Seniman muda Aucintia Agnes R. Manik atau yang akrab disapa Aucin dalam penampilan teaternya (Dok. Pribadi)
Tantangan lain yang Aucin rasakan secara lebih personal berkaitan dengan persoalan finansial. Ia mengakui bahwa teater sangat menghidupkan sisi batinnya, memberikannya rasa, jiwa, dan kepuasan ketika melihat sorot mata yang menonton lakonnya. Namun, teater belum dapat memastikan kebutuhan hidupnya terpenuhi.
“Saya merasa hidup di teater, tetapi teater belum mampu untuk menghidupi saya,” kata Aucin realistis.
Sarjana Sastra itu mengaku harus membagi fokus kesehariannya dengan mencari penghasilan lewat pekerjaan lain, seperti menyulam dan mengajar, agar ia tetap dapat makan, tubuhnya tetap bertenaga, dan bisa terus berteater. Meski begitu, meninggalkan dunia teater sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya.
Sejak 2015 hingga kini, Aucin tetap berteater dengan penuh antusias dan semangat yang menyala. Ketika ditanya alasannya, Aucin menjawab sederhana: karena suka.
“Karena suka. Soal kenapanya, tidak bisa dijelaskan. Kalau kata orang, sih, rasa suka tertinggi itu saat dia nggak bisa menjelaskan kenapa,” ujarnya.
Aucin memandang teater bukan sekadar sebagai panggung hiburan, tetapi medium untuk mengekspresikan kompleksitas hidup manusia. Teater mampu menampilkan realita kehidupan yang rumit, berbagi rasa dan makna dengan penonton, hanya dalam satu pertemuan singkat berdurasi tiga puluh menit. Menurutnya, itu adalah keunikan dari teater.
Pada 14 Februari 2026 mendatang, Aucin akan kembali ke gema panggung lewat pementasan Atma Loka 2026, dengan membawakan naskah monolog “Bias Lampu Kota” karya Ahmad Munawar Lubis. Monolog ini menuturkan gambaran perempuan dalam berbagai fase kehidupan; sebagai istri, pekerja, anak, kekasih, dan ibu yang bergulat dengan ketegangan batin, luka masa lalu, serta penilaian sosial yang kerap timpang.
Monolog ini merangkai pengalaman personal dan sosial sebagai satu kesatuan, menegaskan bahwa kebahagiaan, martabat, dan cinta tidak dapat diukur dari uang, kuasa, atau validasi luar, melainkan dari kesadaran, pilihan, dan keberanian perempuan untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Pementasan ini menjadi kelanjutan dari perjalanan sunyi yang akan terus ia geluti.