Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bagaimana Video Game Memengaruhi Fungsi Otak? Ini Penelitiannya
ilustrasi bermain video game (pexels.com/JESHOOTS.com)

Beberapa studi telah mengungkapkan bahwa adanya keterkaitan antara aktivitas bermain video game tertentu dengan peningkatan kemampuan dalam pengambilan keputusan serta fleksibilitas kognitif. Ada perbedaan jelas pada struktur otak antara individu yang rutin bermain video game dan individu yang tidak melakukannya.

Video game terbukti dapat meningkatkan volume otak di area yang berperan dalam pengendalian keterampilan motorik halus, pembentukan memori, serta perencanaan strategis.

Terlebih lagi, video game memiliki potensi untuk berfungsi sebagai terapi dalam penanganan berbagai gangguan dan kondisi otak yang disebabkan oleh cedera otak. Selengkapnya, mari kita bahas dengan lebih detail berikut ini.

1. Video game dapat meningkatkan volume otak

ilustrasi bermain video game (pexels.com/Kampus Production)

Sebuah studi yang dilakukan di Max Planck Institute for Human Development dan Charité University Medicine St. Hedwig-Krankenhaus, menunjukkan bahwa bermain permainan strategi waktu nyata, seperti Super Mario 64, dapat meningkatkan jumlah materi kelabu otak. Materi kelabu, yang juga dikenal sebagai korteks serebral, merupakan lapisan yang melapisi bagian luar serebrum dan serebelum.

Penelitian tersebut menemukan peningkatan materi kelabu di hipokampus kanan, korteks prefrontal kanan, dan serebelum pada individu yang memainkan permainan strategi. Hipokampus berperan dalam pembentukan, pengaturan, dan penyimpanan memori, serta menghubungkan emosi dan indra, seperti penciuman dan suara, dengan ingatan.

Korteks prefrontal, yang terletak di lobus frontal otak, terlibat dalam berbagai fungsi seperti pengambilan keputusan, pemecahan masalah, perencanaan, gerakan otot sukarela, dan pengendalian impuls. Serebelum, yang mengandung ratusan juta neuron, berfungsi untuk memproses data dan membantu mengatur koordinasi gerakan halus, tonus otot, keseimbangan, dan ekuilibrium. Peningkatan materi kelabu ini berkontribusi pada peningkatan fungsi kognitif di area tertentu dalam otak.

2. Video game aksi dapat meningkatkan perhatian visual

ilustrasi bermain video game (pexels.com/Vika Glitter)

Studi menunjukkan bahwa bermain video game tertentu dapat meningkatkan kemampuan perhatian visual. Tingkat perhatian visual individu dipengaruhi oleh kemampuan otak dalam memproses informasi visual yang relevan serta menekan informasi yang tidak relevan. Dalam penelitian tersebut, para pemain video game secara konsisten menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak bermain video game dalam tugas-tugas yang berkaitan dengan perhatian visual.

Penting untuk dicatat bahwa jenis video game yang dimainkan juga berperan penting dalam peningkatan perhatian visual. Game seperti Halo, misalnya, yang memerlukan respons cepat dan perhatian yang terbagi terhadap informasi visual, terbukti meningkatkan perhatian visual, sementara jenis game lainnya tidak memberikan efek yang sama.

Ketika individu yang tidak terbiasa dengan video game dilatih menggunakan game aksi, mereka menunjukkan peningkatan dalam aspek perhatian visual. Hal ini menunjukkan bahwa game aksi dapat dimanfaatkan dalam pelatihan militer serta dalam terapi untuk mengatasi gangguan penglihatan tertentu.

3. Video game dapat membalikkan efek negatif penuaan

ilustrasi bermain video game (pexels.com/MART PRODUCTION)

Bermain video game tidak terbatas pada anak-anak dan remaja, melainkan juga memberikan manfaat signifikan bagi orang dewasa yang lebih tua. Sebuah studi menunjukkan bahwa video game dapat meningkatkan fungsi kognitif, termasuk memori dan perhatian, pada individu berusia lanjut. Hasil peningkatan kognitif ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Dalam sebuah studi, individu berusia antara 60 hingga 85 tahun yang berlatih dengan video game 3D, yang dirancang khusus untuk meningkatkan kinerja kognitif, menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan individu berusia 20 hingga 30 tahun yang baru pertama kali memainkan game tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa aktivitas bermain video game dapat membantu mengatasi sebagian penurunan kognitif yang sering terjadi seiring bertambahnya usia.

4. Hubungan antara video game dengan perilaku agresif

ilustrasi bermain video game (pexels.com/Yan Krukau)

Beberapa studi, termasuk studi yang baru saja diulas, menunjukkan bahwa bermain video game memiliki manfaat positif. Namun, ada studi lain yang mengungkapkan potensi dampak negatifnya. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam edisi khusus jurnal Review of General Psychology, melaporkan bahwa video game yang mengandung unsur kekerasan dapat meningkatkan perilaku agresif pada sebagian remaja.

Tergantung pada ciri kepribadian tertentu, remaja yang terpapar pada game-game tersebut bisa saja mengalami peningkatan perilaku agresif. Remaja yang cenderung mudah marah, mengalami depresi, kurang empati, gemar melanggar aturan, dan bertindak impulsif, akan lebih rentan terhadap pengaruh negatif dari video game yang mengandung kekerasan dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki ciri kepribadian yang berbeda.

Ekspresi kepribadian berkaitan erat dengan fungsi lobus frontal otak. Menurut Christopher J. Ferguson, editor tamu edisi tersebut, video game “umumnya tidak berbahaya bagi sebagian besar anak-anak, tetapi dapat berisiko bagi segelintir individu yang memiliki masalah kepribadian atau kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya.” Remaja yang sangat neurotik, kurang menyenangkan, dan kurang teliti cenderung lebih mudah terpengaruh secara negatif oleh video game yang mengandung kekerasan.

5. Ada studi lain terkait potensi dampak negatif dari video game

ilustrasi bermain video game (pexels.com/Alena Darmel)

Sedikit berbeda dengan studi sebelumnya, studi ini mengungkapkan bahwa bagi mayoritas pemain video game, perilaku agresif tidak berhubungan langsung dengan konten yang mengandung unsur kekerasan, melainkan lebih dipengaruhi oleh perasaan gagal dan frustrasi yang dialami.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa ketidakmampuan untuk menguasai permainan dapat memicu perilaku agresif pada pemain, tanpa memandang jenis konten permainan tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa permainan yang tampaknya tidak berbahaya seperti Tetris atau Candy Crush dapat memicu perilaku agresif yang setara dengan permainan yang dikenal memiliki unsur kekerasan, seperti World of Warcraft atau Grand Theft Auto.

Video game berpotensi memberikan dampak positif pada fungsi otak, seperti peningkatan kemampuan kognitif dan perhatian visual. Namun, dapat juga menimbulkan efek negatif, terutama pada individu dengan masalah kepribadian tertentu. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan jenis video game yang dimainkan dan ciri kepribadian pemainnya jika ingin menilai dampak dari video game.

Editorial Team