Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar selaku Kepala OIF UMS (dok.IDN Times)
Dari amatan OIF UMSU, esok masyarakat Indonesia yang ikut ketetapan pemerintah berpotensi belum melakukan ibadah puasa. Hal ini karena posisi hilal yang belum terlihat. Meskipun begitu, pihaknya masih menanti hasil dari sidang isbat.
"Persisnya ketika matahari terbenam nanti jam 18.40 WIB, di situlah waktu kita melakukan pengamatan hilal. Nah, di jam itu, posisi hilalnya menurut perhitungan akan minus 1 derajat. Jadi, dipastikan tidak akan mungkin bisa terlihat dengan menggunakan alat apa pun. Ini menurut perhitungan atau hisab astronomis. Tapi kalau di Indonesia kan itu harus menunggu keputusan dari Kementerian Agama atau sidang isbat," beber Arwin.
Dengan hasil tersebut, diperkirakan terjadi perbedaan antara pemerintah dengan jemaat Muhammadiyah. Sebab, esok Muhammadiyah akan melakukan ibadah puasa.
"Tahun ini Muhammadiyah sudah mengubah metode atau kriterianya. Kriteria lama itu namanya wujudul hilal dan sekarang sudah berganti dengan nama KHGP atau Kalender Hijriah Global Tunggal dengan parameter global. Artinya, keterlihatan hilal atau posisi hilal di mana pun, ketika sudah memenuhi 5 derajat karena angka ini yang disepakati, maka itu sudah menjadi panduan bahwa tanggal 1 Ramadan sudah masuk. Nah, untuk awal Ramadan kali ini, ketinggian hilal 5 derajat itu sudah terpenuhi di Alaska, Amerika. Sehingga merujuk posisi hilal tersebut, Muhammadiyah menetapkan hari ini atau malam nanti itu sudah masuk tanggal 1 Ramadan," jelas Arwin.