Medan, IDN Times - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Sumatra Utara, dr. Rizky Adriansyah mengatakan istilah "Super Flu" tiba-tiba meledak di lini masa, menyusup ke percakapan grup WhatsApp keluarga, dan mendarat di meja makan. Influenza A (H3N2) subclade K merupakan nama ilmiah yang terdengar asing itu—kini menjadi hantu baru.
Namun, di balik kepanikan publik yang mungkin berlebihan, tersimpan masalah klasik yang jauh lebih berbahaya daripada virus itu sendiri yaitu komunikasi publik pemerintah yang gagap dan manajemen krisis yang reaktif.
"Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan cepat mengeluarkan pernyataan penenang. 'Situasi terkendali' 'Jangan panik' 'Ini bukan virus baru'. Narasi ini terdengar seperti kaset rusak yang diputar ulang setiap kali ada ancaman kesehatan publik. Kita ingat betul bagaimana pola yang sama terjadi di awal pandemi COVID-19. Saat itu, pejabat kita sibuk menyangkal dan meremehkan, sementara virus sudah mengetuk pintu," jelasnya pada IDN Times.
