Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Diskusi Film Pesta Babi di Medan, Oligarki Hutan hingga Peran Perempuan
Suasana nonton bareng Pesta Babi yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (IDN Times/Indah Permatasari Sari)
  • Diskusi film dokumenter Pesta Babi di Medan menyoroti dominasi oligarki atas sumber daya alam serta lemahnya posisi masyarakat akibat kurangnya organisasi dan keberpihakan negara.
  • Para aktivis perempuan menekankan bahwa perempuan dan anak menjadi korban utama perusakan hutan, namun juga memiliki peran penting dalam perjuangan lingkungan dan advokasi hak masyarakat adat.
  • Jurnalis dan seniman mendorong jurnalisme akar rumput serta kolaborasi komunitas sebagai bentuk perlawanan terhadap ketimpangan informasi dan upaya menjaga hutan serta kehidupan masyarakat adat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
15 Mei 2026

Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menggelar nonton bareng film dokumenter Pesta Babi di Medan, diikuti diskusi antusias antara aktivis, jurnalis, seniman, dan pegiat lingkungan. Para peserta membahas isu perusakan hutan, peran negara, serta dampaknya terhadap perempuan dan masyarakat adat.

kini

Diskusi tersebut menjadi pemantik gerakan untuk memperkuat jejaring masyarakat sipil dalam menjaga hutan dan hak masyarakat adat di tengah konflik agraria yang masih berlangsung.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Diskusi publik berlangsung setelah pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” yang membahas isu perusakan hutan, oligarki sumber daya alam, serta dampaknya terhadap perempuan dan masyarakat adat.
  • Who?
    Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) bersama aktivis seperti Mimi Surbakti, Timo Dahlia, Mafa Yulie, Awi, dan Hafiz Taadi turut hadir dan menyampaikan pandangan mereka dalam diskusi tersebut.
  • Where?
    Kegiatan digelar di Medan, Sumatera Utara, dengan peserta dari berbagai kalangan jurnalis, seniman, pegiat lingkungan, serta masyarakat sipil.
  • When?
    Diskusi berlangsung pada Kamis, 15 Mei 2026, setelah sesi nonton bareng film dokumenter “Pesta Babi”.
  • Why?
    Kegiatan ini bertujuan menggugah kesadaran publik mengenai konflik agraria, ketimpangan kekuasaan antara oligarki dan rakyat, serta memperkuat solidaritas untuk menjaga hutan dan hak masyarakat adat.
  • How?
    Acara diawali dengan pemutaran film lalu dilanjutkan diskusi interaktif; para pembicara menyoroti kasus nyata di Papua dan Tapanuli serta menyerukan penguatan jejaring gerakan akar rumput.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Orang-orang di Medan nonton film tentang hutan yang rusak. Setelah itu mereka ngobrol ramai. Ada ibu Mimi, ibu Timo, dan teman-teman lain. Mereka bilang banyak perempuan dan anak jadi susah karena hutan hilang. Ada yang sakit dan tidak bisa tanam lagi. Sekarang mereka mau kerja sama supaya hutan dijaga dan orang bisa hidup baik lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Diskusi film *Pesta Babi* di Medan memperlihatkan semangat kolaboratif antara jurnalis, aktivis, dan seniman dalam membangun kesadaran publik terhadap isu lingkungan dan peran perempuan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa ruang dialog masih hidup, dengan ide-ide kreatif seperti jurnalisme akar rumput dan performance journalism menjadi sarana positif untuk memperkuat solidaritas masyarakat sipil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Setelah nonton bareng film dokumenter Pesta Babi yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) diskusi berlangsung antusias, pada Kamis (15/5/2026).

Para aktivis, jurnalis, seniman dan pegiat lingkungan menyoroti perusakan hutan, peran negara, dan nasib perempuan di tengah konflik agraria.

1. Uang terorganisir kalah dengan rakyat terorganisir

Suasana nonton bareng Pesta Babi yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (IDN Times/Indah Permatasari Sari)

Aktivis lingkungan dan HAM sekaligus Direktur Srikandi Lestari, Mimi Surbakti, membuka diskusi dengan menyoroti ketimpangan kekuatan antara oligarki dan masyarakat.

Menurutnya uang terorganisir akan menang mengalahkan orang-orang yang tidak terorganisir.

"Tapi orang-orang yang terorganisir akan mengalahkan uang yang terorganisir juga. Karena uang tidak memiliki otak, tapi manusia memiliki otak," ujarnya.

Ia menilai film Pesta Babi memperlihatkan bagaimana satu keluarga dengan modal besar bisa menguasai sumber daya yang menyangkut hajat hidup banyak orang.

