Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Minyak Kembali Naik Capai $100 Per Barel, IHSG dan Emas Tertekan
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
  • Harga minyak dunia jenis brent naik ke level $103 per barel, menekan harga emas dan menciptakan tekanan baru di pasar keuangan global.
  • IHSG sempat menguat di awal perdagangan namun berbalik ke zona merah akibat tekanan dari bursa Asia yang masih fluktuatif.
  • Rupiah menguat ke level 16.880 per dolar AS, ditopang oleh imbal hasil US Treasury 10 tahun dan pelemahan indeks dolar AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
26 Maret 2026

Bursa saham Asia bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. AS melakukan negosiasi dengan Iran dan memberikan 15 syarat gencatan senjata, sementara jual beli serangan masih berlanjut.

26 Maret 2026

IHSG pada sesi pembukaan perdagangan menguat di level 7.313 sebelum berbalik arah ke zona merah. Rupiah menguat ke level 16.880 per dolar AS, ditopang oleh imbal hasil US Treasury 10 tahun dan kinerja USD index yang melemah dibandingkan sehari sebelumnya.

26 Maret 2026

Harga minyak mentah dunia jenis Brent naik ke $103 per barel, menekan pasar keuangan dan harga emas yang bertahan di kisaran $4.532 per ons troy atau sekitar 2,47 juta per gram.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga minyak mentah dunia kembali naik hingga mencapai sekitar 103 dolar AS per barel, menyebabkan tekanan pada pasar keuangan dan harga emas yang bergerak melemah.
  • Who?
    Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyampaikan penilaian terhadap pergerakan IHSG, nilai tukar Rupiah, serta dampak kenaikan harga minyak terhadap pasar keuangan.
  • Where?
    Kondisi pasar dilaporkan dari Medan, dengan pengamatan mencakup bursa saham di kawasan Asia dan perdagangan komoditas global.
  • When?
    Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 26 Maret 2026, saat sesi perdagangan pagi hingga siang hari di pasar keuangan Asia.
  • Why?
    Kenaikan harga minyak dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta belum tercapainya kesepakatan gencatan senjata yang memengaruhi sentimen pasar.
  • How?
    Lompatan harga minyak menekan kinerja IHSG dan emas, sementara Rupiah menguat karena imbal hasil US Treasury 10 tahun dan pelemahan indeks dolar AS dibandingkan hari sebelumnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga minyak naik lagi sampai seratus dolar. Karena itu, harga emas jadi turun dan pasar uang juga kena tekanan. Di Asia, bursa saham ada yang naik tapi ada juga yang turun. IHSG sempat naik lalu turun lagi. Rupiah malah jadi lebih kuat dari dolar. Sekarang semua orang masih nunggu kabar damai antara Amerika dan Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun pasar keuangan menghadapi tekanan akibat lonjakan harga minyak, adanya upaya negosiasi antara AS dan Iran memberikan sentimen positif yang menumbuhkan harapan akan stabilitas geopolitik. Selain itu, penguatan nilai Rupiah menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah dinamika global, membantu menahan dampak negatif pada pergerakan IHSG.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Bursa saham di Asia bergerak mixed dengan kecenderungan menguat pada perdagangan, Kamis (26/3/2026). Kabar d imana AS tengah melakukan upaya negosiasi dengan Iran, dan telah memberikan 15 syarat gencatan senjata masih menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan. Meskipun hingga saat ini jual beli serangan masih berlanjut ditengah upaya pembicaraan damai tersebut.

1. Ekonom menilai IHSG sejauh ini berbalik arah dan kembali ditransaksikan di zona merah

Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin menilai IHSG pada sesi pembukaan perdagangan menguat di level 7.313. "Meski demikian IHSG sejauh ini berbalik arah dan kembali ditransaksikan di zona merah. Tekanan yang dialami oleh sejumlah bursa saham di Asia diproyeksikan tetap akan memberi pukulan pada kinerja IHSG secara keseluruhan, jelasnya.

Sementara itu mata uang Rupiah pada sesi perdagangan pagi ditranksasikan menguat ke level 16.880 per US Dolar.

2. Penguatan Rupiah sejauh ini ditopang oleh imbal hasil US treasury 10 tahun

Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Penguatan Rupiah akan menahan tekanan yang dialami oleh IHSG, dan penguatan Rupiah sejauh ini ditopang oleh imbal hasil US treasury 10 tahun dan kinerja USD index yang relatif membukukan kinerja lebih rendah dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.

"Disisi lain pelaku pasar sendiri masih dihantui oleh kondisi geopolitik yang bisa saja memicu tekanan harga secara tiba-tiba," tambah Gunawan.

3. Lompatan pada harga minyak mentah dunia telah memicu terjadinya tekanan pada pasar keuangan dan emas

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Kondisi seperti ini memberikan kemungkinan bahwa pasar keuangan masih berpeluang alami kejutan baru. Disisi lainnya pasar komoditas juga masih berada di bawah tekanan sejauh ini. Harga minyak mentah dunia jenis brent kembali naik dan bertengger di level $103 per barel. Kenaikan tersebut membebani harga emas yang sejauh ini bertahan dikisaran $4.532 per ons troy atau sekitar 2.47 juta per gram.

"Lompatan pada harga minyak mentah dunia telah memicu terjadinya tekanan pada pasar keuangan dan emas. Pasar sepertinya masih pesimis dengan rencana damai yang diajukan AS akan diterima oleh Iran. Dan fokus pelaku pasar akan tetap tertuju pada hasil dari upaya dialog tersebut," pungkasnya.

Editorial Team