Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Istana Indra Sakti di Tanjung Balai, Jejak Kejayaan Kesultanan Asahan
Istana Indra Sakti, Kesultanan Asahan di Tanjung Balai (Dok. website sultansinindonesieblog.wordpress.com)
  • Istana Indra Sakti dibangun tahun 1815 oleh Sultan Muhammad Husin Rahmatsyah II sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Asahan dengan arsitektur kayu bergaya Melayu yang sarat simbol kebesaran budaya.
  • Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Tanjung Balai berkembang pesat sebagai pelabuhan internasional ekspor lada dan tembakau, menjadikan Istana Indra Sakti pusat diplomasi dan kegiatan politik pesisir timur Sumatera.
  • Setelah Revolusi Sosial 1946 yang mengakhiri sistem kesultanan, Istana Indra Sakti selamat dan kini berfungsi sebagai museum serta simbol pelestarian adat Melayu Asahan di Tanjung Balai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
tahun 1630

Kesultanan Asahan didirikan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah, putra Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Wilayah Asahan awalnya merupakan bagian dari Kesultanan Aceh.

abad ke-18 sampai awal abad ke-20

Asahan mencapai masa kejayaan sebagai bandar lada dan tembakau. Pelabuhan Tanjung Balai menjadi pusat perdagangan internasional dengan kapal dari Penang, Singapura, China, dan Arab.

tahun 1815

Istana Indra Sakti dibangun pada masa Sultan Muhammad Husin Rahmatsyah II sebagai pusat pemerintahan dan kediaman sultan. Arsitekturnya bergaya Melayu tradisional dengan simbol-simbol kebesaran kesultanan.

tahun 1865

Kesultanan Asahan menandatangani Korte Verklaring dengan Belanda. Sejak itu Asahan menjadi zelfbestuur di bawah pengawasan Hindia Belanda.

Maret 1946

Revolusi Sosial Sumatera Timur menyebabkan banyak istana Melayu diserbu massa. Sultan Syarif Syaibun Abdul Jalil Rahmatsyah wafat, namun Istana Indra Sakti selamat meski sistem kesultanan berakhir.

tahun 1988

Istana Indra Sakti ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

kini

Istana Indra Sakti dikelola ahli waris dan Pemko Tanjung Balai sebagai Museum Kesultanan Asahan yang terbuka untuk wisatawan. Tradisi Melayu Asahan masih hidup melalui lembaga adat, upacara maritim, dan tarian daerah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Istana Indra Sakti di Tanjung Balai merupakan bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Asahan yang kini difungsikan sebagai Museum Kesultanan Asahan dan menjadi objek wisata budaya.
  • Who?
    Istana ini dibangun oleh Sultan Muhammad Husin Rahmatsyah II, Sultan Asahan ke-9, dan kini dikelola oleh ahli waris kesultanan bersama Pemerintah Kota Tanjung Balai.
  • Where?
    Bangunan terletak di Jalan Istana No.1, Kelurahan Tanjung Balai Kota I, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara.
  • When?
    Pembangunan istana dilakukan sekitar tahun 1815 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Husin Rahmatsyah II dan ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1988.
  • Why?
    Pembangunan dilakukan untuk menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Asahan sekaligus tempat tinggal sultan serta lokasi penerimaan tamu kerajaan dari berbagai wilayah pesisir timur Sumatera.
  • How?
    Istana dibangun dengan arsitektur Melayu tradisional berbentuk rumah panggung dari kayu meranti dan jati tanpa paku besi, dihiasi ukiran khas Melayu serta warna kuning yang melambangkan kebesaran kerajaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dulu ada istana kayu namanya Istana Indra Sakti di Tanjung Balai, dekat sungai besar. Istana itu tempat raja Asahan tinggal dan kerja. Dulu ramai karena banyak kapal dagang datang bawa lada dan tembakau. Waktu perang, banyak istana rusak tapi istana ini tidak terbakar. Sekarang jadi museum dan orang bisa datang lihat benda-benda lama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Keberadaan Istana Indra Sakti menunjukkan keteguhan warisan budaya Melayu Asahan yang tetap hidup meski zaman berubah. Arsitekturnya yang megah dan penuh simbol menjadi saksi kejayaan maritim masa lalu, sementara pengelolaannya sebagai museum memperlihatkan komitmen masyarakat Tanjung Balai menjaga sejarah, adat, dan identitas lokal agar terus dikenal generasi kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Di pinggir Sungai Asahan, Tanjung Balai, berdiri satu bangunan kayu bersejarah. Yaitu, Istana Indra Sakti. Istana ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Asahan selama ratusan tahun, dan bukti kuatnya pengaruh Melayu di pesisir timur Sumatra Utara.

Menurut beberapa artikel, asal-usul Kesultanan Asahan ini lahir sekitar tahun 1630 oleh Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah, putra Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Awalnya wilayah Asahan adalah bagian dari Kesultanan Aceh. Sultan Iskandar Muda mengutus anaknya untuk memerintah wilayah pesisir yang subur ini.

