Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi influenza (pixabay.com/Mojpe)
ilustrasi influenza (pixabay.com/Mojpe)

Intinya sih...

  • Rizky sebut kata terkendali terasa seperti selimut tipis di malam yang membeku

  • Ketua IDAI Sumut menilai istilah Super Flu adalah produk dari kegagalan komunikasi sains

  • Sikap tenang saja dinilai menjadi resep bencana

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Sumatra Utara, dr. Rizky Adriansyah mengatakan istilah "Super Flu" tiba-tiba meledak di lini masa, menyusup ke percakapan grup WhatsApp keluarga, dan mendarat di meja makan. Influenza A (H3N2) subclade K merupakan nama ilmiah yang terdengar asing itu—kini menjadi hantu baru.

Namun, di balik kepanikan publik yang mungkin berlebihan, tersimpan masalah klasik yang jauh lebih berbahaya daripada virus itu sendiri yaitu komunikasi publik pemerintah yang gagap dan manajemen krisis yang reaktif.

"Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan cepat mengeluarkan pernyataan penenang. 'Situasi terkendali' 'Jangan panik' 'Ini bukan virus baru'. Narasi ini terdengar seperti kaset rusak yang diputar ulang setiap kali ada ancaman kesehatan publik. Kita ingat betul bagaimana pola yang sama terjadi di awal pandemi COVID-19. Saat itu, pejabat kita sibuk menyangkal dan meremehkan, sementara virus sudah mengetuk pintu," jelasnya pada IDN Times.

1. Rizky sebut kata terkendali terasa seperti selimut tipis di malam yang membeku

ilustrasi gejala influenza (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Lanjutnya, kini, dengan 62 kasus terdeteksi sejak Agustus 2025 di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, serta satu kematian yang dilaporkan, kata "terkendali" terasa seperti selimut tipis di malam yang membeku.

"Benarkah terkendali? Atau kita hanya belum melihat puncak gunung es-nya karena minimnya surveillance dan pelacakan genomik yang masif," ungkap Ketua IDAI Sumut ini.

Menurutnya, masalah utama bukan pada virulensi virusnya. Data awal memang menunjukkan H3N2 subclade K ini memiliki gejala mirip flu musiman. Masalahnya ada pada ketidaksiapan sistemik kita melindungi kelompok rentan. Lansia, anak-anak, dan mereka dengan komorbid adalah sasaran empuk.

"Ketika Kemenkes mengatakan tingkat keparahan tidak meningkat, itu adalah statistik di atas kertas. Di lapangan, bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya karena komplikasi flu yang seharusnya bisa dicegah, statistik itu tidak berarti apa-apa," sambungnya.

2. Ketua IDAI Sumut menilai istilah Super Flu adalah produk dari kegagalan komunikasi sains

Influenza (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

Baginya, istilah "Super Flu" adalah produk dari kegagalan komunikasi sains. Ketika otoritas kesehatan gagal memberikan informasi yang jernih, transparan, dan preemptive, ruang kosong itu akan diisi oleh spekulasi liar dan istilah jalanan yang menakutkan.

"Publik tidak bisa disalahkan karena merasa cemas. Mereka trauma. Mereka pernah dibohongi dengan narasi 'nasi kucing' dan 'kalung anti-virus'. Kepercayaan publik adalah mata uang yang mahal, dan pemerintah kita sedang mengalami defisit kepercayaan yang parah. Alih-alih hanya sibuk menjadi pemadam kebakaran informasi, mengklarifikasi hoaks setelah kepanikan terjadi, pemerintah seharusnya fokus pada mitigasi nyata. Bagaimana cakupan vaksinasi influenza kita? Masihkah dianggap barang mewah yang hanya bisa diakses kelas menengah atas? Bagaimana kesiapan fasilitas kesehatan di daerah jika lonjakan kasus benar-benar terjadi?," tegasnya.

3. Sikap tenang saja dinilai menjadi resep bencana

ilustrasi orang sakit influenza (pexels.com/Gustavo Fring)

Menurutnya, sikap "tenang saja" adalah resep bencana. Sebab, masyarakat tidak butuh kepanikan. Namun, butuh kewaspadaan yang terukur, bukan rasa aman palsu. Jika pemerintah terus berlindung di balik jargon teknis dan imbauan normatif tanpa aksi preventif yang agresif, maka "Super Flu" bukan sekadar julukan sensasional. Tapi, akan menjadi monumen baru bagi super lambatnya belajar dari kesalahan masa lalu.

"Pandemi mengajarkan kita satu hal yaitu virus tidak mengenal kompromi politik atau birokrasi. Ia hanya butuh satu celah, yakni ketidakpedulian. Dan saat ini, tampaknya kita sedang membuka celah itu lebar-lebar," pungkasnya.

Editorial Team