Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ERVA_VESPA_5.jpg
Erva (berbandana putih) saat bermain dengan anak-anak di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (24/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Siang itu, Erva dan para relawan lainnya berkumpul bersama anak-anak. Mereka bermain dengan anak-anak penyintas bahala di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Dengan rompi kulit bertuliskan ‘Rock N Roll’ Indonesia bergabar tengkorak, Erva asyik bermain kuis. Dia melontar beberapa pertanyaan tentang pengetahuan agama terhadap kepada anak-anak di sana.

“Siapa yang bisa jawab, kakak kasih hadiah,” kata Erva disambut riuh anak-anak, Selasa (20/1/2026).

Satu per satu pertanyaan dijawab dengan mantap oleh anak-anak di Sekumur. Pasca bencana, Sekolah Rakyat tempat Erva berkegiatan jadi ruang aman bagi anak – anak.

Erva sendiri bukan warga Aceh. Dia berasal jauh dari Sumatra. Bontang, Kalimantan Barat asalnya.

Dia bercerita, bagaimana bisa masuk ke Sekumur. Bersama skuter Vespa-nya, Erva sudah mendatangi sejumlah titik bencana di Aceh.

Mendengar kabar bencana, Erva langsung bergegas dari Thailand ke Aceh

Erva (berbandana putih) saat bermain dengan anak-anak di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (24/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Begitu bercerita, pernyataan Erva langsung bikin terkejut. Erva harus menempuh rute yang panjang dengan vespanya menuju Aceh.

“Saya dari Thailand ke Aceh,” ujar Erva.

Ternyata, sebelum bencana terjadi, Erva sudah melakukan touring dengan skuternya ke Thailand. Begitu berada di sana, bencana terjadi. Erva mengetahui kabar itu dari  media sosial dan teman-temannya di komunitas Vespa. Dia langsung bergegas kembali ke Indonesia.

“Sebelum ke Thailand, saya sudah berkeliling Indonesia. Saya kemudian berpikir, kan teman-teman lagi kena musibah nih. Negeri kita juga lagi berduka. Masa iya saya menikmati hidup saya dengan jalan-jalan gitu. Jadi ya, saya inisiatif sendiri. Saya ke Indonesia lagi, balik ke Indonesia,” katanya.

Dari Thailand, Erva bergerak menuju Malaysia. Dia kemudian menyeberang ke Batam di Kepulauan Riau. Dia kemudian melanjutkan pelayaran ke Belawan, Kota Medan. Dia terus bergerak, hingga tiba di Aceh untuk membawa donasi pada 7 Desember 2025 lalu.

Semula, Aceh bukan tujuannya. Di awal, dia berencana berangkat ke Sumatra Barat. Lantaran, ada beberapa anggota komunitas Vespa yang terdampak banjir. Namun dia mendapat kabar jika teman-temannya sudah dalam keadaan baik.

“Teman saya kemudian menyarankan ke Aceh,” katanya.

Erva memilih Sekumur karena aksesnya yang sulit

Erva (berbandana putih) saat bermain dengan anak-anak di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (24/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Setelah berkeliling menjadi relawan di beberapa titik, Erva kemudian memilih Sekumur menjadi tujuan berikutnya. Ke Sekumur, Erva tidak sendiri. Ada beberapa kolega komunitas Vespa dari beberapa provinsi yang ikut bersamanya.

Bukan tanpa alasan Erva memilih Sekumur. Dia menjadikan Sekumur sebagai lokasi target, karena aksesnya yang begitu sulit. Desa ini juga sempat terisolir.

Saat bencana lalu, seluruh pemukiman di sana hilang tersapu banjir. Lebih dari 200 rumah yang hilang di sana.

Sampai sekarang Sekumur juga masih cukup sulit diakses. Menuju desa ini, para relawan harus menyeberangi sungai dengan perahu.

Selama di Sekumur, Erva bergabung dengan para relawan di Sekolah Rakyat. Dia membantu para guru relawan di sekolah itu. Menjadi upaya pemulihan psikologis anak penyintas bencana.

Bagi Erva, bisa membantu pemulihan psikologis anak-anak penyintas adalah kesempatan berharga. Meski perasaannya campur aduk melihat kondisi anak – anak di sana.

Dia senang bisa melihat anak-anak bermain dengan riang di Sekolah Rakyat. Bisa melupakan sejenak bencana yang berdampak parah bagi lingkungan mereka.

“Sedihnya, ya dalam hati kecil ya, melihat mereka ketawa itu sedih. Mereka nggak perlu mikir rumah mereka dulu. Nggak perlu mikir makan mereka. Tapi mereka tetap mau main,” katanya.

Pesan Erva: jangan ulangi deforestasi

Anak-anak di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, bermain kerajinan tangan manik-manik di Sekolah Rakyat, Selasa (24/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Banjir yang menerjang beberapa provinsi di Sumatra termasuk yang paling parah dalam beberapa dekade terakhir. Khususnya di Aceh dengan dampak yang paling parah.

Kerusaka lingkungan diduga kuat menjadi penyebab bahala akhir November itu. Jamak pihak mengecam kerusakan lingkungan. Termasuk Erva yang berpesan senada.

Dia mendesak pemerintah untuk menjaga hutan. Menyetop deforestasi yang terjadi secara ugal-ugalan.

“Kalau hutan kita tetap gundul, pasti bencananya bakal berlanjut. Jadi walaupun sungai kita kerok sedalam apapun, warga kita pindah dari pinggiran sungai, tapi kalau hutan tetap gundul, sampai kiamat pun banjir bandang bakal tetap terjadi. Di mana-mana pasti ada bencana, banjir itu pasti terjadi,” pungkasnya.

Editorial Team