Jaka Kelana selaku Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut (IDN Times/Eko Agus Herianto)
Sementara Jaka Kelana selaku Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut, mengatakan bahwa sampai saat ini mereka aktif menyalurkan bantuan. Bahkan mereka juga aktif menginvestigasi terkait apa yang menjadi akar permasalahan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra khususnya Sumatra Utara.
“Nah, dari permasalahan ini, kita juga telah melaporkan 7 perusahaan yang kita duga kuat itu berkontribusi besar dalam laju deforestasi di ekosistem Batang Toru. Ya, ini ekosistem yang meliputi Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara. Berbicara tentang DAS, dengan adanya kayu-kayu yang dibawa oleh banjir beserta material-material lumpur, itu adalah bukti yang tak terbantahkan. Alam yang membuktikan bahwa memang telah terjadi kerusakan di hulu dan di daerah aliran sungai yaitu aliran sungai Garoga, daerah aliran Batang Toru, dan Angoli. Bahkan ada beberapa aliran-aliran sungai kecil yang bermuara pada Sungai Garoga atau Sungai Batang Toru,” sebut Jaka Kelana.
Saat ini saja 10.795 hektare hutan di Batang Toru telah dialihfungsikan dalam sepuluh tahun terakhir, yang diperkirakan setara dengan sekitar 5,4 juta pohon yang hilang akibat aktivitas 7 perusahaan besar di kawasan tersebut.
Dalam hal konsep tata ruang ini, WALHI Sumatra Utara disebut Jaka sudah sejak lama mengusulkan ekosistem Batang Toru ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional dari sudut kepentingan lingkungan hidup. Sebab, mereka melihat bahwa ekosistem Batang Toru tidak hanya berstatus sebagai kawasan hutan saja.
“Artinya, bahwa pengawasan, penegakkan hukum yang berada di lingkup ekosistem Batang Toru itu tidak hanya dilakukan oleh Kementerian Kehutanan atau Kementerian Lingkungan Hidup, tapi banyak aspek. Jadi, dalam hal ini, Kementerian Kehutanan itu terbatas, ya, dalam hal wilayah yang memang seharusnya hanya di kawasan hutan.
Sementara ekosistem Batang Toru itu ada areal penggunaan lain. Namun, tutupan hutan tropis yang ada di areal penggunaan lain ini masih sangat asri sehingga patut untuk kita jaga, begitu juga dengan fungsinya. Tidak hanya sebagai penyangga atau resapan air, tapi juga sebagai habitat dari berbagai satwa kunci, misalnya orang utan, tapir, harimau, dan lain sebagainya,” tutur Jaka.