Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi terserang flu (freepik.com/freepik)
ilustrasi terserang flu (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Penyakit Super Flu belum pernah dibahas bersama Pemerintah Provinsi Sumut

  • Gejala-gejala mirip dengan flu biasa, tetapi lebih parah dan bertahan lebih lama

  • Tips untuk mencegah penyebaran Super Flu

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Fenomena Super Flu saat ini sedang melanda di sejumlah wilayah di Indonesia. Seperti, wilayah Bali dan Bandung terkonfirmasi ada kasus. Untuk Kota Medan, Sumatra Utara, Dinas Kesehatan Kota Medan menjelaskan belum mendapatkan laporan masyarakat terkait penyakit Super Flu.

"Super Flu sampai saat ini belum ada yang melapor ke kita. Belum ada. Seharusnya kalau ada ditemukan, ada laporannya. Ini gak ada," kata Kepala Tim Surveilans dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Kota Medan, Zul Hasibuan pada IDN Times, saat dikonfirmasi Rabu (14/1/2026).

1. Penyakit Super Flu ini belum pernah ada dibahas bersama Pemerintah Provinsi Sumut

ilustrasi flu (pexels.com/anna)

Dia mengaku bahwa, penyakit ini diketahuinya dari media massa. Belum ada keterangan atau surat perintah dari Kementerian Kesehatan untuk memeringati atau mengimbau kepada masyarakat.

"Saya tahu dari media-media saja, secara bersurat dari Kementerian belum. Biasanya kalau ada itu disurati kita, bahwasannya ada penyakit-penyakit yang harus diwaspadai," jelasnya.

Terkait penyakit yang mewabah, dijelaskannya terakhir adalah pandemik COVID-19 yang lalu.

"Sekarang COVID-19 sudah tidak ada, karena adanya imunisasi massal. Sampai saat ini mungkin kalau yang kira-kira begitu mewabah gak ada," ungkap Zul.

Untuk kasus penyakit flu, disebutkannya tidak pernah menemukan kasus yang parah dan hanya flu biasa saja. Penyakit Super Flu ini, dikatakannya belum pernah ada dibahas bersama dengan Pemerintah Provinsi Sumut.

"Belum ada. Karena kalau ada pasti bersurat bahwasannya ada penyakit Super Flu. Tapi ini belum ada," jelasnya.

2. Gejala-gejala mirip dengan flu biasa

Pemeriksaan jemaah yang terserang flu di Makkah. (IDN Times/Yogi Pasha)

Sementara itu, dr. Rizky Ardiansyah, sebagai Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Sumatera Utara menjelaskan Super Flu, yang merupakan varian H3N2 dari virus influenza A, telah terdeteksi di beberapa provinsi di Indonesia, tetapi tidak ada laporan spesifik mengenai kasus di Medan saat ini. Lanjutnya, Super Flu ini merujuk pada varian H3N2 influenza A yang dikenal sebagai subclade K.

"Penyakit ini telah menyebar secara global sejak akhir tahun 2025. Ciri-ciri Super Flu mirip dengan flu biasa tetapi umumnya lebih parah dan bertahan lebih lama," jelas dokter Rizky.

Adapun gejala umum yang meliputi, yakni Demam, Batuk, Hidung tersumbat atau pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan dan kelelahan.

Menurutnya, gejala-gejala ini mirip dengan flu biasa, Superflu dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius pada beberapa individu, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang mendasari.

3. Berikut tips untuk mencegah penyebaran super flu

ilustrasi anak kecil terkena flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dia memberikan tips untuk dapat mencegah penyebaran Super Flu, sebagai berikut :

- Mengenakan masker: Terutama di tempat umum atau saat berinteraksi dengan orang lain.

- Mencuci tangan secara teratur: Menggunakan sabun dan air atau hand sanitizer berbasis alkohol.

- Menjaga kebersihan lingkungan: Membersihkan permukaan yang sering disentuh.

- Mendapatkan vaksin flu: Vaksin saat ini tetap efektif dalam mengurangi risiko penyakit serius akibat varian ini.

- Menjaga kesehatan secara umum: Memastikan asupan nutrisi yang baik, cukup tidur, dan berolahraga secara teratur untuk memperkuat sistem imun.

Dia mengatakan Super Flu dapat menyerang berbagai kalangan, tetapi berdasarkan data yang ada, kelompok yang paling banyak terinfeksi adalah wanita dan anak-anak.

"Di rumah sakit Hasan Sadikin di Bandung, misalnya, pasien yang dirawat terdiri dari bayi, anak-anak, dan orang dewasa berusia 20-60 tahun, dengan beberapa kasus di atas 60 tahun. Ini menunjukkan bahwa meskipun semua orang berisiko, anak-anak dan orang dewasa dengan kondisi kesehatan tertentu mungkin lebih rentan terhadap infeksi," ujarnya.

Hal yang paling penting baginya untuk masyarakat adalah tetap mengikuti perkembangan informasi dari otoritas kesehatan setempat dan nasional mengenai Super Flu.

"Masyarakat juga diimbau untuk tidak panik, karena meskipun virus ini menyebar dengan cepat, tingkat kematiannya relatif rendah dibandingkan dengan beberapa varian COVID-19. Upaya pencegahan dan kesadaran masyarakat sangat penting untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini," pungkasnya.

Editorial Team