Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Setahun Kampung Internet: Bandrek Rumahan Tembus Singapura, Anak Desa Melek Digital
Pelaku UMKM Nurjanah mempromosikan produk bandrek instan sambil live facebook (IDN Times/Doni Hermawan)

Internet tak lagi jadi kebutuhan mewah bagi masyarakat Desa Keramat Gajah, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Setahun berjalan, program Kampung Internet Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjembatani warga desa tumbuh dan berkembang di sektor ekonomi hingga akses pendidikan.

Bunyi blender meraung di sebuah rumah sederhana di Desa Keramat Gajah, Kecamatan Galang, Deli Serdang,Sumatra Utara. Nurjanah, memasukkan potongan-potongan jahe yang dipadu dengan serai dan kunyit ke dalam mesin penghalus itu. Di sampingnya sebuah ring light dan handphone dalam kondisi menyala, merekam kegiatan yang dilakukannya.

Usai mematikan mesin blender, ia mengambil sebuah bungkusan berwarna hijau lalu mulai cuap-cuap di depan ponselnya. Senyum terus merekah di wajahnya.

“Assalamualaikum Bunda-bunda. Ready bandrek instan Kehati Bapak Ibu. Minuman herbal yang menyehatkan. Silakan diorder Bunda,” kata Nurjanah di depan ponselnya

Nurjanah ternyata sedang melakukan siaran langsung kegiatannya di dapur lewat media sosial. Perempuan berusia 50 tahun itu sedang meracik bandrek instan untuk dijual ke khalayak lalu mempromosikannya lewat facebook. “Biasalah mamak-mamak FB (facebook) pro,” kata Nurjanah, Kamis 8 Oktober 2026 lalu.

Nurjanah adalah salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari Desa Keramat Gajah yang memanfaatkan internet untuk memerluas pasarnya. Pembuatan bandrek mulai dari pencucian jahe, memasak menggunakan kayu bakar, pematangan di oven, hingga pengemasan kerap disiarkan langsung oleh Nurjanah.

 Kepada IDN Times, Nurjanah mengisahkan bagaimana awal mula dirinya terjun memulai usaha bandrek instan yang kini menjadi produk unggulan Desa Keramat Gajah.

 “Dulunya ini kegiatan kelompok PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) melalui pemanfaatkan lahan pekarangan rumah dengan menanam tanaman obat keluarga tahun 2014. Seperti jahe, serai, dan kunyit. Kemudian diolah jadi produk bernilai ekonomi. Makanya kami kemudian membuat bandrek instan ini,” kata Nurjanah.

Proses produksi awalnya tak mulus. Beberapa kali dirinya dan para Ibu lainnya mengalami kegagalan, tapi dengan terus mencoba, akhirnya melahirkan produk yang digemari masyarakat.

Pelaku UMKM Nurjanah saat menyiapkan produk bandrek instan sambil live facebook (IDN Times/Doni Hermawan)

Usaha bandrek instan pun menemukan pasarnya. Awalnya Nurjanah memasoknya ke warung-warung yang ada di desa tersebut. Dijual dengan harga Rp1.000 per bungkus kecil. “Ada sekitar 10 warung yang saya masukkan bandrek instan ini dan hingga kini rutin menjual. Selain itu juga dari mulut ke mulut,” kata Ibu empat anak itu.

Nurjanah kemudian berpikir bagaimana produknya bisa dikenal tidak hanya di kampung sendiri. Ia kemudian memanfaatkan media sosial untuk mempromosikannya. Mulai dari Facebook, instagram, hingga TikTok. Nurjanah mulai memelajari cara memasarkan produk lewat internet. Selain itu kemasan juga dibuat lebih menarik dan dijual seharga Rp30 ribu per bungkus dengan ukuran yang lebih besar.

“Kami belajar buat video promosi, mengedit konten, sampai live ini. Belajar lewat tutorial saja. Awalnya memang grogi. Lama-lama jadi terbiasa sendiri,” kata Nurjanah.

Dari awalnya hanya beredar di desa, kini segarnya Bandrek Instan Kehati sudah sampai ke pelanggan di luar Sumatra Utara. Seperti di Pekanbaru. Bahkan pernah dibawa hingga ke negara lain.

“Pernah dulu dibawa studi banding ke Rusia dibawa dalam kegiatan desa percontohan. Mereka minta produk unggulan dari desa ini. Jadinya cocok, apalagi di sana lagi musim dingin,” tambahnya.

Selain itu Bandrek Instan Kehati juga sudah sampai dijual ke Singapura. Meskipun dipasarkan melalui perantara. “Jadi waktu launching kampung internet di sini, pihak Komdigi order dan kemudian suka. Keluarga-keluarga mereka pesan sampai ada permintaan dari Singapura. Jadi mereka yang kirimkan karena saya kan masih belum paham. Mereka bisa beli sampai 30 pcs sekali pesan,” kata Nurjanah.

