Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hari Keadilan Ekologis di Medan, Walhi Serukan Pulihkan Sumut
WALHI Sumut menggelar aksi memperingati Hari Keadilan Ekologis, Minggu (20/9/2026). (Dok: WALHI Sumut)
  • Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis di Car Free Day Kota Medan dengan seruan “Pulihkan Sumut”.
  • WALHI Sumut menyoroti pemulihan korban bencana ekologis di sejumlah wilayah yang dinilai belum selesai.
  • Aksi ini juga mendesak penegakan hukum terhadap korporasi perusak lingkungan serta membuka ruang aspirasi masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Minggu (20/9/2026)

Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis di sela Car Free Day Kota Medan. Aksi WALHI Sumut mengusung seruan “Pulihkan Sumut”.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis dengan seruan “Pulihkan Sumut”.
  • Who?
    Sejumlah massa, WALHI Sumatra Utara, Maulana Gultom, dan Sintya Simorangkir terlibat dalam aksi tersebut.
  • Where?
    Di sela agenda Car Free Day Kota Medan, Sumatra Utara.
  • When?
    Minggu (20/9/2026).
  • Why?
    Aksi menyoroti persoalan ekologis, krisis iklim, dan masyarakat terdampak bencana ekologis yang dinilai belum pulih.
  • How?
    WALHI Sumut menggelar aksi, menyampaikan aspirasi lingkungan, dan mendesak penegakan hukum terhadap korporasi yang dinilai merusak lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Orang-orang datang ke Car Free Day di Medan untuk memperingati Hari Keadilan Ekologis. Mereka membawa seruan “Pulihkan Sumut”. WALHI Sumut bilang masih ada warga yang belum pulih setelah bencana ekologis. Mereka juga ingin korporasi yang merusak lingkungan ditindak dengan tegas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal isu lingkungan dan menyampaikan aspirasi mereka. Keterlibatan simpatisan dalam aksi menunjukkan adanya kesempatan untuk membangun kesadaran publik mengenai kerusakan alam, sekaligus memperkuat peran WALHI sebagai wadah aspirasi bagi masyarakat terdampak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times — Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis dengan mengusung seruan “Pulihkan Sumut” di sela agenda Car Free Day (CFD) Kota Medan, Sumatra Utara (Sumut), Minggu (20/9/2026).

Aksi yang diusung Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatra Utara tersebut menyoroti berbagai persoalan ekologis dan krisis iklim yang dinilai belum selesai, termasuk kondisi masyarakat terdampak bencana ekologis di sejumlah wilayah Sumut.

1. Massa soroti korban bencana ekologis yang belum pulih

WALHI Sumut menggelar aksi memperingati Hari Keadilan Ekologis, Minggu (20/9/2026). (Dok: WALHI Sumut)

Koordinator aksi, Maulana Gultom, yang juga Staf Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, mengatakan Hari Keadilan Ekologis menjadi momentum untuk merefleksikan persoalan lingkungan yang masih dihadapi masyarakat Sumut.

“Kita sama-sama tahu kalau bencana ekologis di Sumut belum beres. Di Tapanuli misalnya, belum semua korban dapat hak pemulihan. Hujan aja sedikit di sana, langsung banjir lagi,” ujar Maulana.

Menurut Maulana, pemulihan masyarakat terdampak tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan. Ia mengatakan masih terdapat masyarakat yang belum pulih dari sisi psikologis, ekonomi, maupun mata pencaharian.

“Kalau dalam narasi dan beberapa kali pidato pejabat negara, termasuk Presiden, hari ini itu katanya sudah pulih dan sudah terpulihkan. Tapi pada nyatanya, fakta di lapangan itu masih sangat banyak masyarakat yang tidakpulih secara psikologis, secara ekonomi, secara mata pencarian,” tambah Maulana.

2. Desak penegakan hukum terhadap perusak lingkungan

WALHI Sumut menggelar aksi memperingati Hari Keadilan Ekologis, Minggu (20/9/2026). (Dok: WALHI Sumut)

Maulana mengatakan negara semestinya bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan yang dinilainya semakin kritis. Ia juga menyebut kepentingan pemerintah dan oligarki sebagai faktor yang menurutnya berada di balik persoalan ekologis.

Negara, kata Maulana, sudah semestinya bertanggung jawab. “Kondisi alam dan lingkungan hidup kita sudah mencapai ambang kritis. Penyebabnya yakni pemerintah yang tamak serta kepentingan oligarki di baliknya,” ungkapnya.

Di akhir pernyataannya, Maulana berharap penegakan hukum terhadap korporasi yang dinilai merusak lingkungan dapat diperkuat.

WALHI mendesak penegakkan hukum yang tegas terhadap seluruh korporasi yang beroperasi merusak lingkungan, agar persoalan ekologis, terutama di Sumut, bisa entas. “Tobatlah kalian para penjahat lingkungan,” pungkasnya.

3. Hari keadilan ekologis jadi momentum kampanye lingkungan

WALHI Sumut menggelar aksi memperingati Hari Keadilan Ekologis, Minggu (20/9/2026). (Dok: WALHI Sumut)

Salah satu simpatisan aksi, Sintya Simorangkir, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal isu lingkungan sekaligus menyampaikan aspirasi.

“Hari ini aksi berjalan cukup menarik. Banyak kegiatan seru yang membuat masyarakat ingin tahu tentang isu lingkungan, dan menuliskan aspirasi mereka soal lingkungan di Indonesia,” ucapnya.

Sintya berharap WALHI dapat terus menjadi wadah aspirasi masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan dan mendorong kesadaran publik untuk menjaga lingkungan.

“Semoga Indonesia makin pulih dan menjadi negara yang lebih indah ke depannya, serta WALHI bisa menjadi wadah aspirasi bagi masyarakat yang terkena dampak kerusakan alam. Semoga masyarakat juga lebih sadar untuk menjaga lingkungannya,” imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article