"Berapa banyak rakyat Papua? Berapa banyak rakyat Indonesia? Kenapa tidak bersatu menolak itu? Karena kita tidak terorganisir. Kita masih terpisah-pisah, terkotak-kotak. Itu yang menyebabkan oligarki menjadi berkuasa," katanya.

Mimi juga mengkritik peran negara yang menurutnya lebih berpihak pada oligarki. Ia menyinggung bantuan sosial yang justru dianggapnya sebagai bentuk pembungkaman.

"Bansos itu adalah suatu pembungkaman agar kita nggak boleh berteriak. Kalau kau ikut demo, bantuanmu ditarik," ujarnya.

Ia mencontohkan konflik di Tapanuli, di mana hutan kemenyan milik masyarakat adat dialihfungsikan menjadi HTI dan proyek geotermal.

"Di Tapanuli Utara, Banu Waji, ada ibu yang dulu bisa jual kemenyan 500 kilo setahun. Sekarang 50 kilo pun nggak dapat. Lahannya 10 hektare nggak bisa dipakai karena keluar gas beracun. Dia terpaksa sewa 1 hektare untuk bertani," kata Mimi.

2. Perempuan dan anak jadi korban utama

Suasana nonton bareng Pesta Babi yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (IDN Times/Indah Permatasari Sari)

Advokat dan aktivis perempuan Timo Dahlia menyoroti dampak perusakan hutan terhadap perempuan dan anak. Ia membandingkan kondisi di Papua dengan film Avatar.

"Kalau terjadi hal seperti ini, siapa yang paling menderita? Perempuan dan anak. Ada yang melahirkan di hutan lalu meninggal karena tidak ada tenaga kesehatan. Ini bukan lagi soal keprihatinan, tapi apa yang bisa kita lakukan," ujarnya.

Timo menekankan pentingnya strategi, baik lewat jalur litigasi maupun non-litigasi. Ia juga mengutip contoh perjuangan perempuan di Filipina tepatnya di Mindanao yang tampil di garda depan melawan proyek yang merusak lingkungan.

"Perempuan itu yang paling menderita kalau harus mengungsi, menggotong anak, ibu hamil, menyusui di hutan. Tapi justru perempuan juga yang punya daya tahan dan kearifan lokal untuk melawan," katanya.

3. Jurnalisme akar rumput sebagai cara melawan

Diskusi usai nonton bareng Pesta Babi yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (IDN Times/Indah Permata Sari)

Fotografer Mafa Yulie, yang memandu diskusi menyebut situasi saat ini membuat ruang diskusi harus dilakukan secara gerilya.

Bagi Mafa, negara memang sudah tidak baik-baik saja. Sebab, saat ini kita juga bergerilya untuk menyampaikan informasi lewat akar rumput dan diskusi kecil-kecil. Ini salah satu pilihan.

Ia menyinggung performance journalism yang dikembangkan FJPI sebagai cara menyampaikan informasi yang tidak terjangkau media arus utama.

Sementara itu, inisiator nobar sekaligus jurnalis senior Awi menjelaskan alasan menggelar pemutaran film tersebut.

"Film-film Dandhy Laksono ini selalu membongkar hal yang selama ini kita nggak tahu. Film ini media advokasi supaya kita tahu masalahnya, lalu tahu apa yang harus dilakukan," kata Awi.

Ia menyebut Pesta Babi relevan dengan kondisi di Sumut, di mana konflik antara masyarakat adat dan perusahaan masih marak.

"Hutan ini adalah supermarket bagi masyarakat. Kalau isi supermarketnya sudah hangus, mereka mau makan apa? Hutan itu jantung kehidupan," ujarnya, mengutip narasi dalam film.

Awi juga menyoroti sosok perempuan Papua seperti Yasinta Moiwend dari suku Marind, Papua Selatan, yang berani bersuara di Jakarta untuk mempertahankan hutan mereka.

"Saya menangis ketika menonton. Mereka datang dari balik gunung, dari balik hutan, ke Jakarta dengan berani berjuang membela Tanah Papua, menyuarakan aspirasi mereka. Itu luar biasa," tuturnya.

Sementara itu Hafiz Taadi, seniman dari Taman Budaya Medan (TBM) menyampaikan, apa yang terjadi pada Tanah Papua seperti yang digambarkan di film adalah perampasan dengan terang benderang. “Media harus terus menerus memberitakan ini,” kata Hafiz. Dari kacamata kebudayaan Hafiz melihat, pemerintah seharusnya tidak mencampuri semua hal.

Diskusi ditutup dengan seruan untuk memperkuat jejaring dan konsolidasi masyarakat sipil. Bagi para peserta, nobar Pesta Babi bukan sekadar nonton film, tapi pemantik gerakan untuk menjaga hutan dan hak masyarakat adat.

Editorial Team