Medan, IDN Times - Ruang publik Indonesia menjelang dan pasca Pemilu 2024 tidak pernah benar-benar sunyi. Ketegangan politik, tudingan manipulasi, hingga klaim keberhasilan demokrasi berseliweran di berbagai platform. Di tengah situasi itu, film dokumenter Dirty Vote II O3 tayang di media sosial. Sebagai sekuel dari Dirty Vote pertama yang sempat menggegerkan publik.
Sekuel yang disutradarai jurnalis Dandhy Dwi Laksono ini dinilai bukan hanya sebagai tontonan, melainkan sebagai pernyataan politik.
Dalam penelitiannya tim dosen yang diusung Ricky Ardian Putra melakukan analisis terhadap Film Dirty Vote II O3. Dalam penelitian itu, dosen Universitas Negeri Medan itu secara tegas menyebut bahwa film ini adalah cara kritis untuk berbicara tentang politik yang menunjukkan ketidaksetujuan terhadap cerita satu rezim di ruang publik Indonesia saat ini.
Penelitian dalam jurnal berjudul “Film Dokumenter Dirty Vote II O3: Bentuk Perlawanan Terhadap Narasi Tunggal Rezim” ini mengungkap sejumlah pertanyaan publik. Apakah Dirty Vote II O3 benar-benar membuka ruang demokrasi deliberatif? Atau ia justru memperkuat fragmentasi opini publik?