Nama “Asahan” sendiri konon dari kata “asah” dan “an”. Ceritanya, saat Sultan pertama menebas semak buat buka wilayah, goloknya jadi tumpul dan harus diasah terus-menerus.

Istana ini beradal di Jalan Istana No.1, Tanjung Balai Kota I, Kota Tanjung Balai. Tiket Rp5 ribu per orang, buka mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB.

1. Istana Indra Sakti dibangun tahun 1815

Istana Indra Sakti, Kesultanan Asahan di Tanjung Balai (https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/sultan-of-asahan/)

Istana Indra Sakti dibangun pada masa Sultan Muhammad Husin Rahmatsyah II, Sultan Asahan ke-9. Pada saat itu sekitar tahun 1815 Masehi.

Nama “Indra Sakti” diambil dari gelar kebesaran Sultan Asahan. Istana ini menjadi pusat pemerintahan, tempat tinggal sultan dan keluarga, sekaligus tempat menerima tamu kerajaan lain dari Selat Malaka.

Arsitektur istana kental gaya Melayu tradisional adalah rumah panggung dari kayu meranti dan kayu jati pilihan, tanpa paku besi, atap limas bersusun khas rumah Melayu, warna kuning yang dominan melambangkan kebesaran Melayu, ukiran motif pucuk rebung yang berrawan larat dan lebah bergantung di dinding, serta tiang utama 66 batang, melambangkan jumlah ayat dalam Al-Qur’an Juz 30.

2. Masa kejayaan pada masa bandar lada dan tembakau

Istana Indra Sakti, Kesultanan Asahan di Tanjung Balai (Dok. website sultansinindonesieblog.wordpress.com)

Abad ke-18 sampai awal abad ke-20, Asahan jaya karena pelabuhan Tanjung Balai. Letaknya di muara Sungai Asahan yang langsung ke Selat Malaka membuat Tanjung Balai menjadi bandar internasional.

Komoditas ekspornya yakni lada, tembakau Deli, karet, dan hasil hutan. Sedangkan transportasi atau kapal dagangnya dari Penang, Singapura, China, dan Arab singgah. Pajak pelabuhan membuat khas kesultanan melimpah. Sultan Asahan juga menjalin hubungan dagang dengan Belanda, Inggris, dan Kesultanan Siak.

Di era ini Istana Indra Sakti menjadi saksi pertemuan diplomat, jamuan kerajaan, dan perumusan strategi politik pesisir timur Sumut.

3. Masuk Belanda dan revolusi sosial tahun 1946

Istana Indra Sakti, Kesultanan Asahan di Tanjung Balai (https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/sultan-of-asahan/)

Pada tahun 1865, Kesultanan Asahan tanda tangan Korte Verklaring dengan Belanda. Asahan masuk Hindia Belanda sebagai zelfbestuur, sultan tetap berkuasa tapi di bawah pengawasan Asisten Residen.

Pukulan berat datang saat Revolusi Sosial Sumatera Timur pada Maret 1946. Gelombang anti-feodal bikin banyak istana Melayu di Sumut diserbu massa.

Sultan Asahan ke-13, Sultan Syarif Syaibun Abdul Jalil Rahmatsyah, beserta banyak bangsawan Asahan wafat. Namun, Istana Indra Sakti selamat dari pembakaran, tapi sistem kesultanan resmi berakhir. Sejak itu, Tanjung Balai menjadi bagian RI.

Istana Indra Sakti terletak di Jl. Istana, Kel. Tanjung Balai Kota I, Kec. Tanjung Balai Selatan. Lalu, tahun 1988 ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Departemen pendidikan dan budaya.

Isi istana yang masih ada yakni, singgasana sultan dqn permaisuri, foto sultan-sultan Asahan dari generasi ke generasi, meriam kuno peninggalan kerajaan, perabot antik seperti meja, kursi ukir, tempat tidur sultan dan regalia seperti payung kuning, tombak kerajaan, dan stempel kesultanan.

Sekarang istana dikelola ahli waris dan Pemko Tanjung Balai sebagai Museum Kesultanan Asahan, yang buka setiap hari untuk wisatawan.

Meskipun kesultanan bubar, adat Melayu Asahan masih jalan dengan Lembaga Adat Melayu Asahan dipimpin Tengku Setia Diraja, upacara Maritim seperti tradisi “Membuang Antu Laut” masih digelar nelayan, tari persembahan Asahan dan Gubang menjadi tarian resmi untuk menyambut tamu, dan dialek Melayu Asahan masih dipakai warga Tanjung Balai harian.

Nilai penting Istana Indra Sakti merupakan bukti bahwa Tanjung Balai bukan cuma “kota kerang”. Namun, ini menjadi bekas ibukota kesultanan maritim yang kuat, kosmopolit, dan menjadi simpul dagang Selat Malaka 200 tahun lalu.

Editorial Team