Medan, IDN Times - Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah, termasuk Kota Medan yang dalam beberapa hari sempat terpapar asap.
Merespons kondisi darurat ini, pemerintah dan otoritas kesehatan secara rutin mengeluarkan imbauan agar masyarakat mengenakan masker serta membatasi aktivitas di luar ruangan. Meski imbauan tersebut rasional dan penting demi kesehatan, pendekatan ini dinilai menyembunyikan akar persoalan yang sesungguhnya.
Sosiolog Universitas Negeri Medan (Unimed), Ismail Jahidin, menilai penanganan kabut asap yang terus-menerus berfokus pada adaptasi warga justru menggeser tanggung jawab dari pelaku pembakaran kepada para korban.
Dari kacamata sosiologi, Ismail menyoroti tiga persoalan mendasar di balik ironi penanganan kabut asap dan karhutla di Indonesia.
