Kondisi Gampong Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)
Razak menilai permukiman warga saat ini sudah tidak layak lagi ditempati karena kondisi alur sungai yang sudah sejajar dengan permukiman. Selain itu, penangkal air dinilai sudah rendah sehingga berpotensi memicu banjir susulan.
“Kalau terjadi banjir lagi, kami khawatir akan terulang kejadian yang sama. Karena itu, harapan kami semua warga direlokasi, baik rumah yang masih berdiri maupun yang sudah hanyut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lokasi relokasi yang diusulkan tidak jauh dari permukiman saat ini dan masih berada di dalam wilayah Gampong Batu Sumbang. Jaraknya dinilai masih terjangkau dari lahan pertanian warga dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Keuchik terpilih Gampong Batu Sumbang itu menceritakan banjir bandang bukan kali pertama melanda wilayah tersebut.
Air besar dari luapan sungai pernah terjadi pada 1995. Namun, banjir masih tergolong aman bagi permukiman di bantaran sungai.
Kemudian, banjir kembali melanda Gampong Batu Sumbang pada 2006 atau 11 tahun pascabencana sebelumnya. Saat itu, banjir bandang memaksa warga direlokasi dari kampung lama di pinggiran sungai ke permukiman yang saat ini ditempati.
“Pada 2006, air tidak sampai ke permukiman yang sekarang. Tapi pada 2025 ini, air bukan hanya masuk, bahkan menenggelamkan permukiman,” katanya.