Medan, IDN Times- Lantunan ayat Al-Qur'an mengalun lembut. Bersahut-sahutan meski tak saling tersambung. Lafalan ayat yang dibacakan berbeda dari satu orang dengan yang lainnya. Meski tidak dengan suara keras, tapi terdengar begitu syahdu. Terlihat riuh tapi menenangkan. Larut dalam khusyuk. Begitulah suasana iktikaf pada malam 27 Ramadan di Masjid Agung Medan, Selasa (17/3/2026) dini hari.
Media baca Qur'an juga berbeda-beda. Ada yang menggunakan Al-Qur'an saku maupun bentuk fisik seperti biasanya. Ada juga yang membacanya dari gawainya. Sebagian memilih beristirahat dengan tidur sebentar menunggu jadwal Tahajud berjemaah.
Masjid Agung dipenuhi ribuan jemaah yang melakukan ibadah berdiam diri di masjid itu. Tadarus Al-Qur'an, Salat Tahajud berjemaah, sahur bareng hingga Salat Subuh berjemaah menjadi kegiatan yang dilakukan.
Pantauan IDN Times, sejak usai tarawih pada Senin (16/3/2026) malam, jemaah berdatangan ke masjid yang kini punya desain baru itu. Waktu menunjukkan pukul 00.30, suasana di dalam tempat salat sudah penuh. Beberapa jemaah memilih membentangkan sajadahnya di area luar dengan lantai marmer. Masjid semakin penuh menjelang pukul 02.00 WIB. Suasana di luar masjid juga ramai karena ada sejumlah pedagang yang masih menjajakan dagangannya.
Jemaah yang datang dari berbagai kalangan usia. Menariknya, didominasi anak muda. Terutama generasi Z. Hal ini menjadi fenomena baru. Ada yang datang bersama keluarga baik Ayah Ibu hingga kakek dan nenek hingga teman-teman. Dalam satu malam ada lebih 3 ribuan jemaah tumpah ruah di Masjid Agung untuk melaksanakan ibadah di 10 hari terakhir Ramadan. Mereka datang untuk 'memburu' Lailatul Qadar yang didambakan setiap datangnya Ramadan. Padahal biasanya iktikaf tidak pernah seramai ini.