Hal itu menjadi pengalaman berharga bagi Nurjanah. Produk rumahan dari desa ternyata bisa menembus nasional bahkan internasional. Ia menyadari besarnya peran internet jika dimanfaatkan dengan positif.

Untuk itu ia sangat bersyukur saat Desa Keramat Gajah dipilih sebagai salah satu desa Kampung Internet dari Komdigi. Sebagai pelaku UMKM, dirinya mendapat akses WiFi gratis dari Komdigi selama setahun.

“Kami UMKM sangat terbantu adanya Wifi gratis ini. Apalagi banyak butuh kuota untuk pakai media sosial dan live. Bisa mengurangi biaya paket internet. Satu hari saya bisa sampai empat kali live,” ucapnya.

Dengan semakin luasnya pasar bandrek Instan Kehati, Nurjanah bisa mendapatkan penghasilan cukup menjanjikan. Hal itu bisa dimanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Omzet bisa dapat Rp3 juta per bulan kalau dirata-ratakan. Harapan kita pelaku UMKM bisa mendapatkan penghasilan untuk keluarga dan memerluas pasar penjualan,” ujarnya.

Dua orang murid SD Negeri di Kecamatan Galang, Deli Serdang, sedang menggunakan laptop dengan memanfaatkan internet (IDN Times/Doni Hermawan)

Manfaat internet gratis di Desa Keramat Gajah terlihat dalam bentuk berbeda-beda. Sektor pendidikan menjadi salah satu yang merasakan dampaknya. Baik guru dan murid bisa memanfaatkan jaringan internet gratis Komdigi untuk mendukung aktivitas belajar mengajar.

Bagi Naura Safa Prasetya, siswi kelas VI SD Negeri 105380 Desa Keramat Gajah, internet bukan hanya sarana mencari hiburan. Bocah berusia 11 tahun itu memanfaatkan wifi gratis itu untuk menggali informasi terkait bidang pelajarannya. Sebagai anak desa, jadi lebih melek digital.

“Lumayan sering belajar pakai internet. Belajar nyari informasi. Contohnya ngerjain tugas. Biasanya mata pelajaran bahasa Indonesia. Arti suatu kata,” kata Naura yang tengah belajar dengan mengggunaka laptop bersama temannya Adelia.

Menurutnya internet sangat membantu karena bisa membantu dalam pengerjaan tugas. Syukurnya di rumah keluarga Naura menjadi salah satu yang mendapat akses wifi gratis.

“Asyik belajar pakai wifi karena bisa nyari informasi lebih luas. Kalau di rumah ngerjain PR, nyari informasi,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Adelia, teman sekelasnya juga merasakan manfaat yang sama. Apalagi dengan adanya wifi gratis, dirinya bisa menabung. “Pakai wifi gak perlu beli kuota. Duitnya bisa ditabung sampai Rp500 ribu. Akhir tahun mau ganti kelas beli buku, beli tas,” ucap Adelia.

Internet gratis di sekolah ini juga membantu guru dalam memberikan variasi materi pengajaran untuk siswa. Erni, staf pengajar di SD Negeri 105380 Desa Keramat Gajah mengatakan adanya wifi gratis membuat akses internet lebih merata.

“Sangat membantu sekali wifi gratis. Sebelumnya ada wifi tapi di bagian sini, tidak sampai ke kelas 3. Jadi sekaran anak-anak bisa belajar pakai TV. Lihat-lihat video. bisa lebih menarik lagi belajarnya,” ucapnya.

Hal itu akan lebih menarik perhatian murid sehingga tak hanya belajar dengan buku. Apalagi di era digital ini. Meski demikian, guru-guru tetap menyesuaikan penggunaan teknologi dengan kebutuhan pembelajaran. Konten dan durasi pengguaannya perlu dibatasi karena internet sebagai alat bantu belajar saja.

“Lebih nyaman karena bisa berbagai media. Anak-anak gak cepat bosan lihat dari buku saja. Bisa game-game juga. Kuis-kuis. Untuk seni, bisa lihat tarian-tarian dari TV.  Ada animasi-animasi lebih senang anak-anak,” ucapnya.

Kepala Desa Keramat Gajah Sugiaman (IDN Times/Doni Hermawan)

Kepala Desa Keramat Gajah, Sugiaman juga mengatakan Desa Keramat Gajah sebelumnya menjadi tempat pertama diluncurkannya kampung internet dengan dihadiri langsung Menteri Komdigi Meutya Hafid pada September 2025 lalu. Selama setahun berjalan, menurutnya internet gratis ini sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat desanya. Apalagi internet gratis tidak hanya untuk kepentingan perseorangan, tapi juga mendukung fasilitas umum seperti sekolah hingga posyandu.

