Kondisi rumah penyintas bencana banjir di Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, usai diterjang bah pada November 2025 lalu. (Foto: Junaidin Zai)
Trauma masih membekas di benak warga Tapanuli Tengah, khususnya di Kecamatan Sorkam. Meski banjir terbaru tidak merendam permukiman mereka, ingatan tentang bencana pada penghujung 2025 membuat sebagian warga diliputi rasa cemas.
Darniwati Pasaribu (65), warga Sorkam, mengatakan kekhawatiran itu muncul setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Kalau hujan deras sekarang, rasanya sudah tidak tenang lagi. Kami selalu ingat kejadian kemarin. Walaupun kemarin tidak kena banjir, tetap saja takut,” kata Darniwati, saat dihubungi.
Menurut dia, banjir yang terjadi pada November 2025 menjadi salah satu peristiwa paling menegangkan bagi warga. Saat itu, air datang dengan cepat setelah hujan deras mengguyur wilayah pesisir barat Sumatera Utara tersebut selama berjam-jam.
Perlu diketahui, beberapa kondisi yang dialami warga saat banjir melanda Tapteng pada November 2025 lalu antara lain:
Air naik cepat pada malam hari. Warga mengatakan air mulai masuk ke permukiman beberapa jam setelah hujan deras tanpa henti, membuat banyak keluarga tidak sempat menyelamatkan barang-barang.
Permukiman warga terendam. Air menggenangi rumah-rumah di dataran rendah, terutama yang berada dekat aliran sungai dan drainase yang meluap.
Warga mengungsi secara mandiri. Sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat atau lokasi yang lebih tinggi untuk menghindari risiko banjir susulan.
Aktivitas ekonomi terhenti sementara. Pedagang kecil dan nelayan tidak dapat bekerja selama beberapa hari karena kondisi lingkungan belum pulih sepenuhnya.
Darniwati mengatakan, dampak paling berat bukan hanya kerugian materi, tetapi rasa takut yang terus menghantui.
“Sekarang kalau hujan lama, kami tidak bisa tidur nyenyak. Selalu bersiap kalau-kalau air naik lagi,” ujarnya.