Istana Tunggang Bosar (screenshot YouTube Dedi Suhendra)
Tahun 2007, raja-raja luat se-Tapanuli Bagian Selatan berkumpul dan bersidang. Hasilnya: membentuk Kesultanan Dhasa Nawalu yang artinya “delapan arah mata angin”.
Sultan pertama: Daulat Tuanku Sultan Haji Baharuddin Harahap, gelar lengkapnya: Ompu Toga Langit Raja Tuan Tua Patuan Nagaga Najungal Yang Dipertuan Dhasa Nawalu Tapanuli Bagian Selatan.
Permaisuri: Naduma Sari Gusti Raden Ayu Boru Siagian, cucu Sultan Hamengku Buwono IX dari Keraton Yogyakarta. Hubungan kekerabatan ini membuat Kesultanan Dhasa Nawalu dikenal di kalangan keraton se-Nusantara, Malaysia, Thailand, hingga Brunei Darussalam.
Istana dibangun atas inisiatif dan dana pribadi keturunan raja luat. Tujuannya sangat jelas:
Visi: “Membina dan melestarikan adat-istiadat dan budaya Dalihan Natolu – Kahanggi, Mora, Anak Boru – dalam orientasi kultur masyarakat Tabagsel, dengan bersendikan Islam”.
Peresmian: Kamis, 5 Juni 2008. Diresmikan oleh Wakil Bupati Tapsel Aldinz Rapolo Siregar. Prasasti peresmian ditandatangani Sultan Hamengku Buwono X yang diwakili adiknya Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hadi Winoto.
Acara peresmian sekaligus syukuran 56 tahun usia Sultan Baharuddin Harahap. Disaksikan sultan-sultan se-Nusantara, keluarga Keraton Yogyakarta, dan unsur Muspida Plus se-Sumut.