“Jadi desa ini mendapat jatah 120 penerima. Awalnya Internet gratis gak bayar selama 4 bulan. Penambahan lagi 4 bulan, 8 bulan hingga jadiinya setahun,” ucap Sugiaman saat ditemui IDN Times, Kamis 8 Oktober 2026.

Sugiaman menyadari di era digital, warga desa juga membutuhkan akses internet untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Manfaatnya internet gratis sangat terasa bagi warga yan sebelumnya harus merogoh koceknya untuk membeli paket data dan seharusnya bisa dialokasikan dengan kebutuhan lain.

Bayangkan dalam sebulan kalau beli kuota bisa bayar Rp100-150 ribu. Sudah berapa subsidinya di kali setaun. Bagi saya ini positif. Senang dapat bantuan internet untuk warga seperti UMKM, fasilitas umum, warga yang punya anak sekolah dan kantor desa untuk pelayanan publik. Tiap habis magrib di depan kantor desa ini banyak anak-anak muda yang datang dan kumpul untuk memanfaatkan Wifi,” ucapnya.

Apalagi di era digital ini, sudah banyak warga desanya yang memanfaatkan internet untuk berjualan. Seperti yang dilakukan Nurjanah. “UMKM jualan online di sini sudah banyak. Lumayan sudah hemat berapa kala dapat internet gratis. Mereka sangat berterima kasih dengan bantuan ini,” katanya.

Sugiaman sebenarnya berharap program ini bisa jangka panjang. Namun ia menyadari program gratis memiliki jangka waktu. “Kalau mau melanjutkan langganan seterusnya bayar. Tapi dengan konektivitas yang cepat, warga banyak yang ingin lanjut,” pungkasnya.

Program Kampung Internet diluncurkan sejak 2025 adalah kerja sama Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital dan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL). Ini jadi agenda pemerintah memerluas layanan akses internet pita lebar tetap (fixed broadband) ke wilayah perdesaan.

Tahun 2025, bantuan akses internet menjangkau 1.194 titik di 20 desa pada 9 kabupaten di 5 provinsi. Sumatra Utara mendapatkan 307 titik di Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai, terbanyak di antara provinsi lainnya.

Tahun 2026, Komdigi menetapkan kebijakan penambahan titik Kampung Internet sebanyak 1.000 titik lagi. Total titik Kampung Internet diproyeksikan mencapai sekitar 2.282 lokasi setelah penambahan pada tahun 2026.

 Beberapa wilayah prioritas Kampung Internet 2026 di Indonesia adalah Sumatra sebagai wilayah dengan kebutuhan perluasan jaringan, Kupang sebagai representasi kawasan Indonesia Timur, dan  Maluku Utara sebagai daerah dengan keterbatasan infrastruktur.

Program ini merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) peningkatan jaringan internet tetap (fixed broadband) hingga 50 persen pada rumah tangga, perluasan jaringan fiber optik hingga kecamatan  sebesar 90 persen, serta peningkatan kecepatan layanan hingga 100 Mbps pada 2029. 

Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan, saat ini fixed broadband masih 22 persen. Nantinya jika terus meningkat, masyarakat bisa menikmati layanan internet dengan harga terjangkau.

“Kita ingin ongkosnya juga semakin rendah dengan memperkuat fixed broadband, bukan cuma mobile broadband,” kata Nezar, 12 Oktober 2026.

Dengan memerluas jarngan internet, bisa menurunkan biaya berlangganan yang saat ini masih relatif tinggi. Nantinya masyarakat bisa mengakses layanan internet berkecepatan 100 Mbps dengan biaya sekitar Rp100 ribu.

“Ongkos untuk langganan internet di Indonesia itu menurut data dari ITU itu masih tinggi.  Jadi kita punya target untuk 100 Mbps paling tidak bisa bayar cuma 100 ribu,” tambahnya.

Saat ini masih terdapat sejumlah kawasan dengan populasi kecil yang belum terjangkau infrastruktur telekomunikasi. Komdigi tengah mengkaji upaya perluasan jaringan internet tetap dengan menekan biaya serta pemerataan akses internet.

 “Dengan fixed broadband kita bisa mendapatkan keuntungan aksesibilitas yang lebih luas, termasuk di sini untuk memenuhi inklusivitas, sehingga semua elemen masyarakat bisa mengakses jaringan ini dengan murah,” pungkas Nezar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Curated For You

Editorial Team

Related Article