Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Cabai Merah Turun Tajam Di Sumut, Berikut Faktor Pemicunya
Potret cabai (pexels.com/@courtney-stephens)
  • Harga cabai merah di Sumut anjlok pasca Idul Fitri, dengan harga di Medan berkisar Rp19.800–Rp21.000 per Kg dan di tingkat petani mencapai Rp7–Rp10 ribu per Kg.
  • Penurunan harga dipicu panen serentak akibat mundurnya pola tanam setelah banjir besar November 2025 yang menyebabkan penumpukan pasokan pada Maret.
  • Pasokan melimpah juga datang dari Aceh serta kebiasaan petani menanam bersamaan menjelang hari besar, membuat suplai berlebih dan harga cabai jatuh tajam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
November 2025

Banjir besar melanda wilayah pertanian cabai merah dan menenggelamkan banyak areal tanam. Petani cabai terpaksa menanam ulang setelah bencana tersebut.

Februari

Pasokan cabai merah dari Aceh masih berlanjut dalam jumlah signifikan meski wilayah itu sebelumnya terdampak banjir.

Maret

Panen cabai merah yang seharusnya terjadi di awal Ramadhan mundur ke bulan ini, menyebabkan penumpukan pasokan di pasar.

libur panjang Idul Fitri

Setelah libur panjang Idul Fitri berakhir, harga cabai merah di Sumut mulai terpuruk tajam akibat kelebihan pasokan.

kini

Harga cabai merah di Kota Medan masih bertahan di kisaran Rp21 ribuan per kilogram, menunjukkan belum ada pemulihan berarti.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga cabai merah di Sumatera Utara mengalami penurunan tajam setelah libur panjang Idul Fitri, dengan harga di tingkat pedagang dan petani turun signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
  • Who?
    Petani cabai di wilayah Deli Serdang dan Aceh, pedagang pasar tradisional di Kota Medan, serta pengamat ekonomi Gunawan Benjamin yang memberikan penjelasan mengenai kondisi ini.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di sejumlah pasar tradisional Kota Medan dan area pertanian cabai merah di Kabupaten Deli Serdang serta wilayah Aceh.
  • When?
    Penurunan harga terjadi setelah berakhirnya libur panjang Idul Fitri tahun 2025 dan masih berlangsung hingga saat ini.
  • Why?
    Faktor penyebab meliputi panen serentak akibat pola tanam mundur pascabanjir, pasokan besar dari Aceh, serta kebiasaan petani menanam bersamaan menjelang hari raya untuk mengejar keuntungan.
  • How?
    Banjir pada November 2025 menyebabkan penanaman ulang cabai sehingga waktu panen bergeser. Ketika panen tiba bersamaan dari berbagai daerah, suplai meningkat drastis dan harga jatuh hingga Rp7–10 ribu per kilogram di tingkat petani.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga cabai merah di Medan sekarang jadi murah sekali. Dulu sempat mahal waktu lebaran, tapi habis itu turun banyak. Petani di Deli Serdang dan Aceh panen cabai banyak banget, jadi stoknya numpuk. Ada juga petani yang tanam bareng-bareng supaya dapat untung pas hari besar, tapi malah panennya bersamaan. Sekarang cabainya masih murah terus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penurunan harga cabai merah di Sumut menunjukkan bahwa pasokan komoditas ini melimpah setelah petani berhasil menanam ulang pascabencana dan wilayah seperti Aceh kembali produktif. Kondisi ini mencerminkan pemulihan sektor pertanian yang cepat serta ketersediaan bahan pangan yang lebih terjangkau bagi masyarakat, terutama setelah masa libur panjang Idul Fitri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Berdasarkan pemantauan melalui PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis), harga cabai merah sejak libur panjang idul fitri berakhir terpuruk cukup dalam.

Di Kota Medan harga cabai merah sempat ditransaksikan sekitar Rp19.800 per Kg, dan sampai saat ini harga cabai merah masih belum beranjak jauh dari kisaran angka Rp21 ribuan per Kg.

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin mengatakan, dari beberapa sejumlah pasar tradisional sempat menemukan harga cabai merah dijual Rp15 ribu per Kg nya, dan dari hasil wawancara langsung dengan petani di wilayah Deli Serdang, harga cabai merah di level petani sempat berada dalam rentang Rp7 hingga Rp10 ribu per Kg.

Sehingga, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan harga cabai merah. Simak berikut ini:

1. Usai bencana melanda petani cabai kembali menanam ulang tanamannya

Potret cabai (pexels.com/@jankao)

Pertama, bencana pada bulan November tahun 2025 silam telah memaksa petani cabai kembali menanam ulang tanamannya.

Banjir besar yang menenggelamkan banyak areal tanaman cabai merah memicu pola tanam yang mundur sekitar 1 bulan.

"Sehingga seharusnya banyak cabai yang bisa dipanen di awal Ramadhan, justru mundur pada bulan maret yang membuat terjadi penumpukan supply," ucapnya.

2. Banyak pasokan cabai dari wilayah aceh yang tidak bisa didistribusikan atau dijual ke wilayah lainnya

Tanaman cabai di Kabupaten Magelang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Kedua, melihat ada panen cabai merah dari klaster petani baru di Aceh. Menurutnya, ada menemukan banyak pasokan yang tetap di supply dari wilayah aceh, padahal wilayah ini sebelumnya yang paling terdampak banjir. Bahkan di beberapa waktu tertentu (saat banjir), banyak pasokan cabai dari wilayah aceh yang tidak bisa didistribusikan atau dijual ke wilayah lainnya.

"Namun, diluar dugaan pasokan cabai merah dari aceh masih berlanjut dalam jumlah signifikan pada bulan februari," kata Gunawan.

3. Kebiasaan dari petani yang tidak teroganirsir dengan baik menanam cabai

Tanaman cabai petani di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Magatan terserang patek. IDN Times/ Riyanto.

Kemudian yang ketiga, ada kebiasaan dari petani yang tidak teroganirsir dengan baik menanam cabai dengan harapan ada cuan (keuntungan) di saat perayaan keagamaan seperti Idul Fitri.

Dimana setiap petani memiliki ekspektasi yang sama terhadap kemungkinan adanya kenaikan demand atau permintaan di hari besar tertentu.

"Nah, hal tersebut yang kerap tanpa disadari menggiring petani untuk menyesuikan pola bercocok tanam, yang diskenariokan akan dipanen di waktu perayaan keagamaan tersebut terjadi. Alhasil terjadi panen serentak yang membuat supply menggunung dan memicu terjadinya penurunan harga yang sangat tajam," jelasnya.

Sehingga konsitensi dibutuhkan disini, walaupun konsistensi petani terkadang kerap terganggu oleh bencana, kenaikan harga bahan baku saprotan hingga dinamika harga yang kerap membuat petani kehilangan kemampuan bercocok tanam.

Editorial Team