Ilustrasi karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyebutkan bahwa peningkatan kerawanan karhutla dipicu oleh menurunnya tinggi muka air tanah dan meluasnya sebaran hotspot di berbagai daerah Sumatera.
“Untuk mengantisipasi peningkatan kerawanan saat ini sudah dimulai operasi patroli pencegahan di Riau. Patroli ini digunakan untuk mendeteksi kondisi lapangan lebih awal, memperkuat koordinasi sehingga informasi lapangan terutama dari masyarakat akan lebih cepat sehingga mempercepat respon apabila ada kejadian. Kemudian untuk cek kondisi bahan bakaran, potensi sumber air dan isu terkait karhutla di masyarakat,” ujar Ferdian dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan, pemantauan tinggi muka air tanah dari Simatag Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan beberapa wilayah di Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Jambi telah berada pada level rawan hingga berbahaya. Sementara itu, pemantauan hotspot harian dan Fire Danger Rating System (FDRS) BMKG juga menunjukkan peningkatan kerawanan yang hampir merata di Sumatera.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Sumatera Utara (Sumut) untuk tetap waspada meski kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir umumnya cerah berawan. BMKG mencatat adanya puluhan titik panas atau hotspot yang terpantau di sejumlah wilayah di Sumut.
Prakirawan BBMKG Wilayah I Medan, Defri Mandoza, menyebut hotspot tersebut memiliki tingkat kepercayaan menengah dan perlu menjadi perhatian bersama, terutama di tengah cuaca yang relatif kering di beberapa daerah.
BMKG mencatat sebanyak 80 titik hotspot terpantau sejak 24 Januari 2026 di berbagai wilayah Sumatera Utara. Titik panas tersebut tersebar di Dairi, Humbang Hasundutan (Humbahas), Karo, Mandailing Natal (Madina), Nias Selatan (Nisel), Nias Utara, Padang Lawas Utara (Paluta), Pakpak Bharat, Simalungun, Samosir, Tapanuli Tengah (Tapteng), dan Toba.