Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Screenshot_2026_0211_224828.jpg
Gajah Ratna yang mati di R Zoo (dok.BBKSDA Sumut)

Intinya sih...

  • Gajah Ratna datang ke R Zoo & Park dalam kondisi tubuh kurang ideal dan punya luka menahun

  • Penyebab utama kematian Gajah Ratna adalah gangguan fungsi ginjal dan hati

  • Bangkai Ratna dikubur beberapa jam setelah dinyatakan mati, tak ada rencana diawetkan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Kabar duka datang dari Rahmat Zoo & Park. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) betina bernama Ratna yang dirawat di sana dinyatakan meninggal dunia. Kematian Gajah Ratna ini terjadi pada Sabtu (7/2/2026) lalu saat menjalani perawatan medis intensif oleh Tim dokter yang dipimpin oleh  Drh. Anhar Lubis.

Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium, serta pelaksanaan bedah bangkai (nekropsi), diketahui bahwa kematian Ratna disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal yang disertai gangguan fungsi hati serta komplikasi pada sejumlah organ vital lainnya. 

1. Kedatangan Gajah Ratna ke R Zoo & Park sudah dalam kondisi tubuh kurang ideal dan punya luka menahun

Kepala BKSDA Sumut, Novita Kusumawardani (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Kabar kematian Gajah Ratna dibenarkan oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDASU), Novita Kusuma Wardani, melalui Kabag TU, Andar Abdi Saragih. Ia mengatakan bahwa kedatangan Ratna di R Zoo & Park pada 29 September 2025 lalu sudah dalam kondisi tubuh kurang ideal.

"Ratna datang bersama tiga ekor gajah lainnya, teridentifikasi dalam kondisi tubuh kurang ideal (kurus). Selain telah memasuki kategori usia tua, Ratna juga didapati mengalami luka menahun berupa fistula (saluran tidak normal) pada telapak kaki depan kiri yang memerlukan penanganan medis khusus," kata Andar kepada IDN Times, Rabu (11/2/2026) malam.

Dalam proses perawatannya, Gajah Ratna disebut menghadapi tantangan tersendiri karena yang bersangkutan tidak mudah ditangani sebagaimana gajah lainnya. Sehingga setiap tindakan medis terhadap luka fistula dilakukan melalui prosedur pembiusan terlebih dahulu guna memastikan keselamatan dan efektivitas penanganan.

"Selama masa adaptasi di lingkungan baru, pada 30 Oktober 2025 terdeteksi adanya udema pada bagian abdomen. Pada 12 November 2025 dilakukan penanganan awal berupa pemberian vitamin dan terapi suportif, yang menunjukkan progres perbaikan secara bertahap," lanjutnya.

2. Penyebab utama kematian Gajah Ratna adalah gangguan fungsi ginjal dan hati

Gajah Ratna yang mati di R Zoo (dok.BBKSDA Sumut)

Namun demikian, pada 1 Januari 2026 terjadi peradangan kembali pada luka fistula di kaki Ratna, yang kemudian disertai pengelupasan kulit di sekitar area tersebut pada 11 Januari 2026. Berdasarkan perkembangan tersebut, Drh. Anhar Lubis dan manajemen R Zoo & Park merekomendasikan tindakan medis lanjutan karena kondisi luka dinilai belum tertangani secara tuntas sebelumnya.

"Pasca penanganan medis oleh Tim dokter gabungan, luka menunjukkan progres pemulihan, namun belum optimal. Untuk memastikan kondisi fisiologis dan fungsi organ vital, dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal," beber Andar.

Dalam masa perawatan lanjutan ini, Ratna juga mengalami penurunan nafsu makan dan minum. Sehingga dilakukan pemeriksaan darah lanjutan yang menunjukkan adanya gangguan fungsi hati.

Drh Anhar Lubis, yang memimpin tim medis yang menangani Gajah Ratna menyampaikan bahwa berdasarkan evaluasi klinis menyeluruh, hasil pemeriksaan laboratorium, serta hasil nekropsi pasca kematian, dapat disimpulkan bahwa penyebab utama kematian Ratna adalah gangguan fungsi ginjal dan hati.

"Penyakit tersebut juga disertai gangguan pada organ vital lain seperti jantung dan saluran pencernaan. Gangguan fungsi ginjal pada Ratna diduga bersifat multifaktorial, dipengaruhi oleh kondisi fisik awal yang kurang baik dan faktor usia lanjut. Kondisi tubuh yang tidak optimal diduga membatasi kemampuan organ, khususnya ginjal dan hati, dalam mengolah asupan nutrisi. Akumulasi dari berbagai faktor tersebut menyebabkan penurunan fungsi organ secara bertahap yang berdampak pada memburuknya kondisi umum hingga akhirnya Ratna tidak dapat bertahan," ungkap Drh Anhar Lubis.

3. Bangkai Ratna dikubur beberapa jam setelah dinyatakan mati, tak ada rencana diawetkan

ilustrasi gajah (Pexels.com/Tara Randolph)

Kematian Gajah Ratna sendiri turut menjadi duka. Humas BBKSDA Sumut, Rezki Indah, mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan penguburan terhadap bangkai Gajah Ratna. "Benar. Bangkai Gajah Ratna dikubur beberapa jam setelah mati," beber Rezki.

Ia mengatakan bahwa R Zoo & Park dan dokter senior yang berpengalaman dalam penanganan satwa liar, telah melakukan upaya maksimal dalam setiap tahapan penanganan medis terhadap Gajah Ratna sesuai prosedur dan prinsip kesejahteraan satwa. Rezki juga memastikan bahwa tidak ada rencana kulit dan tulang Gajah Ratna diawetkan di Gallery R Zoo & Park.

"Sampai sejauh ini tidak ada (rencana pengawetan)," pungkasnya.

Editorial Team