Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
METAL_3.jpg
Komunitas Metal Medan berbagi untuk penyintas banjir di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Intinya sih...

  • Bawa donasi hasil urunan dari musisi Indonesia hingga Eropa

  • Tergerak untuk kemanusiaan, melihat parahnya dampak bencana

  • Hampir 2 bulan bencana, belum ada perubahan berarti

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Aceh Tamiang, IDN Times - Ada pemandangan menarik terjadi di lokasi bencana banjir, Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Sekelompok pemuda berpenampilan gahar, beberapa penuh tato dan riasan tindik di badan, berambut gondrong dan berbusana serba gelap.

Warga sempat terkejut dengan kehadiran mereka. Karena penampilannya yang cukup berbeda dengan warga pada umumnya. Mereka merupakan para pegiat musik. Adalah komunitas Metal Medan yang turut terlibat dalam kegiatan kesukarelawanan di Aceh Tamiang.

Mereka tiba dengan membawa berbagai macam logistik untuk membantu para penyintas, Selasa (20/1/2026). Alat dapur, sembako, hingga kebutuhan untuk anak-anak, dibawa dari Medan.

“Ini kali kedua kami sudah ke Sekumur,” kata Diki, salah satu anggota Metal Medan disela kegiatan.

1. Bawa donasi hasil urunan dari musisi Indonesia hingga Eropa

Komunitas Metal Medan berbagi untuk penyintas banjir di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Tidak hanya menyalurkan logistik, di Sekumur mereka juga membantu melakukan trauma healing. Mereka menggelar nonton bareng (Nobar) dengan para penyintas.

Metal Medan sudah menyalurkan bantuan ke sejumlah daerah terdampak bencana di Sumatra. Donasi ini dikumpulkan dari para musisi dan penikmat musik metal dari berbagai penjuru.

“Jadi kita kumpulkan mulai dari banyak daerah, dari Malang, Jakarta, Bandung. Bahkan ada dari luar negeri seperti Malaysia, Amerika hingga Eropa,” kata Diki.

“Kita musisi – musisi musik metal bersatu untuk kebencanaan ini. Ada yang bikin acara musik, untuk mengumpulkan donasi,” ujar Emil, anggota lainnya menimpali.

2. Tergerak untuk kemanusiaan, melihat parahnya dampak bencana

Komunitas Metal Medan berbagi untuk penyintas banjir di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Kata Emil, tidak ada motif selain kemanusiaan yang menggerakkan komunitas musik metal membantu para penyintas. Emil melihat betul bagaimana keparahan dampak dari bencana ekologi yang terjadi. Sehingga mereka berinisiatif untuk membantu.

“Semua karena kemanusiaan dan hati nurani. Tidak ada motif lainnya,” kata Emil.

3. Hampir 2 bulan bencana, belum ada perubahan berarti

Kondisi pemukiman di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Hampir dua bulan pasca banjir, para penyintas di Aceh masih berjuang. Di Sekumur, masyarakat masih tinggal dengan segala keterbatasan. Mereka memanfaatkan sisa – sisa material bangunan rumah dan merangkainya menjadi tempat tinggal sementara.

Kata Diki, kondisi di Aceh jauh berbeda dari klaim pemerintah tentang kondisi Aceh sudah lebih baik. Menurut amatan Diki yang sudah berulang kali masuk ke Aceh selama bencana, kondisinya belum terjadi perubahan apapun.

“Ya lihat saja ke lapangan aja deh langsung. Karena kenyataannya ya sama-sama kita lihat gitu. Kondisi masih porak-poranda. Untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan hidup, kebutuhan rumah segala macem masih kacau balau-balau gitu kan,” katanya.

Dia pun mengkritik klaim pemerintah itu. Diki ingin, pemerintah langsung terjun ke lokasi-lokasi yang belum terjangkau.

“Pikirkan wargamu. Kalau yang kalian bilang itu NKRI harga mati, itu bullshit. Omong kosong,” pungkasnya.

Aceh Tamiang menjadi satu daerah yang terparah terdampak banjir Aceh. Data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menunjukkan, banjir telah mengakibatkan 74.801 Kepala Keluarga terdampak. Sebanyak 101 orang meninggal dunia. Menjadikannya sebagai daerah kedua dengan korban jiwa tertinggi setelah Aceh Utara. Sebanyak 6.052 orang kini masih tinggal di pengungsian.

Sementara itu, Sekumur menjadi salah satu perkampungan yang hilang diterjang banjir. Ada lebih dari 200 rumah hilang karena tersampu banjir. Lebih dari 200 kepala keluarga kini tinggal di pengungsian.  

Editorial Team