Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
SEKUMUR_3.jpg
Warga membawa logistik donasi dari para relawan di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Aceh Tamiang, IDN Times – Desa Sekumur menjadi satu dari sekian banyak daerah di Kabupaten Aceh Tamiang yang terdampak paling parah akibat banjir pada 26 November 2025 lalu. Desa yang berada di Kecamatan Sekerak itu praktis "hilang" dari peta pemukiman karena hampir seluruh rumah warga hanyut terbawa arus.

Kini, warga yang bertahan di tenda pengungsian mulai menyuarakan keinginan mereka untuk bangkit dan tidak sekadar menunggu bantuan logistik.

Datok Penghulu (Datok Penghulu) Sekumur Sofyan Iskandar, menyampaikan bahwa masyarakatnya sudah menginginkan kembali mandiri. Dengan hancurnya 98 persen perkebunan sawit dan karet yang menjadi tumpuan hidup, warga kini sangat membutuhkan benih palawija dan padi agar bisa kembali berkegiatan dan mencari nafkah dengan pertanian.

1. Palawija membantu sumber mata pencaharian warga

Kondisi pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Kehilangan mata pencaharian membuat warga pengungsian bingung. Sofyan menegaskan bahwa warga Sekumur memiliki mentalitas yang kuat dan tidak ingin selamanya menjadi penerima bantuan bencana.

“Harapan kami kepada pemerintah untuk bisa membantu desa kami, masyarakat kami dengan bibit palawija biar bisa masyarakat kami bercocok tanam seperti kangkung, bibit bayam, bibit padi, biar masyarakat kami ada berkegiatan,” kata Sofyan dilansir dari laman Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.

2. Warga juga butuh bantuan pakaian baru menjelang Ramadan

Kondisi pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Meski logistik makanan saat ini tercukupi, warga mulai mencemaskan persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Kehilangan harta benda membuat mereka tidak memiliki pakaian yang layak untuk beribadah di tengah kondisi darurat.

“Mungkin orang bertanya tentang Kampung Sekumur, apa yang dibutuhkan, kami masyarakat Sekumur setidaknya kami menyambut bulan suci Ramadan ini kami butuh baju muslim untuk kami beribadah. Kalau sarung Insha Allah kami sudah mencukupi tapi baju Muslim untuk beribadah masih kurang,” ucap Sofyan.

3. Pemulihan fasilitas umum dan harapan hunian sementara

Kondisi pemukiman di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Hampir seluruh desa rata dengan tanah, hanya menyisakan delapan rumah rusak berat dari total pemukiman yang dihuni 276 Kepala Keluarga (KK). Saat ini, alat berat dari Kementerian PU dan BNPB telah diterjunkan untuk membersihkan lumpur serta membuka akses jalan yang tertutup.

Prioritas utama warga saat ini adalah pembersihan masjid agar shalat Jumat dan ibadah lainnya bisa segera dilaksanakan kembali. Di sisi lain, Sofyan mewakili 1.232 jiwa warganya berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan hunian sementara agar masyarakat tidak perlu menjalani ibadah puasa di dalam tenda darurat yang serba terbatas.

Topics

Editorial Team