Istana Indra Sakti, Kesultanan Asahan di Tanjung Balai (https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/sultan-of-asahan/)
Pada tahun 1865, Kesultanan Asahan tanda tangan Korte Verklaring dengan Belanda. Asahan masuk Hindia Belanda sebagai zelfbestuur, sultan tetap berkuasa tapi di bawah pengawasan Asisten Residen.
Pukulan berat datang saat Revolusi Sosial Sumatera Timur pada Maret 1946. Gelombang anti-feodal bikin banyak istana Melayu di Sumut diserbu massa.
Sultan Asahan ke-13, Sultan Syarif Syaibun Abdul Jalil Rahmatsyah, beserta banyak bangsawan Asahan wafat. Namun, Istana Indra Sakti selamat dari pembakaran, tapi sistem kesultanan resmi berakhir. Sejak itu, Tanjung Balai menjadi bagian RI.
Istana Indra Sakti terletak di Jl. Istana, Kel. Tanjung Balai Kota I, Kec. Tanjung Balai Selatan. Lalu, tahun 1988 ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Departemen pendidikan dan budaya.
Isi istana yang masih ada yakni, singgasana sultan dqn permaisuri, foto sultan-sultan Asahan dari generasi ke generasi, meriam kuno peninggalan kerajaan, perabot antik seperti meja, kursi ukir, tempat tidur sultan dan regalia seperti payung kuning, tombak kerajaan, dan stempel kesultanan.
Sekarang istana dikelola ahli waris dan Pemko Tanjung Balai sebagai Museum Kesultanan Asahan, yang buka setiap hari untuk wisatawan.
Meskipun kesultanan bubar, adat Melayu Asahan masih jalan dengan Lembaga Adat Melayu Asahan dipimpin Tengku Setia Diraja, upacara Maritim seperti tradisi “Membuang Antu Laut” masih digelar nelayan, tari persembahan Asahan dan Gubang menjadi tarian resmi untuk menyambut tamu, dan dialek Melayu Asahan masih dipakai warga Tanjung Balai harian.
Nilai penting Istana Indra Sakti merupakan bukti bahwa Tanjung Balai bukan cuma “kota kerang”. Namun, ini menjadi bekas ibukota kesultanan maritim yang kuat, kosmopolit, dan menjadi simpul dagang Selat Malaka 200 tahun lalu.