Saat pelaksanaan Erpangir Ku Lau sebagai ritual tradi sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo (Dok. Kemenag Sumut)
Prosesi kegiatan diawali dengan doa (Ersudip) bersama yang dipimpin oleh pemuka adat dan pemangku ritual. Selanjutnya dilakukan pemberkatan air pangir, yaitu air yang telah dicampur dengan berbagai tumbuhan aromatik (berbagai macam jeruk dan daun daun) dan bunga sebagai simbol kesucian dan keseimbangan alam.
Setelah prosesi doa, para peserta mengikuti ritual Erpangir Ku Lau dengan melakukan penyucian diri menggunakan air pangir di aliran sungai. Ritual ini dipercaya mampu membersihkan diri dari unsur-unsur negatif serta memohon keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kehidupan.
Pembimbing Masyarakat Hindu Elirosa Tarigan mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya ritual ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari pelestarian kearifan lokal sekaligus memperkaya khazanah praktik keagamaan Hindu di Indonesia.
Lanjutnya, pemerintah melalui pembinaan keagamaan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan menjaga tradisi spiritual masyarakat, khususnya yang memiliki nilai budaya dan filosofi yang kuat.
“Secara filosofis, ritual Erpangir Ku Lau mengandung makna penyucian lahir dan batin. Air dalam ritual ini dipandang sebagai simbol kehidupan dan pemurnian, sedangkan pelaksanaan di sungai mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta,” ungkapnya.