun, slip gaji, daftar mutasi rekening, surat domisili dan surat bebas dari cicilan untuk pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari BTN. Apri kemudian membayar booking fee Rp2 juta.
“Ternyata saya lolos semua persyaratan karena memang tidak ada tunggakan. Saya kemudian membayar DP (down payment) Rp15 juta. Rumah yang saya dapat desainnya memang berbeda dari lainnya dengan space kamar mandi di luar,” ucap anak bungsu dari tiga bersaudara ini.
