Kondisi pemukiman di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
Hampir dua bulan pasca banjir, para penyintas di Aceh masih berjuang. Di Sekumur, masyarakat masih tinggal dengan segala keterbatasan. Mereka memanfaatkan sisa – sisa material bangunan rumah dan merangkainya menjadi tempat tinggal sementara.
Kata Diki, kondisi di Aceh jauh berbeda dari klaim pemerintah tentang kondisi Aceh sudah lebih baik. Menurut amatan Diki yang sudah berulang kali masuk ke Aceh selama bencana, kondisinya belum terjadi perubahan apapun.
“Ya lihat saja ke lapangan aja deh langsung. Karena kenyataannya ya sama-sama kita lihat gitu. Kondisi masih porak-poranda. Untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan hidup, kebutuhan rumah segala macem masih kacau balau-balau gitu kan,” katanya.
Dia pun mengkritik klaim pemerintah itu. Diki ingin, pemerintah langsung terjun ke lokasi-lokasi yang belum terjangkau.
“Pikirkan wargamu. Kalau yang kalian bilang itu NKRI harga mati, itu bullshit. Omong kosong,” pungkasnya.
Aceh Tamiang menjadi satu daerah yang terparah terdampak banjir Aceh. Data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menunjukkan, banjir telah mengakibatkan 74.801 Kepala Keluarga terdampak. Sebanyak 101 orang meninggal dunia. Menjadikannya sebagai daerah kedua dengan korban jiwa tertinggi setelah Aceh Utara. Sebanyak 6.052 orang kini masih tinggal di pengungsian.
Sementara itu, Sekumur menjadi salah satu perkampungan yang hilang diterjang banjir. Ada lebih dari 200 rumah hilang karena tersampu banjir. Lebih dari 200 kepala keluarga kini tinggal di pengungsian.