Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketergantungan Energi Fosil, Batam Lumpuh Diterpa Blackout
ilustrasi blackout (unsplash.com/Nhan Hoang)
  • Pemadaman listrik sejak 12 Oktober 2026 pagi melanda sekitar 90 persen Batam, diduga terkait gangguan gardu transmisi; PLN masih menyelidiki penyebab dan memulihkan pasokan.

  • Blackout mengganggu distribusi air bersih di sejumlah instalasi ABH, mematikan lampu lalu lintas hingga memicu kemacetan, serta berisiko menghambat aktivitas industri, perdagangan, dan perkantoran.

  • Sistem kelistrikan Batam masih didominasi pembangkit fosil berkapasitas rencana 595,9 MW; cadangan daya Maret 2026 sebesar 119,8 MW tidak menjamin bebas blackout saat gangguan besar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Batam, IDN Times - Pemadaman listrik berskala luas melanda Kota Batam sejak, Senin (12/10/2026) sekitar Pukul 06.30 WIB. Gangguan yang berdampak pada sekitar 90 persen wilayah Batam itu melumpuhkan sejumlah aktivitas masyarakat, mulai dari distribusi air bersih, kegiatan industri, hingga lalu lintas di sejumlah ruas jalan akibat tidak berfungsinya lampu lalu lintas.

Manager Komunikasi dan Humas PLN Batam, Yoga Perdana Sulastama mengatakan, sekitar 90 persen wilayah Kota Batam terdampak pemadaman listrik.

"Gangguan tersebut diduga berkaitan dengan gangguan pada gardu transmisi. Hingga berita ini disusun, tim PLN Batam masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab gangguan dan memulihkan pasokan listrik," kata Yoga saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler.

Dampak pemadaman meluas melampaui sektor kelistrikan. Terhentinya pasokan listrik mengganggu distribusi air bersih kepada masyarakat, sementara padamnya lampu lalu lintas memicu kemacetan parah di sejumlah titik.

Di tengah kondisi tersebut, ketergantungan pada energi fosil menjadi bagian penting dari evaluasi ketahanan energi Batam, meskipun penyebab teknis blackout belum dapat dipastikan.

1. Gangguan listrik merambat ke layanan dasar

ilustrasi mati lampu (pixabay.com/designer-obst)

Pemadaman listrik memperlihatkan eratnya ketergantungan layanan perkotaan terhadap pasokan energi. Ketika listrik terputus, pompa dan peralatan distribusi air yang membutuhkan tenaga listrik dapat ikut terganggu. Masyarakat pun menghadapi persoalan berlapis, bukan hanya kehilangan penerangan dan akses terhadap peralatan elektronik, melainkan juga terganggunya pemenuhan kebutuhan air sehari-hari.

Berdasarkan keterangan resmi Air Batam Hilir (ABH), gangguan listrik dari PLN Batam berdampak pada operasional sejumlah Instalasi Pengolahan air, yakni IPAM Sei Ladi, IPAM Harapan, Booster Ozon, IPAM Duriangkang, IPAM Tembesi, IPAM Muka Kuning, IPAM Nongsa, dan IPAM Piayu.

Air Batam Hilir menyatakan pelayanan air bersih akan dipulihkan secara bertahap seiring normalisasi pasokan listrik dari PLN Batam dan kembali normalnya operasional instalasi.

Selain air, dampak serupa terlihat pada mobilitas warga. Lampu lalu lintas yang tidak berfungsi membuat pengaturan kendaraan di persimpangan menjadi lebih sulit, terutama ketika volume kendaraan meningkat pada jam berangkat kerja. Aktivitas perkantoran, perdagangan, dan industri juga berisiko terganggu selama pasokan listrik belum pulih sepenuhnya.

2. Pasokan fosil mendominasi, transisi energi menjadi pekerjaan rumah

ilustrasi penggunaan energi fosil (pexels.com/Pixabay)

Sebagaimana diketahui, struktur pembangkitan Batam masih mengandalkan energi fosil, terutama gas dan batu bara. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN Batam 2023-2032, kapasitas yang dirinci mencakup pembangkit gas milik PLN Batam sebesar 142,5 megawatt (MW), pembangkit berbahan bakar minyak 39 MW, pembangkit gas milik produsen listrik swasta sebesar 315,4 MW, serta pembangkit batu bara sebesar 99 MW.

Total kapasitas dalam rincian tersebut mencapai 595,9 MW. Angka ini berasal dari dokumen perencanaan dan bukan inventaris daya mampu pasok terkini.

Ketergantungan pada bahan bakar fosil membawa konsekuensi lingkungan, termasuk emisi gas rumah kaca dan pencemaran dari proses pembangkitan. Pada saat yang sama, ketahanan pasokan juga ditentukan oleh kondisi pembangkit, ketersediaan bahan bakar, jaringan transmisi, dan sistem proteksi kelistrikan.

Transisi menuju energi terbarukan dapat membantu mengurangi emisi, tetapi tidak otomatis menghilangkan risiko blackout. Pembangkit surya, misalnya, memerlukan dukungan jaringan yang memadai, pengelolaan variasi produksi, penyimpanan energi, dan pengaturan beban. Dengan demikian, pengurangan ketergantungan pada energi fosil perlu berjalan bersama penguatan keandalan sistem.

3. Cadangan daya bukan jaminan bebas blackout

(Ilustrasi mati listrik) IDN Times/Hendra Simanjuntak

Data PLN Batam pada Maret 2026 menunjukkan daya mampu pasok sistem Batam-Bintan sebesar 880,8 MW, dengan prediksi beban puncak 761 MW. Selisihnya mencapai 119,8 MW atau sekitar 15,7 persen dari prediksi beban puncak.

Data tersebut menunjukkan adanya cadangan daya dalam skenario yang diperkirakan saat itu, tetapi tidak menjamin seluruh kapasitas selalu tersedia atau dapat disalurkan ketika terjadi gangguan besar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article