Bungkusan MBG untuk para siswa SMA Negeri 2 Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Kenaikan harga komoditas tersebut terpantau naik sejak ada peningkatan jumlah SPPG dikuartal ke 4 tahun 2025, dan masih akan berlanjut bahkan dengan angka yang mencapai 3 kali lipat di tahun 2026. Tantangan utama adalah kemampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan berupa beras, daging ayam, daging sapi, telur ayam hingga ikan.
"Hal yang paling utama adalah pemerintah harus bisa memastikan bahwa bahan pangan tersebut harus tersedia cukup. Cukup disini sebaiknya bukan hanya diukur dari ketersediaan bahan bakunya saja. Namun cukup juga berarti tidak ada gejolak harga (naik) yang ditimbulkan dari ketersediaan tersebut. Caranya dengan membandingkan realisasi harga di masyarakat dengan harga keekonomiannya," sambung Gunawan.
Kedua, pemerintah harus turut memikirkan kemungkinan adanya produk sisa dari pemenuhan kebutuhan untuk lauk. Karena pemerintah sejauh ini hanya memenuhinya dengan menghadirkan bagian utamanya seja sebagai komoditas MBG. Seperti daging sapi, daging ayam, serta daging ikan (fillet). Padahal dalam satu ekor sapi itu ada karkas yang terdiiri dari jeroan (usus), tulang, kulit, jantung, hati, babat, paru, kaki, kepala hingga ekor.
Demikian halnya juga dengan daging ayam tetap memiliki karkas, sementara yang dijadikan menu bagian dagingnya saja. Ikan fillet juga demikan ada bagian kepala dan duri yang harus dibuang saat dampur MBG hanya membutuhkan dagingnya saja. Padahal karkas tadi merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak. Dan tidak selamanya karkas bisa menciptakan pangsa pasarnya sendiri, sehingga over supply pada karkas akan mendorong kenaikan harga jual daging sapi, ikan dan ayam.