Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta Unik tentang Haji Misbach, Sosok Berbahaya Jadi Nama Jalan di Medan
Suasana sore di Jalan Haji Misbah, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), pada Minggu (1/6/2025). (Foto: Junaidin Zai)

MEDAN, IDN Times - Nama Jalan Haji Misbach tercantum di salah satu ruas jalan di Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Namun bagi sebagian warga yang tinggal di kawasan tersebut, nama itu tidak selalu merujuk pada seorang tokoh sejarah.

Sebagian warga justru lebih mengenali kawasan itu melalui bangunan di sekitarnya dibandingkan sosok yang namanya diabadikan sebagai nama jalan.

Padahal, nama jalan itu diambil dari Muhammad Misbach, seorang tokoh pergerakan awal abad ke-20 yang dikenal karena gagasannya yang mencoba menghubungkan Islam dengan komunisme dalam perjuangan melawan kolonialisme.

"Saya kira wajar banyak yang tidak tahu, siapa dia (Misbcah) karena literatur tentang dia masih sedikit," kata Antropologi Universitas Negeri Medan (UNIMED), Erond Litno Damanik, Sabtu (14/3/2026).

1. Haji Merah yang Berbahaya: Diasingkan ke Papua Hingga Tutup Usia

Haji Mohamad Misbach Ahmad. (Foto: Istimewa)

Muhammad Misbach lahir di Kauman, Surakarta, Jawa Tengah, pada tahun 1876. Dalam sejarah pergerakan nasional, ia dikenal sebagai tokoh yang berupaya menghubungkan gagasan Islam dengan komunisme sebagai alat pembebasan dari kolonialisme.

Ia aktif mengkritik sistem kapitalisme dan pemerintahan kolonial Belanda melalui tulisan serta aktivitas gerakan politik. Dari aktivitas tersebut, Misbach kemudian dikenal dengan julukan “Haji Merah.”

Karena aktivitas politiknya, pemerintah kolonial Belanda menganggapnya sebagai sosok yang berbahaya. Pada tahun 1926, ia diasingkan ke Manokwari, Papua.

Dalam masa pengasingannya itulah Misbach meninggal dunia. Catatan sejarah menyebutkan ia wafat akibat penyakit malaria.

2. Dinilai Sebagai Anomali dalam Sejarah Lokal

Lapangan Merdeka Tempo Dulu (sumber gambar : Wikipedia)

Meski merupakan tokoh penting dalam sejarah pergerakan nasional, keberadaan nama Haji Misbach sebagai nama jalan di Sumatera Utara menimbulkan pertanyaan bagi sejumlah peneliti sejarah.

Erond menyebutkan penamaan Jalan Haji Misbach di sejumlah wilayah di Sumatera Utara, seperti di Medan dan Kisaran, sebagai sebuah anomali dalam konteks sejarah lokal.

Menurutnya, Misbach secara historis tidak memiliki hubungan langsung dengan wilayah tersebut.

“Secara historis dia tidak punya hubungan dengan Sumatera Utara,” kata Erond.

Ia membandingkannya dengan tokoh lain seperti Tan Malaka yang pernah memiliki jejak sejarah di wilayah Sumatera Timur karena menjadi guru di daerah Sinembah, Kabupaten Deliserdang dan Kota Medan pada 1919 hingga 1921.

Sementara itu, aktivitas gerakan Misbach lebih banyak berlangsung di Pulau Jawa.

4. Sejarah yang Masih Menyisakan Pertanyaan

Lapangan Merdeka Tempo Dulu (sumber gambar : Wikipedia)

Meski berbagai dugaan telah disampaikan oleh para peneliti, hingga kini belum ada catatan sejarah yang secara jelas menjelaskan bagaimana proses penamaan Jalan Haji Misbach di Kota Medan.

Mekanisme penamaan jalan di Indonesia sendiri tidak selalu seragam. Di beberapa daerah, penamaan jalan dapat diputuskan melalui kebijakan kepala daerah seperti gubernur atau wali kota, sementara di daerah lain dapat melibatkan persetujuan lembaga legislatif.

Karena itu, sejarah lengkap mengenai bagaimana nama Haji Misbach akhirnya menjadi bagian dari peta Kota Medan masih menyisakan ruang untuk penelitian lebih lanjut.

"Literatur nya memang sangat sedikit," ujar Erond.

3. Diduga Dinamai Saat Penggantian Nama Jalan Pascakolonial

Tan Malaka (kiri) dan Soekarni (kanan) di Rengasdengklok 16 Agustus 1945. (Foto: Instagram Sejarahindonesia)

Hingga kini belum ada literatur sejarah yang secara pasti menjelaskan kapan nama Haji Misbach mulai digunakan sebagai nama jalan di Medan.

Namun Erond memperkirakan penamaan tersebut kemungkinan terjadi pada periode 1970-an hingga 1990-an. Pada masa itu, menurutnya, tokoh-tokoh yang pernah terlibat dalam gerakan anti-kolonial masih dilihat dari pkontribusinya terhadap perjuangan melawan penjajahan.

“Saya kira itu terjadi pada era 70, 80, dan 90-an. Saat itu si ‘merah-merah’ ini belum begitu kuat. Orang-orang saat itu justru melihat apa kontribusinya bagi negara,” ujarnya.

Ia juga menduga penamaan tersebut berkaitan dengan proses peng-Indonesia-an, yaitu penggantian berbagai nama jalan yang sebelumnya menggunakan istilah Belanda.

"Seluruh gedung ataupun nama jalan bukan hanya di Medan tapi di seluruh Indonesia. Istilah-istilah Belanda dihapuskan. Banyak saat itu istilah Belanda berganti,” kata Erond.

“Saya menduga nama Misbah diabadikan pada momen ini," imbuhnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team